Kai tidak bisa menghentikan laju kakinya. Ia terus saja mondar mandir di ruangan IGD di depan salah satu bilik tempat di mana Krystall di periksa. Kedua orang tua Kai dan Krystall pun sudah ada di sana, termasuk Airin.
Sudah hampir dua jam mereka menunggu Krystall yang tengah ditangani oleh dokter dan perawat di dalam sana, tapi salah satu dari mereka belum ada yang kelihatan juga. Dan itu sukses membuat Kai terkurung dalam rasa bersalah yang semakin besar.
Kai sungguh sangat tidak bisa tenang sekarang, ia ingin menyentuh istrinya, membawanya ke dalam dekapan dan membisikkan kata maaf. Beberapa jam sejak Krystall masuk IGD benar-benar membuatnya gila, seharusnya ia tidak kelewatan seperti tadi. Seharusnya ia bisa menjaga emosinya.
Tirai di bilik tempat Krystall diperiksa akhirnya terbuka, Kai lantas langsung menghampiri dokter itu dan disusul oleh yang lain.
"Gimana keadaan istri saya, dok?" tentu pertanyaan itu yang pertama kali Kai tanyakan. Satu pertanyaan yang mewakili perasaannya saat ini.
"Ibu Krystall masih lemah, setelah siuman nanti bisa langsung pindah ke ruang rawat inap. Hanya saja ..." ada jeda dalam kalimat dokter itu, membuat Kai merasa kakinya melayang. Tidak. Krystall dan calon anaknya tidak boleh kenapa-kenapa.
'Please, jangan kabar buruk!'
"Kita hampir saja kehilangan janinnya. Beruntung ibu Krystall segera dibawa ke rumah sakit."
"Ya Tuhan!" Anita langsung menjerit takut, sementara Raisa bahunya langsung dipegangi oleh Cahyadi.
"Untuk selanjutnya, tolong jaga ucapan dan nada suara. Jangan buat ibu Krystall stres atau kelelahan."
"Apa kita boleh lihat anak saya, dok?" tanya Cahyadi khawatir.
Bahu Kai merosot lemah. Apa yang sudah dia lakukan? Hingga istri dan calon anaknya berada dalam bahaya dan dia hampir saja kehilangan mereka berdua.
"Silahkan. Ibu Krystall sudah bisa dijenguk, tapi jangan terlalu banyak orang, ya. Supaya ibu Krystall tingkat stresnya berkurang karena kita masih memantau kondisi janinnya."
Setelah berpesan seperti itu, dokter dengan name tag Cantika itu pergi berlalu meninggalkan mereka.
"Kai yang masuk ke dalam ya Ma?" pinta Kai pada Anita dan juga Raisa.
Dan setelah mendapat persetujuan dari keduanya, Kai buru-buru masuk ke dalam sana. Ia bisa melihat Krystall terbaring lemas di atas bed pasien dengan selang infus yang tertancap di tangan kanannya.
Kai merasa menjadi laki-laki yang sangat bodoh karena sudah membuat Krystall dalam bahaya seperti saat ini. Seharusnya ia tidak mengata-ngatai Krystall, harusnya dia tidak mencurigai Krystall kembali dengan Leon sementara Krystall saja tengah mengandung buah cinta mereka lalu bertindak kekanak-kanakan pada istrinya hingga memperlakukannya seperti tadi.
"Sayang ..." panggil Kai pelan, Kai juga mengusap wajah Krystall lembut. "Maafin aku, ya? Maaf udah nuduh kamu yang enggak-enggak dan marah sama kamu."
Kai meneteskan air matanya. Ahh kira-kira kapan terakhir laki-laki itu menangis? Oh saat ia kehilangan Krystall dimana waktu itu membawa Krystall ke Bandung dan menyembunyikan Krystall di sana! Lalu hari ini air matanya tumpah lagi dengan kasus yang berbeda tapi menangis wanita yang sama.
"Aku sayang kamu, Kryss ..." isakan itu terdengar cukup pilu, hingga membuat jemari Krystall bergerak. Sepertinya istrinya itu akan siuman.
Perlahan Krystall mulai sadar, matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"Sayang ... Kamu —"
"Aku gak mau lihat wajah kamu, kak," adalah kata pertama yang Krystall ucapkan setelah siuman.
****
Sikap Krystall ketika siuman tadi bisa dibilang hal yang wajar. Sudah sepantasnya Kai mendapatkan penolakan dari Krystall. Apa yang ia lakukan memang cukup keterlaluan. Dan sekarang, ia tidak bisa memberikan protes dalam bentuk apapun saat hal yang pertama ia lihat ketika Krystall dipindahkan ke ruang rawat inap adalah punggung wanita itu.
Krystall sedang tidak ingin melihatnya. Wanita itu masih mengingat pertengkaran mereka di dalam mobil, dan juga bentakan Kai saat mereka tiba di rumah. Krystall tidak bisa melupakan itu. Karena gara-gara itu Krystall hampir saja kehilangan janin dalam kandungannya.
"Kryss, makan yuk ..." Kai membujuk, tapi Krystall masih tetap seperti tadi. Diam dalam posisinya. "Sayang ..."
Kai menghela napas frustasi. Sudah dua hari Krystall tidak mau diajak bicara, pun diam seperti patung. Hingga Airin yang berada di ruangan Krystall menggantikan Raisa untuk menjaga adiknya menaruh curiga bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan Kai dan Krystall.
"Kryss, gue tahu Lo sama Kai ada masalah. Tapi ayolah, jangan kayak gini. Bicarain baik-baik," hari ini Airin datang menjenguk dan menjaga Krystall menggantikan Raisa datang bersama Dennis. Tapi ia meminta sang kekasih untuk menemani Kai dan membawa laki-laki itu keluar ruangan karena ia ingin bicara dengan Krystall.
"Aku masih butuh waktu kak."
Airin mendengkus. "Butuh waktu apa? Berapa lama? Usia pernikahan Lo sama Kai baru seumur jagung, jangan hanya karena Lo gak mau omongin baik-baik jadi kayak gini. Lo gak mau kan papa mama sampai tahu masalah kalian berdua?"
"Iya, kak."
"Iya doang?" tanya Airin tidak percaya. "Jangan cuman iya-iya aja Lo!" Nada suara Airin mulai tidak santai. "Inget, Lo yang minta dinikahin sama Kai. Jangan cuman karena masalah kecil kayak gini berantemnya kelewatan!"
Krystall menghela napas pelan, menatap wajah sang kakak dengan linangan air mata. Oke, katakan saja efek hormon ibu hamil makanya Krystall gampang menangis begitu. "Aku kesel sama kak Kai! Masa dia curigain aku sama Leo kak, padahal aku lagi hamil anak dia dari kita sebelum nikah! Masa iya lagi hamil gini aku selingkuh sama cowok lain!"
Air mata Krystall akhirnya tumpah juga setelah bercerita pada Airin, membuat Airin merasa jadi ikutan tidak enak. Ia lalu menghampiri sang adik lalu memeluknya. "Iya-iya, udah biar nanti gue yang omelin itu si kampret Kai itu! Enak aja nuduh-nuduh sembarangan padahal yang bikin Lo bunting itu dia! Udah, sekarang Lo jangan sedih, jangan nangis. Harus inget kata dokter Cantika, Lo gak boleh stres! Nanti ngaruh ke anak lo."
Krystall mengangguk pasrah, dan seketika langsung menghentikan tangisnya. Semenjak hubungannya dengan Airin membaik, Krystall jadi benar-benar merasakan memiliki seorang kakak perempuan yang sebenarnya. Saudara yang bisa dia ajak untuk curhat dan bercerita.
"Makasih ya, kak."
Airin mengangguk lalu menghapus air mata sang adik. "Tapi Lo jangan mau kalah sama Kai kalau berantem! Gue masih memendam rasa kesel sama suami Lo! Bisa-bisanya join sama Dennis ngerjain gue pas Lo di Bandung dulu." Ujar Airin lalu diakhir dengan kekehan kecil dari mereka berdua.
Hingga akhirnya Krystall tertawa karena sang kakak menceritakan bagaimana dia dulu yang lebih dulu mengutarakan perasaannya pada Dennis, itu semua dikarenakan rencana Dennis dan Kai untuk membuat Dennis meninggalkan Airin. Dan ekspresi Airin yang menggebu-gebu sontak membuat Krystall tertawa. Akhirnya setelah dua hari mendekam di rumah sakit, Krystall bisa tertawa juga. Kedatangan Airin memang benar-benar dapat membantu proses pemulihannya. Tidak salah kini dia sangat mencintai kakaknya.
****
Ada yang masih ingat Airin?
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️