"Kryss! Dasi aku dimana?" teriak Kai dari dalam kamar. Suaranya sedikit teredam karena dihalangi oleh pintu lemari yang terbuka dan jarak antara lantai satu dan lantai dua.
Krystall yang sedang rebahan di atas sofa sambil menonton televisi berdecak kesal. Berusaha menahan emosinya yang kian hari kian meledak-ledak sejak kehamilannya berusia tiga bulan. Dan ini ... Oh ayolah! Ini sudah seminggu masa pernikahan mereka dan Kai selalu saja menguji kesabaran Krystall setiap kali wanita itu berleha-leha!
"Udah aku siapin di tempat biasa!" balas Krystall dengan teriakan juga.
"Gak ada! Aku gak nemu! Coba kamu yang cariin deh!"
Krystall berdecak malas bersamaan dengan rasa kesalnya yang sudah menggebu-gebu. Satu hal yang baru Krystall tahu setelah menikah, laki-laki tidak pintar mencari barang miliknya, tapi jika istri yang turun tangan maka apa yang dia cari pasti akan ketemu.
Huh! Kenapa Kai harus mengganggunya disaat dirinya dalam fase malas seperti ini? Tidak tahukah Kai mengandung anaknya membuat Krystall kesusahan? Mau tidak mau Krystall beranjak dari tempat favoritnya selama hamil sambil menggerutu dan mencak-mencak menuju kamar tempat dimana seorang laki-laki yang kebingungan mencari sebuah dasi. Tapi jika mencari sesuatu kesenangannya di dalam tubuh Krystall, tanpa dibimbing laki-laki itu sangat hafal letaknya di mana!
Sehari setelah menikah mereka memutuskan untuk tinggal sendiri di hunian milik pribadi. Padahal Anita sudah meminta Kai dan Krystall untuk tinggal bersama sementara waktu mengingat posisi Krystall yang tengah mengandung. Tapi Kai menolak dengan tegas permintaan Anita dengan alasan jika hidup terpisah dari orang tua atau mertua maka itu akan mempercepat proses kedewasaan mereka dalam membina rumah tangga.
Kai akhirnya memutuskan untuk menjual unit apartemen milik Krystall — yang sebenarnya miliknya karena itu dihadiahkan oleh Kai sebagai perjanjian mereka dengan imbalan Krystall tidur bersama dengannya dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.
"Nih!" Krystall menyodorkan sebuah dasi berwarna navy kepada Kai sambil bersungut-sungut. "Cari tuh pakai mata, jangan pakai mulut! Biasa juga aku taruh di sini bisa-bisanya sama kamu gak ketemu!"
"Tadi aku udah cari di situ kok," kening Kai berkerut bingung. "Tapi emang gak ketemu. Kok sama kamu bisa ketemu."
Krystall mencebikkan bibir. "Alasan kamu aja! Bilang aja kamu males nyariin! Gak sekali dua kali loh kamu gini!"
Saat ingin kembali ke bawah, mata Krystall tidak sengaja melihat handuk bekas mandi Kai yang basah di atas kasur lalu pintu lemari yang terbuka lebar dan ada beberapa pakaian yang jatuh ke bawah. Maka sontak mata wanita itu mendelik tajam ke arah handuk dan juga lemari yang sudah rapi kini berantakan lagi
Krystall langsung mengalihkan atensinya lagi ke arah Kai dan menatap laki-laki itu dengan tatapan garang.
"Kamu kenapa sih taruh handuk basah di atas kasur!?" sentak Krystall sambil mengambil handuk yang basah dengan dua jari. "Itu juga lemari kenapa kamu berantakin!?"
"Ta—tadi aku cari dasi aku di lemari... Kalau handuk ... Tadi aku buru-buru takut telat jadi lupa," jawab Kai dengan hati-hati. Sebisa mungkin ia menggunakan alasan yang tepat supaya Krystall tidak berubah menjadi singa di pagi hari yang masih tenang ini.
Kalau boleh jujur, Kai sebenarnya sedikit takut dengan kemarahan istrinya. Entah kenapa semenjak hamil dan menikah Krystall menjadi agak menyeramkan. Sangat berbeda dengan Krystall ketika masih lajang dulu yang manja, lucu dan polos. Kai jadi bingung, harus bagaimana menghadapi kemarahan Krystall dan menanggapi setiap pertanyaan dan ucapan yang keluar dari bibir wanita itu. Takut jika salah jawab maka Krystall akan mengamuk seperti singa.
"Aku harus bilang berapa kali kalau handuk basah bekas mandi jemurnya di jemuran khusus handuk yang ada di balkon kamar! Bukan di taruh di atas kasur, kamu tinggal jalan ke balkon deket itu! Dasi kamu juga aku taruh di tempat biasa, di lemari gak ada!"
"I—iya, tadi aku buru-buru jadi lupa jemur handuknya di kamar mandi. Masalah dasi juga aku lupa."
"Alah kamu itu bukan lupa, tapi males! Mana ada lupa tapi dilakuinnya berkali-kali! Jangan pakai alasan buru-buru, ini masih jam enam pagi! Kalau males bilang aja males! Kita baru nikah seminggu loh kak, belum lama! Tapi kamu gitu lagi, gitu lagi. Anak belum lahir tapi rasanya aku kayak punya anak tambahan!"
"I—iya tadi aku beneran lupa dan buru-buru." Kai buru-buru memakai dasinya. Rasanya ia ingin cepat-cepat berangkat kerja saja, daripada harus mendengar ocehan Krystall dan menyaksikan murkanya wanita itu. "Yaudah sih kamu jangan marah-marah."
Krystall mendelik, memandang ke arah Kai tidak terima. "Aku gak marah! Aku cuman kasih tahu kamu yang bener! Emang kamu bisa perbaiki kasur dan lemari itu!?"
"Iya-iya gak marah ... Udah, emang aku yang salah," kata Kai kemudian berlalu dari sana.
Dan itu adalah masalah rumah tangga yang harus mereka jalani setiap pagi. Kai si pemalas dan Krystall dengan segala omelannya. Jika sudah seperti itu, maka Kai akan selalu menjadi si pasrah yang selalu mengalah, sementara Krystall akan menjadi penguasa dengan segala ledakan amarahnya.
Itu memang sangat konyol. Dan ada yang lebih konyol lagi ketika Krystall yang mengidam di jam satu malam. Wanita itu merengek sambil berguling-guling di atas kasur hanya karena mengidam sesuatu.
Kai bahkan baru saja tidur dua jam yang lalu saat Krystall mulai merengek.
"Besok aja, ya. Aku capek banget loh Kryss," ujar Kai dengan mata terpejam dan masih memunggungi Krystall.
"Loh kenapa besok sih? Kan aku ngidamnya sekarang bukan besok! Kalau besok lain lagi!"
"Yaudah besok kamu mau apa aku beliin."
"Kak ihhhh! Bangun!" dan kalimat itu tidak lebih dari sebuah rengekan yang membuat kepala Kai serasa mau pecah.
"Aku nunggu kamu ngidam yang lain aja, asal jangan malem ini aku capek banget Kryss, ngantuk. Aku janji bakalan beliin kamu, sama toko-tokonya juga aku beliin."
Laki-laki itu masih tidak merubah posisinya meskipun Krystall sudah menggoyang-goyangkan lengannya. Kai malah asik tidur dengan dengkuran halus tanpa menggubris rengekan Krystall. Dan itu justru membuat Krystall semakin kesal.
Krystall merubah posisinya menjadi duduk. "Kaaakkkk!"
"Aku ngantuk banget, Kryss."
"Kamu kok gak tanggung jawab gitu sih!" seru Krystall dengan suara sedikit bergetar.
Mata Kai terbuka perlahan mendengar apa yang Krystall ucapkan barusan. "Gak tanggung jawab gimana lagi sih aku?"
"Iyalah! Emang ini anak siapa? Siapa yang bikin aku hamil? Siapa yang gak sabar buat lakuin seks sama aku tiap malem? Kamu, kan? Giliran nidurin aku tiap malem aja kamu semangat, tapi giliran aku ngidam kamu ogah-ogahan! Tahu gitu mending aku diem aja di Bandung waktu itu, atau enggak aku nikah aja sama Leo mumpung dia ngajakin!"
Mendengar nama Leo disebut membuat kedua bola mata Kai melebar sempurna. Rasa kantuk yang sejak tadi menyelimutinya mendadak menguap begitu saja.
Kai lantas beranjak duduk memandang wajah Krystall yang sudah ingin menangis. "Kamu kenapa sih ngomong gitu?"
"Kenapa? Gak suka? Emang kenyataannya gitu kok!" kata Krystall menantang.
Kai mengerti, memahami mood Krystall butuh ekstra kesabaran, tidak bisa dengan bentakan atau kata-kata kasar. Ia harus sabar dan harus bisa mengendalikan diri agar tidak ikut terpancing emosi.
'Ngalah, Kai. Ngalah demi istri gak bikin Lo lemah.'
"Yaudah yaudah ... Kamu mau apa tadi?"
Krystall menarik sudut bibirnya. Matanya yang tadi sempat menggenang kini mulai muncul binar. "Mekdi."
"Yakin kamu mau itu?" tanya Kai dengan helaan napas pasrah. Mekdi di jam satu malam dengan lokasi yang jauh dari rumah mereka benar-benar membuat kepala Kai berdenyut.
Tapi harusnya Kai bersyukur karena ngidam Krystall malam ini hanyalah sebuah mekdi. Sesuatu yang masih mudah dicari di jakarta sekalipun jaraknya jauh dari rumah di jam satu malam. Bayangkan saja kalau wanita itu mengidam nasi kebuli dan harus dibeli di arab? Apa kabar nasibnya?
"Iya ... Aku yakin mau mekdi." Krystall mengangguk dengan semangat.
"Yaudah, aku beliin. Kamu tunggu di rumah. Kayaknya bakalan lama karena gak ada mekdi yang buka dua puluh empat jam di dekat sini." Kai berujar sambil hendak beringsut dari duduknya. Tapi tangan Krystall menahan pergerakannya.
"Aku ikut."
"Gak usah, udah malem. Di luar dingin."
Krystall menggeleng. "Enggak! Aku tetap mau ikut!"
'Sabar Kai sabar! Demi anak istri!'
"Yaudah. Pakai jaket yang tebel."
Wajah Krystall langsung sumringah, ia buru-buru menyambar jaketnya dan mengikuti Kai sampai mobil.
Kai memang tidak berubah, masih keras kepala dan tidak suka dibantah. Tapi saat bersama krystall, ia masih bisa sedikit merubah itu. Kai akan luluh begitu saja hanya dengan rengekan istrinya dan bola mata yang menggenang.
"Pakai jaketnya yang bener," ujar Kai setelah mesin mobil dinyalakan.
"Ini udah."
Kai berdecak, lalu kedua tangannya yang terangkat untuk menyatukan resleting jaket Krystall dan menariknya hingga atas.
"Udah aku bilang gak usah ikut, ini tuh dingin."
"Kamu tuh ngomel terus! Gak ikhlas ya nganterin istrinya cari makananan?" Krystall bersedekap dengan raut wajah kesal.
"Bukannya gak ikhlas," mobil Kai sudah berjalan keluar halaman rumah. "Tapi lebih baik kamu gak usah ikut malem-malem gini."
"Emang aja kamu yang gak suka aku ikut, sengaja kan mau lirik cewek lain!?"
Ya tuhan Kai salah lagi.
"Terserah kamu mikirnya gimana."
Krystall mendelik, merubah posisinya jadi menghadap Kai. "Oh jadi beneran kamu mau lirik cewek lain kalau aku gak ikut!?"
"Enggak, Krysss ... Enggak. Satu aja cukup gak akan abis-abis," suara Kai terdengar pasrah. Kai tidak ingin membuat keributan di tengah malam begini. Apalagi setiap kali Krystall bertengkar, pasti Krystall yang akan menangis.
"Udah ya, jangan marah-marah terus. Kasihan dedek bayinya tiap hari kaget."
Satu usapan lembut Kai berikan di puncak kepala Krystall. Wanita itu langsung luluh begitu saja dan merangsek ke dalam lengan Kai.
"Gitu dong. Kamu gak boleh ngomel kalau aku minta apa-apa."
Kai hanya mengangguk setuju, padahal di dalam hatinya dia menjerit tidak kuat dengan drama rumah tangga yang baru dia tahu selama satu Minggu menikah.
****
Kai & Krystall kembali di season dua ini ya. Kalau di season satu masalahnya ringan, kali ini di season dua ini demi perkembangan karakter mereka masing-masing aku bikin masalahnya lebih berat dari sebelumnya.
Tapi mari kita mulai dari masalah ringan dulu sebelum ke masalah inti.
Semoga sukaaakkk ❣️
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️