Krystall membanting pintu mobil keras-keras saat Kai baru saja memakirkan mobilnya di garasi. Raut wajah Krystall tak lebih dari seekor macan betina yang siap menerkam siapa saja yang berani mendekat dan mengganggunya.
"Sayang ..." panggil Kai seraya menyusul Krystall yang kini sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah sambil mencak-mencak.
Laki-laki itu nampak begitu frustasi dengan ledakan bom yang baru saja meledak. Frustasi bukan karena Kai belum tahu tentang hormon ibu hamil yang meluap-luap pada diri Krystall. Tapi karena istrinya itu sudah mengucapkan untuk tidak mau tidur dengan Kai, satu kata keramat yang dapat membuat para suami ketar ketir. Terbukti dari pintu kamar di tutup Krystall dengan kencang. Fix, malam ini Kai akan tidur di luar!
Salah siapa kalau sudah jadi begini? Tapi Kai juga bukan cenayang yang dapat memprediksi kehadiran wanitanya yang lain yang pernah menghangatkan ranjangnya dulu. Itu semua terjadi di luar kendalinya. Bahkan Kai sendiri tidak menyangka bahwa Krystall akan melakukan hal yang seperti tadi pada orang lain.
Karena yang ia tahu, Krystall memiliki rasa tidak enakan yang tinggi pada orang lain, istrinya itu juga sangat lembut, baik, manja dan tentunya sedikit menyebalkan kalau sedang merajuk. Reaksi Krystall tadi benar-benar di luar dugaan Kai.
Pintu kamar terbuka, Kai sedikit menoleh ke arah pintu dan sedikit merasa lega. Tapi itu tidak lama, harapannya sirna karena Krystall membawa satu bantal guling dan selimut tebal.
"Nih buat kamu tidur! Aku gak mau tidur sama kamu!" seru Krystall sambil melempar itu ke arah Kai.
"Kryss ... Sayang ... Jangan gini," bujuk Kai.
"Jangan gini gimana aku tanya!? Kamu pikir aku bisa tenang ngeliat bekas cewek kamu tadi? Apalagi dia gak tahu kalau kita belum menikah!"
"Aku kan gak tahu kalau dia bakalan mampir ke tempat itu, aku juga gak ngasih tahu dia tentang pernikahan karena aku sama Gissel lama gak kontakan lagi." Kai mencoba menjelaskan, tapi rasa kesal Krystall sedang berada di puncaknya. "Jangan marah sayang ..."
Padahal Kai dan Gissel tidak melakukan hal-hal yang melewati batas, tapi mengetahui satu fakta bahwa Kai gemar tidur dengan banyak wanita membuat Krystall tidak bisa berpikir baik.
Ini sudah jam dua pagi, sebentar lagi subuh, tapi Krystall masih memiliki tenaga yang banyak untuk memulai pertengkaran dengan Kai.
"Aku butuh waktu!" putusnya saat itu dengan membiarkan Kai tidur di luar.
Krystall sadar bahwa perkelahian ini berbuntut tidak baik untuknya. Karena biasanya kalau ia tidak bisa tidur selama hamil, maka Kai akan mengusap pelan perut dan punggungnya bergantian sampai ia terpejam.
Dan ia sangat ingin Kai melakukan itu saat ini, ia butuh suaminya untuk membantunya tertidur karena semenjak hamil ia jadi susah memejamkan matanya. Tapi karena rasa gengsi yang tinggi Krystall jadi urung meminta itu pada suaminya.
Beberapa menit saat Krystall hendak beranjak naik ke atas ranjang, pintu kamar diketuk dan terdengar suara Kai di depan sana.
"Kryss, udah tidur belum? Aku buatin s**u hangat nih."
Krystall terhenyak, matanya berbinar senang. Kenapa Kai seolah mengerti apa yang dia mau dan butuhkan? Suaminya itu ... Meski tidak secara langsung menunjukkan sisi romantisnya, tapi itu selalu berhasil membuat Krystall tersentuh. Dan untuk sesaat, Krystall sedikit lupa dengan gengsi dan amarahnya.
"Sayangg ... —"
Pintu kamar akhirnya terbuka dari dalam. Krystall membuka pintu itu lebar-lebar, seolah memberikan kode untuk Kai masuk ke dalam.
"Aku boleh masuk nih?" tanya Kai hati-hati.
"Ya kamu mau masuk apa enggak? Kalau enggak aku tutup lagi nih."
Mendengar itu membuat Kai buru-buru masuk sebelum Krystall menguncinya dari dalam. Tidur sendiri di ruang tamu lantai atas tanpa ditemani pelukan sang istri membuat Kai bergidik ngeri.
Krystall dan Kai duduk di tepi ranjang sesaat setelah Kai menutup pintu. Kai segera memberikan segelas s**u hangat ibu hamil rasa strawberry kepada Krystall yang tadi ia buatkan sebelum naik ke atas.
Krystall meminum s**u itu hingga tandas. s**u hangat memang selalu dapat membuat amarahnya teredam.
"Mau aku elus gak perutnya? Kamu pasti gak bisa tidur kan karena belum aku elus perutnya?" ledek Kai yang langsung mendapatkan delikan maut dari Krystall.
Tanpa sepatah kata pun, Krystall berbaring memunggungi Kai yang disusul oleh Kai yang merebahkan diri juga disamping Krystall.
Kai menjulurkan tangannya hati-hati untuk mengusap perut dan punggung Krystall. Merasa tidak ada penolakan, Kai melanjutkan mengusap perut yang sudah mulai sedikit membuncit itu bergantian dengan punggung dengan pelan dan penuh perasaan.
"Maaf ya, udah buat kamu marah," katanya di sela-sela kegiatannya mengelus perut dan punggung Krystall. Wajahnya sudah masuk ke dalam ceruk leher sang istri. "Segitu bencinya kamu sama masa lalu aku?"
Helaan napas pelan terdengar dari bibir Krystall sebelum akhirnya wanita itu berbalik menghadap Kai. Mata mereka bertemu di satu titik yang sama.
"Aku gak tahu kenapa bisa kayak tadi. Emosi dan cemburu aku —"
"Tapi aku suka lihat kamu yang ganas kayak tadi." Kai memotong kalimat Krystall dengan ledekan.
"Kak ... Aku nyusahin kamu, ya?"
Kedua alis Kai tertarik ke atas. "Siapa bilang gitu?"
"Perasaan aku," balas Krystall sambil memainkan kancing piyama Kai.
"Feeling kamu itu sok tahu!" Kai membawa Krystall ke dalam dekapannya, mengecupi puncak kepalanya lembut. "Kamu gak pernah nyusahin aku. Kata mama, ini itu hormon ibu hamil, jadi aku harus bisa memaklumi."
"Tapi kamu jadi kesulitan ngadepin aku yang enggak kayak biasanya."
"Kamu kan hamil. Terus yang hamilin kamu siapa? Aku, kan? Masa ngadepin kamu yang lagi mood swing aja aku ngeluh," kata Kai yang berusaha untuk membuat Krystall tenang dan tidak terus menerus menyalahkannya. "Lagian udah kewajiban aku menuhin semua apa yang kamu mau karena itu tugasnya suami. Selama apa yang kamu mau masih dalam batas wajar, aku sanggup."
Krystall semakin menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Kai. Istri dari Kai itu tiba-tiba saja menangis, merasa belum pantas untuk menjadi seorang ibu dan istri disaat sifatnya yang masih kekanak-kanakan seperti ini.
"Udah jangan nangis, kasihan dedeknya dari tadi kaget sama suara kamu." Kai memberi usapan di sepanjang punggung istrinya.
"Kak aku takut gak bisa jadi ibu yang baik untuk anak kita. Ingetkan, aku rebut kamu dari kak Airin. Ibu aku juga diam-diam jalanin pernikahannya sama papa —"
"Ssstttt ... Kenapa jadi bahas itu sih kamu?" Kai menarik dagu Krystall ke atas agar pandangan mereka bertemu. "Kamu akan jadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita, tempat dia berkeluh kesah, tempat dia mengadu. Dia akan selalu ngebangga-banggain kamu di depan teman-temannya. Ibu yang selalu dia cari saat susah maupun senang. Kamu ... Ibu yang akan jadi permata hati kita, yang akan jadi sandaran kita."
Tangisan Krystall semakin menjadi-jadi, perasaannya membuncah saat mendengar kalimat Kai barusan. Benarkah apa yang suaminya katakan barusan? Apakah dia benar-benar bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk anak-anaknya dan juga Kai?
"Percaya sama aku, kita pasti bisa ngerawat dia dengan baik," ujar Kai lagi seakan tahu kekhawatiran Krystall.
Krystall kembali memeluk Kai, membiarkan air matanya luruh bersama dengan ketakutannya selama hamil. "Kita sama-sama belajar, ya?"
"Iya, aku juga masih harus banyak belajar untuk jadi ayah dan suami yang baik untuk kalian."
Untuk sesaat, suara tangis Krystall menjadi satu-satunya pengisi keheningan di dini hari itu. Mereka saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.
Menjadi calon orang tua terkadang membuat mereka memiliki kekhawatiran yang berlebihan. Apakah mereka sanggup? Apakah mereka bisa merawat dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak mereka. Begitu juga dengan Kai juga Krystall.
Hubungan awal mereka memang berawal dari sesuatu yang tidak baik, maka dari itu wajar bagi Krystall kalau memiliki rasa takut berlebih. Mereka sepasang manusia yang memulai semuanya itu dari dosa. Krystall hanya takut kelak anaknya akan terkena imbas dari dosa yang ia dan Kai lakukan sebelum menikah.
Kai hanya bisa meyakinkan Krystall bahwa semuanya akan baik-baik saja selagi mereka bersama. Mereka pasti bisa dan akan bahagia. Kai akan mengusahakan dan melindungi mereka dengan seluruh kemampuan yang ia punya.
Hingga akhirnya tangis Krystall pun berhenti, ia sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menjangkau wajah Kai.
"Kak?"
"Hm."
"Dedek minta dijenguk."
******
Masalahnya sedikit demi sedikit mulai timbul ya ❣️
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️