Kini Krystall dan Kai sudah berada di restauran cepat saji. Krystall memakan burgernya dengan lahap, sesekali ia bergerak kegirangan di atas tempat duduknya sambil bertepuk tangan. Kai yang duduk di depan istrinya hanya memandangi itu sambil menggelengkan kepala.
Ini tengah malam menjelang pagi, dan hanya menggunakan piyama tidur, mereka sudah duduk di dalam salah satu restauran cepat saji. Kai tidak pernah berpikir sebelumnya akan melakukan hal ini hanya demi seorang wanita, dan itu tengah mengandung dan mengidam untuk calon anaknya.
"Makannya pelan-pelan." Kai membersihkan ujung bibir Krystall yang terkena saos burger.
"Ini enak. Kamu gak mau?"
Kai menggeleng pelan. Ia masih memperhatikan sang istri dalam diam. Menikah dengan Krystall juga salah satu hal yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.
Bagi Kai sebelum bertemu Krystall, melayani makhluk tuhan bernama wanita tidak akan pernah ia lakukan, malah tidak sudi. Sebaliknya, ia yang harus dilayani — baik itu di atas ranjang ataupun tidak sambil berleha-leha tanpa mau mengikat status dengan wanita manapun.
Tapi kini Kai seperti kualat pada dirinya sendiri, lebih tepatnya kemakan omongan sendiri. Dulu menikah dan melayani wanita tidak ada dalam kamusnya, tapi tepat diusianya yang menginjak tiga puluh tahun Kai malah dihadapkan dan harus melayani semua kebutuhan dan keinginan seorang wanita manja dan labil dalam sebuah hubungan sah yang namanya pernikahan. Pernikahan yang sangat dia perjuangkan untuk wanita yang sangat dia cintai. Padahal dulu dipaksa menikah dengan Airin saja dia ogah-ogahan.
"Mau dibungkus juga gak? Buat di rumah?" tanya Kai.
Krystall menggeleng dengan mulut yang penuh berisi burger. "Gak usah. Kalau dimakan di rumah rasanya udah gak enak."
"Perasaan sama aja. Beda darimana?"
"Ya beda aja! Kan aku yang makan, aku yang rasain! Kenapa kamu malah nanyanya kayak gitu sih? Gak percayaan banget sama istrinya!" lihat? Baru beberapa detik yang lalu Krystall senang sekarang sudah membuat Kai mengelus dadanya lagi. Berusaha meluaskan rasa sabarnya menjadi seluas samudera.
Mengenal Krystall, membuat skandal, b******u lalu menikah membuat Kai belajar apa itu sabar. Padahal sabar bukan ciri khas Kai sama sekali.
"Kai? Ini Kai, kan?" mendengar suara seorang wanita memanggilnya membuat Kai menoleh. Menatap bingung pada sosok wanita cantik dan seksi dengan gaun putih gading yang berdiri di sebelah mejanya. "Kamu bener Kaisar, kan?"
Krystall langsung menoleh, dan seketika wajahnya merengut kesal. Krystall memang tidak mengenali wanita itu, tapi dari penampilannya Krystall sangat yakin wanita itu adalah salah satu teman kencan Kai dulu. Mengingat suaminya semasa lajang sangat menyukai wanita cantik dan seksi.
"Ya ampun ternyata kamu beneran Kaisar!" seru wanita itu heboh.
Kai masih menatap bingung wanita yang berseru heboh menegurnya. Mencoba mengenali sosok yang menjulang tinggi di hadapannya.
Seperti mengerti dengan kebingungan Kai, wanita itu kemudian memperkenalkan diri. "Aku Gissel, Nirvana's Club. Masa kamu lupa?"
Seketika wajah Kai pucat pasi. Gissel ... Astaga wanita ini pasti salah satu yang pernah Kai kencani dan tiduri — mungkin ketika masih sering mengunjungi club miliknya dan para sahabatnya. Tapi Kai juga tidak begitu ingat, saking banyaknya wanita yang pernah dia tiduri sebelum mengenal Krystall membuat Kai lupa siapa saja wanita-wanita itu. Tapi mendengar mama Nirvana's Club disebut oleh Gissel, Kai sangat yakin bahwa Gissel bukan hanya sekedar teman ngobrol di Nirvana's Club tapi wanita itu adalah wanita yang pernah menghangatkan ranjangnya.
"Kamu kemana aja? Kok gak pernah main lagi ke Nirvana's?" tanya Gissel heboh, sambil meletakkan tangannya ke pundak Kai.
Jangan lupakan, Krystall mengamati semua interaksi Gissel. Siaga satu! Ini tidak bisa dibiarkan! Kai dalam bahaya!
"Siapa, ya?" akhirnya Krystall membuka suara sejak diam saja sedari tadi.
Gissel menoleh, lalu tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya dari balik bibir tebal nan merah merona. "Aku Gissel, temen Kai waktu di Nirvana's Club." Gissel menyodorkan telapak tangannya untuk berjabat tangan dengan Krystall.
Kalau mereka bertemu sebelum Krystall hamil, atau sebelum menikah mungkin Krystall akan menyambut uluran tangan itu dengan sepenuh hati dan riang ceria. Tapi tidak untuk sekarang. Hormon ibu hamil membuatnya berubah menjadi kucing oren yang siap menerkam siapa saja yang mengganggunya. Apalagi dengan masa lalu Kai yang tidur dengan banyak wanita membuat Krystall tidak bisa berpikir jernih.
Dia yakin wanita ini pasti pernah atau sering tidur dengan Kai sewaktu laki-laki itu lajang dulu.
"Aku Krystall, istri Kaisar," jangan lupa Krystall mengatakan itu dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Gissel tersenyum kikuk seolah mengerti dengan sikap Krystall sekarang. Lantas ia menarik uluran tangannya yang tidak disambut oleh Krystall lalu tersenyum kaku ke arah Kai. "Oh kamu udah nikah, Kai?"
"I—iya ..." yang menjadi tersangka utamanya malah gugup setengah mampus! Sedari tadi Kai duduk tidak tenang dan gelisah, sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Ini istri gue."
"Selamat, ya." Gissel memberi selamat pada Kai dengan tubuh yang sedikit condong hendak mencium kedua pipi Kai seperti yang biasa wanita itu lakukan dulu. Tapi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau parahnya meledaknya ledakan bom Hiroshima, Kai segera mundur dan menghindar.
"O—oke ... Thank You, Sel."
Krystall mendengkus, burger diatas mejanya masih tersisa satu biji dan kentang goreng yang belum disentuh sama sekali. Wanita sialan itu membuat selera makan Krystall hilang dan terjun bebas begitu saja. Lihat saja, Krystall tidak akan tinggal diam kali ini.
Dengan tangan yang berminyak dan penuh kotoran burger, Krystall berdiri setelah sebelumnya mengambil satu cup fruit tea. Ia bergeser cepat dan pura-pura hampir terjatuh sehingga minuman yang berada di tangannya tumpah lalu mengenai gaun malam dan seksi yang Gissel gunakan.
"Aduh ... Maaf, aku gak sengaja," kata Krystall dengan wajah bersalah yang dibuat-buat.
Sungguh, Kai saat ini merasa malu. Laki-laki itu hanya bisa menghela napas frustasi sambil menggusar rambutnya ke belakang. Belum apa-apa bom itu sudah meledak.
"Yah ... Baju aku basah." Gissel cemberut. Wanita cantik dan seksi itu seketika langsung menekuk wajahnya. Sedikit kesal dengan Krystall, sepertinya wanita itu tahu Krystall dengan sengaja menumpahkan minuman tadi.
"Aku gak sengaja, maaf banget."
Lantas tanpa pernah Kai duga, Krystall kembali membuat ulah. Wanita itu mengusap gaun yang digunakan Gissel dengan tangan kotor berlumuran minyak bekas burger. Dan itu sukses membuat gaun yang digunakan Gissel semakin bertambah parah.
"Sel, Sorry." Kai membantu Gissel membersihkan noda tadi dengan tissue.
"Udah gak apa-apa, Kai. Lagian istri kamu juga gak sengaja, wajar lagi hamil gitu geraknya susah. Aku bersihin ke toilet dulu, ya." Gissel mengulas senyum tipis, seolah dirinya baik-baik saja dan apa yang dilakukan Krystall tadi bukanlah hal besar. Padahal dalam hati wanita itu ia menggeram kesal.
Gissel akhirnya berlalu, meninggalkan Kai dan Krystall yang kini saling berhadapan. Mata Krystall melotot tajam seolah-olah mampu membunuh Kai saat itu juga.
"Aku gak mau tidur sama kamu!"
Adalah kalimat terseram yang Kai takutkan semenjak menikah dengan Krystall.
****
Ada yang mau komen? Hayooo bab ini udah nunjukin gelagat Krystall yang belum bisa terima dan lupa sama masa lalu Kai 🤭
Berikan cinta kalian untuk penulis ya ❣️