"Kenapa gak bilang kalau satu kantor sama Leo juga?"
Kai terlihat sangat marah saat menanyakan hal itu. Ia merasa dibohongi, selama lima hari yang lalu ia mengijinkan Krystall untuk bekerja di kantor Cahyadi sebelum akhirnya ia meminta istrinya untuk resign, ia sama sekali tidak tahu menahu bahwa sang istri satu kantor dengan laki-laki yang sangat ia cemburui. Lalu setelah melihat Krystall bersama Leo tadi, Kai tidak dapat menahan laju cemburunya. Hanya pertemuan singkat itu sukses memantik api cemburu dalam diri Kai.
Ahh, bukannya satu hari setelah menikah Krystall bercerita bahwa Leo bekerja di perusahaan ayahnya? Lantas kenapa Kai harus marah?
"Aku kan udah bilang sama kamu waktu itu kalau Leo kerja di perusahaan papa!" balas Krystall tidak kalah kesal.
Krystall kesal karena sikap Kai waktu di perusahaan Cahyadi tadi. Laki-laki itu melengos dan pergi begitu saja disaat Leo mengulurkan tangan untuk menyapanya.
"Aku mana tahu kalau bakal satu ruangan kayak tadi!"
"Ya salah kamu gak nanya sama aku!"
"Jadi dulu sebelum kita nikah kamu satu ruangan sama dia? Kalau kerja ketemu terus?"
Krystall melengos malas. "Ya iyalah! Namanya juga satu tempat kerja, gimana sih!"
"s**t!" Kai memukul stir mobilnya dengan keras. Hingga Krystall yang duduk di sebelahnya tersentak kaget. "Pantes aja perasaan aku gak enak setiap kali kamu ke kantor, aku pikir karena kamu lagi hamil tapi ternyata karena di sana ada Leo!"
"Kamu apaan sih! Segitunya!" balas Krystall dengan suara tinggi.
Setiap kali Kai meninggikan suaranya, maka Krystall akan membalasnya dengan cara yang sama juga.
"Jangan-jangan lima hari kerja kemaren kamu gak mau aku jemput karena pulang dianter sama dia!?" tuh kan, belum apa-apa Kai sudah berpikiran yang tidak-tidak seperti iblis.
Alis Krystall langsung menukik tajam, deru napasnya terdengar memburu. Tidak terima dituduh yang tidak-tidak. "Aku gak pernah dianter sama dia, ya! Jahat banget sih pemikiran kamu ke istri sendiri!"
"Yaa gimana? Aku ngerasa aneh aja liat gelagat kamu pas aku liat pergokin sama Leo tadi."
"Kak!" seru Krystall dengan wajah memerah lalu membalikkan badannya menghadap Kai. "Marah kamu tuh gak jelas, Leo —"
"Jelaslah! Marah aku ini lebih jelas dari marah kamu yang semalem!" sela Kai cepat.
"Oh jadi kamu mau ngungkit yang semalem?"
Kai mengedik. Ia tetap pada pandangannya yang lurus ke depan, tapi telinganya masih tetap bisa mendengar apa yang Krystall ucapkan.
"Aku serius sekarang! Aku gak mau ngomong sama kamu!" Krystall bersedekap, memperbaiki duduknya menjadi menghadap ke samping, tepat ke arah jendela mobil.
Dan lagi-lagi Kai menyahuti Krystall. "Yaudah terserah kamu! Lagian kamu yang salah karena gak jujur malah kamu yang marah balik."
Ketika dua orang dilanda emosi dalam sebuah hubungan rumah tangga, seharusnya salah satu harus membawa air dan mengalah. Tapi dua sejoli ini malah sebaliknya. Baik Kai maupun Krystall sama-sama memiliki ego yang tinggi dan merasa diri paling benar. Terlebih Krystall, semenjak hamil ia menjadi lebih cepat marah sekalipun dia yang salah.
****
Krystall ternyata serius dengan ucapannya saat di mobil tadi. Begitu mobil Kai sampai di depan halaman rumah, Krystall langsung turun dan tidak lupa membanting pintu mobil, ciri khasnya kalau marah dan berjalan masuk ke dalam rumah sambil mencak-mencak.
Wanita itu langsung naik ke lantai dua kamar mereka dan mengambil beberapa barang yang diperlukannya untuk ia gunakan di kamar tamu.
Kai mengekori dari belakang, tapi laki-laki itu tidak berniat membujuk kali ini. Melihat Leo bersama dengan istrinya tadi membuatnya kembali takut kehilangan sang istri. Bagaimana tidak? Leo adalah laki-laki sangat baik, sekalipun dari segi tampan masih jauh lebih tampan Kai. Tapi itu semua tidak menutup kemungkinan untuk Krystall berpaling mengingat bagaimana buruknya masa lalunya dulu. Apalagi Leo juga dulu pernah menjadi bagian dari masa lalu Krystall juga, yah meskipun hanya sebentar.
Saat wanita itu sedang sibuk memboyong beberapa barang-barangnya yang hendak di bawa ke lantai bawah, Kai masuk ke dalam kamar lalu menahan tangan Krystall yang hendak keluar kamar. "Aku aja yang tidur di kamar tamu lantai bawah."
"Aku aja," balas Krystall singkat tanpa mau menatap Kai.
"Gak apa-apa, biar aku yang di bawah. Kamu yang di sini. Di sini kamar mandinya di dalem."
Krystall kembali bersungut-sungut, lalu menoleh ke arah Kai. "Apaan sih!? Kan aku bilang kalau aku yang mau tidur di kamar tamu!"
Mendengar bentakan dari sang istri membuat emosi Kai kembali tersulut.
"Terserah!" sentak Kai sambil menarik satu kaos di dalam lemari dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal.
Pertengkaran mereka berdua hari ini memang terlihat sepele, tapi jika sudah menyangkut cemburu, baik Kai ataupun Krystall tidak akan ada yang mau mengalah. Mereka akan tetap marah dengan membawa cemburu mereka masing-masing.
Beberapa menit Kai terdiam di dalam kamar mandi sambil memandangi dirinya dari balik cermin. Dulu saat belum menikah dengan Krystall, ia bebas bersikap egois pada wanita manapun tanpa perlu repot-repot mengalah dan memikirkan keadaannya.
Tapi kali ini berbeda, ia sudah menikah dan jadi kepala rumah tangga. Krystall juga tengah mengandung buah cinta mereka, jadi mau tidak mau Kai harus menurunkan sedikit egonya. Karena jika terus membawa ego masing-masing seperti ini, maka sampai besok pagi pun Krystall akan tetap merajuk mengingat bagaimana mood dan emosi wanita itu yang meledak-ledak selama hamil.
Kai seharusnya sadar untuk tidak bersikap kekanak-kanakan sejak tadi ketika mereka belum sampai ke rumah agar tidak terjadi hal seperti ini. Tapi yang namanya cemburu mengambil alih, pikiran warasnya pun sirna, digantikan dengan emosi yang terus saja meledak-ledak.
Kai akhirnya berinisiatif untuk menyusul Krystall ke kamar tamu dan meminta maaf pada istrinya itu. Disaat langkahnya tengah menuruni anak tangga menuju lantai bawah, hal yang pertama ia lihat adalah Krystall yang terduduk di lantai depan ruang tengah menangis sambil memegangi perutnya.
Kai yang melihat itu tentu merasa jantungnya pindah turun ke perut saat itu juga. Dadanya mencelos, menyesal karena sudah egois. Seandainya ia tidak mendahulukan amarah tadi, mungkin Krystall tidak akan menjadi seperti saat ini.
"Astga, Krystall!" Kai berteriak lalu setengah berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri sang istri. "Sayang, kamu kenapa?!"
"Tadi aku kebelet mau ke kamar mandi, keluar kamar mandi mau ke kamar tamu aku kepeleset di sini, kak," jelas Krystall dengan suara ringisan yang samar.
Tanpa Krystall sadari sejak tadi, ada noda darah sedikit yang keluar dari balik celana kulotnya. Krystall terkejut, tangisnya semakin kencang.
"Kak ... A—ada darah! Aku takut!"
Kai mengusap wajahnya penuh frustasi. Penyesalan mendadak menggerogoti hatinya saat ini. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Kai tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan sang istri dan calon anak yang sudah ia siapkan namanya jika laki-laki atau perempuan. Kai merasa sangat bersalah, seandainya ia mau saja sedikit mengalah tadi, Krystall tidak akan jadi seperti ini.
Kai benar-benar tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu hal buruk terjadi pada Krystall dan kandungannya.
****
Makanya jangan bentak-bentak suami, kualat kan, Kryss?
Hayoo gaisss silahkan tulis kolom komentar kalian ya 😉
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️