Hari ini Krystall sudah diizinkan untuk pulang setelah rawat inap selama dua Minggu di rumah sakit. Kai benar-benar menemani sang istri sampai rela mengambil cuti hanya demi menemani Krystall di rumah sakit. Tidak rela lebih tepatnya karena ternyata dokter Revan yang tampan dan muda itu masih menggantikan dokter Cantika untuk menangani Krystall hingga hari terakhir wanita itu berada di rumah sakit karena kini giliran anak dari dokter itu yang masuk rumah sakit hingga menyebabkan dirinya masih harus cuti untuk merawat sang suami dan sang anak.
"Kak, besok jangan bolos lagi kerjanya! Aku gak apa-apa kok sendiri."
"Yakin?" Kai baru saja masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tas dan barang-barang milik Krystall selama di rumah sakit.
"Iya! Besok juga aku mau ke kantor papa lagi buat ngasih tahu kalau aku mau resign. Waktu itu kan gak jadi ketemu karena papa lagi meeting di luar sana klien."
"Yaudah, sebelum ke kantor aku temenin kamu dulu," sahut Kai kemudian.
Krystall mendengus. Ia pikir Kai akan berubah setelah pertengkaran fatal mereka kemarin, tapi ternyata suaminya itu tetap saja cemburuan dan tidak mempercayainya.
"Aku cuman mau anterin karena kamu lagi hamil, perutnya udah besar itu." Kai mencoba meluruskan, karena menyadari raut wajah sang istri yang tidak biasa.
"Nanti kalau ketemu Leo kamu marah-marah lagi kayak kemarin," dengus Krystall.
Kai menoleh dengan senyuman, lalu menghampiri Krystall yang sedang duduk di pinggiran ranjang. "Ya enggak lah, sayang. Aku gak mau kejadian kemarin keulang lagi." Ujar Kai sambil mencium kening Krystall.
"Belajar untuk gak berpikiran buruk tentang aku? Gak emosian? Dan jadi lebih sabar?"
Kai mengangguk yakin.
"Nah gitu dong!" Krystall menarik tengkuk Kai lalu menciumnya sekilas. "Kalau gini kan aku jadi makin sayang!"
"Oh jadi kemarin-kemarin sayangnya gak banyak?" tanya Kai dengan kedua alis tertaut.
Sepertinya kini sifat usil Kai menular ke Krystall. Karena setelah mengatakan itu, Krystall langsung tersenyum miring dan meledeknya. "Hm ... Kayaknya."
Akhirnya gelitikan kecil Kai berikan pada kedua pinggang sang istri. Membuat Krystall tergelak kencang hingga terlentang di atas ranjang.
"Geli, kak..." keluhnya.
Tawa Krystall semakin terdengar kencang saat tangan Kai semakin terasa geli di pinggangnya. "Iya ... Ampun ... Aku gak becanda gitu lagi, deh."
Kai merangkak, masih tangannya yang memegang pinggang sang istri, tapi kali ini bukan sebuah gelitikan melainkan sapuan lembut yang ia berikan. "Tapi aku gak mau lepasin kamu."
Karena sudah merasa tidak ada lagi gelitikan di pinggangnya, Krystall membuka mata lebar-lebar. Dan ternyata tangan Kai sudah merangsek masuk ke dalam dress yang ia gunakan.
"Kak ..." Krystall mengerjap pelan. "Belum boleh ..."
Napas wanita itu memburu cepat kala tangan Kai sudah menemukan dua gundukan favoritnya. Dadanya naik turun seirama tangan Kai yang meremas pelan kedua p******a miliknya.
Kai menatap wajah teduh sang istri yang begitu kelihatan cantik dan seksi dari atas tubuhnya. Bibir Krystall terbuka sedikit untuk meraup oksigen karena kelelahan tertawa. Entah sudah berapa lama mereka tidak menyatu? Ahh sepertinya baru dua Minggu. Tapi ... Kenapa rasanya sangat lama bagi Kai?
"Baru dua Minggu, aku udah kangen," Kai mencebik sambil menggeser tubuhnya ke samping Krystall. "Kamu sih, ngangenin."
Krystall terkekeh. "Sekarang bilang ngangeni, kemarin aja pas marah bilang aku nyebelin." Lalu memiringkan tubuhnya menghadap Kai. "Sabar, kata dokter kandungannya masih belum kuat."
"Iya ... Aku juga gak mau terjadi yang aneh-aneh sama dedek bayinya," ujar Kai sambil terlihat biasa saja padahal sesuatu di bawah sana sudah meronta minta di puaskan.
Krystall buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum Kai berubah pikiran dan berakhir menggila. "Kamu laper, gak? Aku buatin makanan, ya?"
"Kan katanya gak boleh banyak aktivitas dulu. Udah mending delivery aja."
Kai baru akan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Membuat Kai beranjak dan terduduk bingung.
"Siapa yang Dateng?" gumamnya pada diri sendiri tapi masih bisa didengar oleh Krystall.
"Apa jangan-jangan mama?"
"Kalau mama atau papa, mereka pasti ngabarin kita," sahutnya lalu melangkah turun ke lantai satu dan berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
"Woooiii ..." tarikan nyaring itu yang pertama kali Kai dengar ketika pintu ia buka.
"Hello, my friend!"
Kai langsung berdecak sebal dengan wajah malas sambil memutar kedua bola matanya jengah begitu mendapati kedua sahabatnya berdiri di depan rumah dan datang tanpa diundang.
"Tamu spesial Dateng nih, gak disuruh masuk dulu gitu?" celetuk Axel.
"Tahu, nih. Rumah gede mentereng gini tapi pemiliknya songong banget!" tambah Kevin, Aksa tidak ikut, katanya sedang mengantar mamanya belanja bulanan. Sementara David tengah mengurus anaknya yang sakit.
Ya ampun! Kai benar-benar sedang tidak ingin diganggu oleh dua makhluk aneh ini sekarang! Tidak tahukah mereka bahwa adik Kai di bawah sana masih terbangun.
Belum sempat mengeluarkan sumpah serapahnya, tubuh Kai tiba-tiba terdorong masuk ke dalam saat kedua laki-laki aneh itu merangsek masuk ke dalam rumahnya.
"Eh, ada Krystall," sapa Excel saat mereka bertemu dengan Krystall di ruang tengah.
Wajah Krystall mendadak menjadi kaku, Krystall merasa canggung, karena terakhir mereka bertemu adalah saat hari pernikahannya dengan Kai.
"Krystall, kabarnya gimana?" kali ini Kevin yang bertanya.
Krystall tersenyum kaku. "Baik, kak."
"Wah ... Lo bentar lagi lahiran apa gimana?" Excel mengatakannya dengan nada usil, membuat Krystall semakin malu untuk menjawab.
"Belum kak, baru empat bulan. Ayo kak, kalian masuk dulu, duduk di sini. Aku buatin minum dulu."
"Jangan, Kryss..." Kai menyela. "Kamu istirahat aja di kamar. Mereka nanti biar ambil atau buatin minum sendiri di dapur." Titahnya karena tidak ingin sang istri kelelahan dan berujung fatal pada kehamilannya.
"Kak tapi ...—"
"Udah gak apa-apa," sela Kai lagi. "Mereka gak penting-penting amat, kok."
Wajah Excel dan juga Kevin langsung berubah kecut. "Yee si kambing! Dulu aja Lo pas ditinggalin sama Krystall gue yang Lo cari!" Sambar Excel kesal.
Sementara Kevin hanya terkikik di sebelahnya.
"Diem dulu, Vin! Lo bacot Mulu dari tadi! Bini gue baru sembuh, baru keluar dari rumah sakit. Bahaya kalau banyak gerak!" Kai langsung melotot tajam ke arah Kevin, yang sontak membuat laki-laki itu bungkam.
"Kamu lebih baik masuk aja, ya?" Kai menggiring Krystall masuk ke dalam kamar mereka.
Kai terpaksa melakukan itu karena tidak mau sang istri mendengar percakapan tidak bermutu dan tidak penting dari mereka. Dan pembahasannya pun tidak jauh-jauh dari s**********n. Demi keberlangsungan rumah tangganya, mau tidak mau Kai harus membawa Krystall ke dalam kamar agar istrinya itu tidak kembali salah paham.
****
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️