Selasa sore, pekerjaan selesai lebih cepat dari dugaanku. Aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku punya waktu sekitar empat puluh menit untuk bertemu di kedai dekat kantor. Ia menjawab bahwa ia bisa datang, lalu menanyakan apakah aku ingin memesan makanan atau hanya minum.
'Minum saja. Aku sudah makan.'
'Baik. Saya akan tiba sekitar lima belas menit lagi.'
Aku sampai lebih dulu dan memilih meja dekat jendela. Saat Aldo datang, ia tidak membawa bunga atau hadiah. Ia hanya menyapaku dan duduk setelah bertanya apakah kursi di seberangku boleh dipakai.
'Bagaimana pekerjaanmu kemarin?' tanyanya.
'Rapat panjang, tapi akhirnya selesai. Hari ini lebih baik.'
'Kamu selalu bilang hari baik kalau tidak ada rapat panjang?'
'Tidak selalu. Tapi rapat kemarin memang menguji kesabaranku.'
Ia tersenyum. 'Saya tahu rasanya. Kadang saya juga duduk dalam rapat yang bisa selesai lebih cepat kalau semua orang mendengarkan.'
'Mas juga harus memastikan Mas sendiri mendengarkan.'
'Saya sedang mencoba.'
Aku tertawa kecil. Obrolan kami mengalir ke hal-hal sederhana. Ia bercerita bahwa Rafi mulai menyukai cerita tentang hewan, sementara aku menceritakan bahwa Alisha dulu takut pada kucing tetangga tetapi sekarang selalu menyapanya.
'Apa yang membuatnya berubah?' tanya Aldo.
'Kucing itu pernah duduk di teras dan tidak mengganggunya. Alisha jadi berani memberi makan.'
'Jadi rasa takutnya berkurang setelah punya pengalaman sendiri.'
'Benar. Kadang penjelasan saja tidak cukup.'
Aldo terdiam sejenak. 'Kamu sedang bicara tentang Rafi juga?'
'Sebagian. Aku pikir dia perlu mengenalku dengan caranya sendiri, bukan hanya diberi tahu siapa aku.'
'Saya setuju. Saya tidak akan memaksanya merasa dekat.'
'Dan Mas juga perlu mengenalku, bukan hanya menyukai kenyataan bahwa aku bersikap baik kepada Rafi.'
'Saya tahu. Saya ingin mengenalmu sebagai Alia.'
Aku bertanya apa yang ia ingin ketahui. Aldo mengatakan bahwa ia ingin tahu hal-hal yang membuatku merasa tenang, juga hal-hal yang membuatku kecewa. Aku menjawab bahwa aku merasa tenang jika orang berbicara terus terang dan tidak menyembunyikan masalah sampai semuanya terlambat.
'Aku tidak suka diberi tahu tentang keputusan besar setelah semuanya diputuskan,' lanjutku. 'Aku ingin dilibatkan sejak awal, meskipun akhirnya pendapatku berbeda.'
'Saya mengerti. Saya sering memberi tahu orang setelah saya merasa keputusan sudah jelas.'
'Itu membuat orang lain hanya punya pilihan menerima atau menolak.'
'Benar. Saya akan berusaha membicarakan prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.'
'Aku juga ingin tahu apa yang Mas inginkan untuk hidupmu sendiri.'
Ia memandang cangkirnya. 'Saya ingin punya rumah yang terasa tenang. Saya ingin Rafi tumbuh tanpa merasa harus menjaga perasaan saya. Saya ingin bisa bekerja tanpa membawa semua masalah kantor ke rumah.'
'Dan soal pasangan?'
'Saya ingin memiliki teman hidup. Tapi saya tidak ingin menjadikan kebutuhan itu alasan untuk terburu-buru menikah.'
Jawaban itu membuatku merasa Aldo mulai memisahkan keinginannya dari kebutuhan Rafi. Aku tetap belum tahu apakah kami cocok, tetapi percakapan ini memberiku gambaran yang lebih jujur.
Ketika waktu kami hampir habis, Aldo bertanya apakah aku ingin membahas masa lalu lebih jauh.
'Tidak hari ini,' jawabku. 'Aku sudah mendengar cukup banyak untuk memahami garis besarnya. Kalau ada hal yang perlu kuketahui nanti, aku akan bertanya.'
'Baik. Saya tidak ingin membuatmu mendengar sesuatu yang belum siap kamu dengar.'
'Dan aku tidak ingin Mas mengira diamku berarti aku tidak tertarik. Aku hanya perlu waktu untuk memikirkan apa yang sudah kita bicarakan.'
'Saya mengerti. Saya juga perlu waktu.'
Kami membayar pesanan masing-masing. Aldo tidak menawarkan untuk membayar keduanya setelah aku menjelaskan sejak awal bahwa aku ingin membagi biaya. Hal itu mungkin sederhana, tetapi membuatku merasa pendapatku tentang hal kecil pun dihargai.
Sebelum kami berpisah, aku bertanya apakah ia merasa keberatan jika aku belum siap bertemu Rafi lagi dalam waktu dekat.
'Tidak,' katanya. 'Saya ingin kamu bertemu dengannya hanya saat kamu memang mau. Rafi tetap punya banyak orang yang menyayanginya.'
'Aku senang Mas mengatakannya.'
Waktu empat puluh menit hampir habis. Aldo melirik jam, lalu bertanya apakah aku harus segera pergi.
'Iya. Aku masih ada urusan di rumah.'
'Baik. Terima kasih sudah meluangkan waktu.'
'Sama-sama. Kita tidak perlu merencanakan pertemuan berikutnya sekarang.'
'Saya mengerti. Kalau kamu sudah tahu jadwalmu, kabari saja. Kalau belum, kita biarkan dulu.'
Aku mengangguk. Kami berpisah di depan kedai. Dalam perjalanan pulang, aku menyadari bahwa pembicaraan tentang masa lalu dan keinginan pribadi Aldo terasa belum selesai. Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mengorek semua jawabannya dalam satu pertemuan.
Aku keluar dari kedai dengan pikiran yang lebih ringan. Kami tidak menyelesaikan semua pertanyaan, tetapi tidak ada yang memaksaku menjawabnya saat itu juga.
Aku tidak merasa semua keraguan hilang, tetapi aku lebih mampu memisahkan rasa takut dari hal yang benar-benar terjadi.
Ketika aku sampai di rumah, Alisha bertanya apakah pertemuanku dengan Aldo tadi membahas masa lalu lagi.
'Mungkin sedikit. Tapi aku ingin tahu tentang dirinya sekarang juga.'
'Apa yang ingin Kakak tanyakan?'
'Bagaimana ia membayangkan hidupnya, apa yang ia suka, dan apa yang ia harapkan dari pasangan.'
'Jangan lupa tanyakan apa yang dia harapkan dari dirinya sendiri,' kata Ibu. 'Kadang orang pandai menjelaskan keinginan dari pasangan, tetapi belum memikirkan tanggung jawabnya.'
Aku menyimpan kalimat itu dalam pikiran. Saat bertemu Aldo lagi nanti, aku tidak perlu mengubah obrolan menjadi wawancara. Aku bisa bertanya secara wajar dan mendengar jawabannya.
Malam itu Aldo mengirim pesan bahwa pada pertemuan lain nanti ia bisa membawa buku yang pernah diceritakan Rafi, jika aku tertarik melihatnya. Aku membalas bahwa ia tidak perlu membawa apa pun. Aku hanya ingin mengobrol.
'Baik. Saya tidak akan menyiapkan sesuatu yang membuat pertemuan terasa resmi.'
'Terima kasih. Aku juga tidak ingin memberi kesan bahwa kita sedang merayakan sesuatu.'
'Saya mengerti.'
Aku menutup ponsel dan melanjutkan membaca. Untuk pertama kalinya, aku tidak memeriksa berulang kali apakah Aldo sudah membalas. Aku bisa menunggu tanpa merasa harus memastikan keadaan hubungan kami setiap saat.