Pesanan ayam bakar untuk Kai sudah datang. Dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sementara Kai baru saja makan setelah sekian lama bergelut dengan pekerjaannya.
Krystall memperhatikan sang suami yang tengah menyantap makan malamnya dengan lahap, jelas sekali terlihat kalau laki-laki itu tengah kelaparan dan kelelahan, Krystall jadi tidak tega jika meminta untuk menyicip sedikit ayam bakarnya.
Semenjak berbicara dengan Airin kemarin, Krystall sebenarnya sudah tidak marah lagi pada Kai, ia juga ingin meminta maaf pada sang suami karena sikapnya yang sudah meninggikan suara dan membentak Kai. Bagaimanapun juga pertengkaran itu dimulai karena dirinya yang berjalan berdua bersama Leo. Tapi rasa gengsi ibu hamil satu ini entah kenapa semakin tinggi. Semenjak hamil anak pertamanya dengan Kai, entah kenapa egonya semakin melambung tinggi.
"Kamu mau?"
Krystall terhenyak, dan buru-buru menyadarkan dirinya. "Enggak, kamu aja."
"Aku lupa nawarin kamu, tadi aku bilangnya kita makan berdua, kan? Pantes aja kamu ngelihatin aku sampai ngeces gitu," kata Kai tiba-tiba sambil tersenyum tipis.
"Siapa yang ngelihatin kamu sampai ngeces, sih!?" nah kan? Baru saja ingin minta maaf, tapi mode galaknya keluar lagi.
Semenjak hamil, Krystall kalau bicara suka sekali membentak dan meninggikan suaranya. Ah satu lagi, jangan lupakan mode menyebalkannya yang bertambah berkali-kali lipat. Hilang sudah kesan polos dan lembut di wajah wanita itu.
"Ya udah kalau enggak. Biasa aja kali, jangan ngegas terus. Kasihan anak kita tiap hari dengan bundanya ngegas. Jangan-jangan nanti kalau besar jadi pembalap lagi," ledek Kai.
Krystall memutar kedua bola matanya malas. Seharusnya ia sudah tahu kalau Kai sejak dulu tidak akan bisa diajak bicara serius.
"Tau ah!" lalu langsung memunggungi Kai.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Dokter beserta dua orang perawat masuk ke dalam untuk mengecek kondisi kandungan Krystall.
"Malam, Bu Krystall," sapa dokter laki-laki itu ramah.
Tunggu.
Kenapa dokter kandungannya laki-laki? Bukankah dokter yang menangani Krystall itu seorang perempuan?
"Saya dokter Revan, dokter jaga yang menggantikan dokter Cantika untuk tiga hari ke depan," ujar dokter Revan seolah mengerti dengan raut wajah Kai.
Krystall hanya manggut-manggut. Ah kalau dokternya setampan ini Krystall akan betah dan cepat sembuh.
"Biasanya dokter Cantika. Kenapa bukan dokter Cantika?" serobot Kai dengan nada pertanyaan tidak suka.
Jelas tidak suka lah! Krystall masih sangat muda, dan dokter ini tampan, sepertinya lebih mudah dari Kai yang sudah tiga puluh dua. Sangat bahaya jika Krystall tertarik pada dokter tampan yang usianya dibawah Kai!
"Suami dokter Cantika sakit pak, gak ada yang jagain. Makanya beliau minta cuti selama tiga hari," jawab dokter Revan dengan senyuman.
Sial! Dokter Revan senyum lebar, bisa-bisa Krystall naksir!
"Bisa saya periksa sekarang?"
Krystall mengangguk menyetujui. Anggukannya antusias sekali!
Selama dokter Revan memeriksa Krystall, mata Kai tidak lepas dari Krystall. Bahkan di dalam hatinya ia terus menggerutu tidak suka saat dokter Revan menyentuh perut sang istri.
"Masih belum bisa bergerak, ya. Tapi sudah bisa jalan-jalan pakai kursi roda kalau bosan di kamar."
"Kalau jalan ke kamar mandi, udah boleh belum dok?" tanya Krystall. Mengingat perdebatannya dengan Kai tadi saat ia hendak buang air kecil.
"Kalau itu belum boleh ya, Bu," jawab dokter Revan lagi. "Ibu masih harus bedrest total kandungan ibu masih lemah. Ini harusnya pakai kateter, ya?"
"Iya kemarin sempat pakai dok, tapi cuman setengah hari. Malamnya ibu Krystall minta tanda tangan surat penolakan pemasangan kateter," perawat di sebelah dokter Revan menjawab.
"Kenapa gitu, Bu?" Dokter Revan kembali bertanya pada Krystall.
"Gak mau, aneh kata dia," serobot Kai.
Baru Krystall hendak membuka bibirnya, Kai sudah menjawab seperti itu. Akhirnya Krystall mendelik kesal pada suaminya.
"Oh ... Terus di gendong sama suaminya ke kamar mandi?"
Krystall mengangguk. "Iya dok, tapi kalau dia lagi kerja saya dibantu perawat."
"Ohh ..." dokter Revan mengangguk. "Ya sudah, ibu Krystall cepet sembuh, ya. Ingat jangan setres supaya janinnya kuat. Buat suaminya, semangat gendong ya pak." Kata Dokter Revan dengan candaan.
Kai mulai geram, ia sempat mengumpat beberapa kali saat dokter Revan keluar dari ruangan itu.
"Seneng kamu dapet dokter muda ganteng kayak gitu?"
"Ya senenglah, cuci mata," jawab Krystall nyeleneh. Biar saja, biar Kai tahu diri kalau dirinya sudah tua!
"Besok pagi aku mau ganti dokternya! Kamu lihat aja!"
Mata Krystall langsung membulat dengan rahang terbuka lebar. "Kamu apa-apaan, sih!"
"Aku gak mau kamu disentuh-sentuh sama dokter cowok! Apalagi dia tadi raba-raba perut kamu, itu anak aku!" seru Kai berapi-api.
"Ya ampun kak! Yang bilang ini bukan anak kamu juga siapa? Kamu yang buat kok di atas badan aku kan kamu! Yang ngeluarin s****a dengan sengaja di dalem perut aku juga kamu! Itu cuman diperiksa doang perut aku, kalau gak di raba di sentuh gimana caranya? Mau lewat mata batin? Mana bisa! Kamu jangan berlebihan gitu!"
"Apa!? Berlebihan? Kamu bilang aku berlebihan!? Yaudah kalau bisa besok pagi kita sekalian pindah rumah sakit aja! Terus cari dokter cewek gak usah pakai Dokter cowok, apalagi yang muda-muda! Enak aja dia nyentuh dan liat perut kamu! Lihat aja nanti setelah kamu sembuh aku hapus bekas tangan dia di perut kamu!"
Krystall mendesah pasrah, dia pikir hanya dia yang cemburunya menjadi-jadi setelah menikah. Ternyata Kai melebihi dari itu. Cemburu tidak pada tempatnya! Mana pula menyebalkan, keras kepala, semaunya dan tidak bisa dibantah!
Sudahlah, lebih baik Krystall tidur saja daripada mendengar ocehan Kai yang tidak ada habisnya perkara dokter Revan yang mengusap perut Krystall.
****
Huh! Pasutri satu ini baru beberapa Minggu nikah tiap hari kerjaannya berantem terus.
Ada yang pusing juga sama mereka?
Berikan cinta kalian untuk penulis ya ❣️