Krystall menggeliat di dalam pelukan Kai yang terus menempelinya seperti lintah sejak semalam. Laki-laki itu sudah seperti lintah yang terus saja menempel sambil tertidur dan tidak mau lepas dari Krystall.
Mereka masih berada dalam selimut setelah beberapa jam yang lalu baru saja mengakhiri kegiatan penuh candi dan penuh peluh yang sering mereka lakukan sejak sebelum menikah hingga kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Sekarang mereka sudah bebas melakukan itu, sudah sah ceritanya!
Kai sudah menemukan lubangnya!
"Kak, bangun. Kamu gak kerja?" Krystall mengambil jarak sedikit untuk menjangkau pandangannya dengan Kai. Wanita yang sudah lama tidak menjadi gadis itu lantas mengelus lembut pipi sang suami yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar pipi dan rahangnya.
"Izin sehari aja, Kryss," gumam Kai masih dengan mata terpejam dan merengkuh pinggang Krystall semakin erat. Mode manjang lagi kumat!
"Mana bisa! Nanti Papa marah!" Krystall memperingati, masih berusaha untuk lepas dari pelukan Kai. "Bangun, kak! Aku mau mandi!"
Kai tidak menggubris, malah tangannya kini merayap ke p******a Krystall lalu mengusap dan meremasnya. "Kok ini makin gede ya, Kryss? Apa karena lagi hamil?"
"Iih! Gak usah pegang-pegang!" sentak Krystall sambil menjauhkan tangan Kai dari kedua payudaranya. "Dedek udah gak mau dijenguk ayah lagi!"
Penolakan Krystall tentu saja tidak berarti bagi Kai yang selalu merasa candu dengan tubuh istrinya itu. Tangan laki-laki itu mulai merayap lebih jauh, meremasnya dengan lembut.
"K—kak ..." lenguh Krystall.
"Perusahaan cabang itu kan sekarang punya aku, jadi terserah aku mau bolos sehari apa enggak."
"Emang kalau bolos kamu mau ngapain aja? Enak juga kerja dapet duit!" lagi. Krystall menarik tangan Kai agar menjauh dari kedua payudaranya. "Kamu kerja aja sana, aku mau ke kantornya papa aku buat ngasih tahu kalau resign dari sana karena udah nikah. Gak enak menghilang gitu aja walaupun itu perusahaan punya papa aku." Kata-kata Krystall barusan sukses membuat Kai membuka matanya lebar.
"Aku izin gak kerja, masa kamu pergi?" kalimat Kai itu tidak lebih dari sebuah rengekan manja yang sering Kai lakukan sejak mereka belum menikah setiap kali Krystall sibuk dengan kegiatannya.
Astagaaa! Siapa di sini yang ingat bahwa Kai dulu seorang Casanova di Nirvana's Club? Tolong ingatkan dia untuk tidak manja seperti anak bayi begini!
"Yaudah kalau gitu, kamu anterin aku aja." Krystall menyibak selimutnya, lalu turun menapaki lantai yang dingin.
"Aku anterin, tapi sekali lagi, ya?"
Krystall mendengkus. "Aku capek."
"Dulu aja sebelum hamil terus nikah kamu aku ajakin seks sampai pagi juga mau mau aja. Kenapa sekarang malah bilang capek, Kryss? Cuman sekali doang loh ini."
"Ya aku gak tahu, mungkin bawaan hamil!"
"Kalau dulu kamu nolak aku gapapa karena belum nikah. Tapi sekarang beda cerita, nolak suami dosa loh, Kryss," ancam Kai.
Memang selalu seperti itu semenjak menikah, Kai akan selalu mengancam Krystall dengan sebuah dalil dosa jika Krystall tidak menuruti kemauannya. Dan Krystall yang takut kualat dengan suami jadi mau tidak mau akan menuruti kemauan laki-laki itu. Walaupun yah ujung-ujungnya dia juga yang klimaks berkali-kali.
Huh! Kai memang menyebalkan! Semoga saja besok kalau lahir anaknya tidak mirip seperti Kai!
Krystall menghembuskan napas pasrah. "Yaudah, sebentar dan sekali aja ya?"
Dan mereka kembali ke dalam pusaran gairah lagi. Bukan Kai namanya jika bermain hanya sebentar dan hanya sekali. Dan Krystall akan selalu menjadi si pasrah jika sudah berada di bawah kungkungan Kai lalu ikut larut dalam pusaran gairah suaminya.
****
"Kamu mau nunggu di sini atau ikut naik ke atas?" adalah kalimat pertama Krystall setelah sampai di basement kantor Cahyadi. Rencana akan datang jam delapan pagi malah ngaret jadi jam sembilan gara-gara Kai yang tidak mau berhenti sebelum merasa puas dengan tubuh istrinya.
Kai hari ini benar-benar izin bekerja dan mengantar Krystall menuju kantor Cahyadi — mertua Kai. Karena sejak menikah dan hamil, Kai melarang Krystall untuk bekerja. Ia tidak mau sang istri kenapa-kenapa di kehamilan pertamanya karena kelelahan bekerja.
"Ikut aja, tapi nanti aku ke kantin dulu beli minum. Di sini ada kantin, kan?" tanya Kai sambil melepas seat belt nya.
"Ya ada! Masa kantor Segede gini gak ada kantinnya!" balas Krystall.
Setelah beberapa menit mereka akhirnya tiba di dalam gedung perusahaan milik Cahyadi. Krystall menuju ruangan tempat Cahyadi berada. Sementara Kai menuju kantin untuk mencari minuman.
Tapi siapa sangka ketika sampai di ruangan sang ayah Krystall malah bertemu dengan Leo. Laki-laki yang pernah menjadi kekasih Krystall meskipun hanya beberapa Minggu saja itu nampak sedang membawa sebuah map yang akan diletakkan di atas meja di dalam ruangan Cahyadi.
"Hai ..." sapa Krystall.
Leo membalas senyuman Krystall. Senyuman yang menjadi syarat sebab ia menaruh hati pada Krystall dulu ketika masih berada di satu bangku kuliah yang sama. "Kamu kesini sama siapa?"
"Dianter sama kak Kai," jawab Krystall. "Papa kemana, Leo?"
"Oh Pak Cahyadi ada meeting di The Langham Hotel lima menit yang lalu. Kayaknya sih baliknya nanti siang. Kamu ada perlu sama papa kamu?"
Krystall mengangguk. "Iya. Mau ajukan surat resign soalnya kak Kai udah larang aku kerja gara-gara perut aku udah membesar gini."
"Kalau kamu mau nungguin tungguin aja gak apa-apa, tapi lama banget. Aku juga ke ruangan Pak Cahyadi karena disuruh sama atasan aku buat bawa map ini," tunjuk Leo pada sebuah map hitam yang ia bawa di tangannya. "Semua orang pada nanyain kamu, mereka pada curiga kamu resign karena hamil anak pertama."
"Iya, kak Kai gak ngijinin aku kerja lagi makanya udah gak ke kantor."
Untuk sesaat keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Krystall yang sibuk memikirkan Cahyadi pulang jam berapa sementara Leo sibuk dengan perasaannya pada Krystall yang belum benar-benar sepenuhnya hilang. Tapi laki-laki itu cukup tahu diri untuk tidak mendekati Krystall lebih intens mengingat wanita yang pernah menjadi pacarnya itu sudah bersuami.
Tentu saja interaksi dan pertemuan mereka tanpa sepengetahuan Kai. Kalau Kai sampai tahu bisa gawat, laki-laki itu akan mengamuk seperti orang kesetanan. Sebisa mungkin Krystall selalu merahasiakan tentang dirinya yang ternyata satu kantor dengan Leo di perusahaan Cahyadi. Krystall juga menyembunyikan semua pesan atau chat yang dikirim oleh Leo melalu aplikasi w******p miliknya. Kai memang bukan laki-laki romantis, tapi sekalinya cemburu maka laki-laki itu akan berubah menjadi setan.
"Kak Kai di mana?" tanya Leo setelah mereka keluar dari area ruangan Cahyadi dan kini berjalan menuju lift.
"Tadi sih bilangnya ke kantin dulu cari minum."
"Mau aku temenin ke sana?" tawar Leo. Dan seketika Krystall berubah menjadi gugup. Bukan ia tidak mau, tapi Krystall takut mempertemukan Kai dengan Leo mengingat perangai laki-laki itu kalau cemburu melebihi setan ataupun iblis. Laki-laki itu akan mengamuk dan mengomel sepanjang jalan kenanga.
Namun, sepertinya hari ini semesta tidak berpihak pada Krystall. Karena disaat ia akan menolak tawaran Leo, Krystall tiba-tiba saja menangkap sosok laki-laki tampan dengan raut wajah tegas dan rahang yang mulai mengeras muncul dan keluar dari dalam lift lalu berjalan mendekati Krystall dan juga Leo.
Gawat!
Hari ini Kai pasti akan mengamuk, dan lebih parah dari cemburunya Krystall saat melihat Gissel di restauran cepat saji tadi malam.
****
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️
Silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar dan masukkan ke pustaka ya ❣️