Waktu dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP, dokter bilang bahwa Krystall harus bedrest total di rumah sakit selama kurang lebih dua Minggu. Itu semua dilakukan karena benturan pada kandungannya ketika terpleset waktu itu cukup keras, dan kandungan Krystall harus dalam pengawasan dokter.
Sudah empat hari Krystall di sana dan wanita itu merasa sangat bosan. Setiap pagi ia akan ditemani oleh Anita dan juga Raisa, lalu sorenya Airin menggantikan Raisa berjaga karena Raisa harus menyiapkan makan malam untuk Cahyadi. Lalu malamnya giliran Kai yang berjaga. Cahyadi dan juga Arash datang untuk menjenguk sang anak dan menantu.
Setiap malam Kai akan selalu membawa pekerjaannya ke sana. Laki-laki itu akan sibuk dengan dokumen-dokumen pekerjaannya, sementara Krystall hanya berbaring memunggungi Kai tanpa mau melihat wajah laki-laki itu.
Tapi mengetahui Kai yang selalu bekerja sambil menjaganya membuat hati Krystall sedikit luluh. Apalagi saat melihat wajah sang suami yang lelah tapi masih tetap menjaganya tanpa mengeluh apapun.
Semarah apapun Krystall, ia tetap tidak tega.
"Kamu udah makan?"
"Belum." Kai menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa dokumen di tangan.
"Kenapa?" tanya Krystall lagi.
"Gak sempat."
Dengusan kesal keluar dari bibir Krystall. "Disempat-sempatin dong makannya! Aku lagi sakit kayak gini kalau kamu sakit juga siapa yang urusin!?"
Apa yang dikatakan Krystall memang ada benarnya. Kalau Kai sakit laki-laki itu tidak ada yang mengurus karena Krystall diharuskan bedrest total selama dua Minggu.
"Iya, nanti aku makan," jawab Kai, masih tidak mengalihkan atensinya dari dokumen-dokumen dan layar laptop di depannya.
Krystall benar-benar kesal. Bahkan saat dirinya sudah mau menatap wajah laki-laki itu, suaminya malah sibuk menatap dokumen-dokumen dan layar laptopnya.
"Kamu mau makan apa?"
Akhirnya. Satu pertanyaan itu mampu membuat Kai mengalihkan atensinya. Wajah Kai langsung terangkat menatap wajah sang istri.
"Makan mekdi kayaknya enak, ya?" jawab Kai setelah berpikir beberapa detik.
"Jangan!" larang Krystall. "Jangan junkfood, gak sehat."
"Itu kamu tahu gak sehat. Terus kenapa masih minta aja kemaren?"
Tck! Krystall berdecak Krystall. Apa perlu membahas kesalahannya yang tempo hari disaat dirinya sudah mau berdamai dengan suaminya itu? Kai memang sangat suka memulai perdebatan dengan dirinya.
"Jadi kamu mau aku pesenin makanan gak?" tanya Krystall lagi.
Kai hanya mengedik santai. Selalu saja seperti itu, setiap Krystall sudah mulai kesal dengannya, Kai akan mengedik santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayam bakar aja, gimana?" tawar Krystall.
"Boleh, nanti aku makannya berdua sama kamu." Kai menyahut lalu kembali fokus pada dokumen-dokumen dan layar laptop miliknya.
Beberapa menit suasana kamar Krystall begitu hening, hanya ada suara saluran televisi yang sedang krystall tonton.
Detik selanjutnya Krystall merasa kandung kemihnya sudah mulai penuh. Sebenarnya dokter menyarankan dirinya untuk menggunakan kateter agar tidak perlu bergerak dan berjalan ke kamar mandi. Tapi Krystall merasa agak aneh dan sedikit sakit jika menggunakan itu ketika buang air kecil, itulah kenapa ia meminta pada perawat untuk melepas selang kateter urine miliknya dan ingin berjalan saja ke kamar mandi jika ingin buang air kecil.
"Kak ..."
"Hem?" Kai menyahut tanpa melihatnya.
"Aku mau pipis."
Mendengar itu tentu membuat Kai langsung menghentikan aktivitasnya. Ia letakkan semua dokumen dan laptop ke atas meja, lalu beranjak dari duduknya menghampiri Krystall. Dengan lengan yang sudah ia gulung sampai siku dan dua kancing teratas kemeja yang sudah ia buka, Kai mengambil infus yang tergantung di tiang infus lalu menyerahkannya pada Krystall untuk dibawa kemudian membawa Krystall ke dalam gendongannya dengan hati-hati untuk di bawa ke kamar mandi dan mendudukkanya di kloset dengan hati-hati.
Untuk beberapa saat Kai hanya diam sambil berdiri dan memperhatikan Krystall yang duduk di sana.
"Ngapain di situ?" tanya Krystall bingung.
"Nungguin kamu, lah. Ngapain lagi?"
Kedua alis Krystall terangkat. "Aku mau pipis ih! Kamu ngapain nungguin."
"Takut kamu butuh sesuatu."
Kai mengatakan itu tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya. Hingga membuat Krystall mendengus sebal.
"Enggak ih! Masa aku pipis kamu lihatin!"
Wajah Kai merengut heran. Mereka sudah suami istri, memang ada yang salah dari menunggu sang istri buang air kecil disaat sakit begini? Lantas jawaban Kai selanjutnya benar-benar membuat Krystall jengkel. "Loh emang kenapa? Kamu pelepasan aja aku lihatin terus, masa cuma pipis kamu malu?"
"Ihh, kak!" seru Krystall. "Yakan itu beda!"
"Sama aja, sayang."
Wajah Krystall langsung merona saat mendengar kata sayang terlontar dari bibir sang suami. Ah ... Kai memang selalu tahu cara merayu perempuan.
"Enggak, ih! Kalau kamu gak keluar aku gak pipis, nih!"
"Ya biarin. Palingan juga kamu ngompol."
Krystall menggeram kesal. "Gak mau! Kamu keluar ih!"
"Buruan, nanti perut kamu sakit. Aku udah lihat semua punya kamu luar dalem dari sebelum kita nikah, jadi gak usah malu." Celetukan konyol dari Kai itu justru semakin membuat wajah Krystall memerah.
Astaga! Kenapa suaminya ini sangat menyebalkan, sih!?
"Gak mau!"
"Buruan, Kryss. Kerjaan aku masih banyak."
"Bodo! Aku gak mau pipis kalau kamu belum keluar!" Krystall bersedekap dengan wajah cemberut.
"Yaudah, sini aku bukain celananya."
"Kak ..." rengek Krystall yang malah terlihat semakin menggemaskan di mata Kai.
Huh! Memang dasar mereka berdua ini dari sebelum menikah sampai sekarang akan punya anak adalah pasangan yang paling ribet dan absurd! Masalah pipis saja harus diributkan seperti ini.
"Ya udah, aku tunggu di depan pintu kamar mandi. Tapi kalau ada apa-apa kamu teriak, ya?"
Krystall mengangguk. "Iya."
Kai akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dan menunggu di depan kamar mandi. Akhirnya, Krystall bisa buang air kecil tanpa harus menahan lebih lama lagi.
Entah seperti apa rumah tangga yang sesungguhnya, karena rumah tangga mereka baru saja jalan dua minggu. Tapi apapun itu Kai akan selalu berusaha menjadi suami yang terbaik untuk Krystall. Begitu juga sebaliknya, Krystall akan berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya itu. Dan mereka berdua akan selalu punya cara untuk menghangatkan kembali rumah tangga mereka.
****
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️