Rabu siang, Aldo mengirim pesan bahwa Tante mengundang kami makan malam akhir pekan. Ia menegaskan bahwa aku tidak wajib datang dan bertanya apakah undangan itu membuatku nyaman.
Aku membaca pesannya sambil menunggu giliran menyelesaikan pekerjaan. Aku tidak ingin makan malam keluarga menjadi acara yang membuat semua orang mengira hubungan kami sudah resmi.
'Kalau aku datang, aku ingin Tante tahu bahwa aku datang sebagai tamu. Aku belum siap menjawab pertanyaan tentang pernikahan.'
'Saya akan menyampaikan itu. Kalau kamu lebih nyaman tidak datang, saya juga mengerti.'
Aku berpikir sebentar. 'Aku akan datang sebentar, tapi aku pulang sendiri sekitar jam delapan.'
'Baik. Saya akan memberi tahu Ibu dan memastikan tidak ada yang menahanmu.'
Balasan itu membuatku sedikit lega, tetapi tetap ada rasa gugup. Aku bertanya kepada Ibu apakah menurutnya aku perlu hadir.
'Kalau kamu ingin datang, datanglah. Kalau hanya karena takut dianggap tidak sopan, kamu boleh menolak.'
'Aku penasaran bertemu Tante lagi, tapi tidak ingin diperlakukan seperti calon menantu yang sudah pasti.'
'Sampaikan sebelum pergi. Kamu tidak perlu menunggu sampai merasa terpojok.'
Sebelum datang, aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku akan tiba sekitar pukul tujuh. Ia menjawab bahwa ia akan menyambutku di teras, lalu bertanya apakah aku ingin bertemu Rafi malam itu. Aku mengatakan bahwa Rafi tidak ada di rumah dan aku memang ingin berbincang dengan Tante.
'Baik. Saya tidak akan mengubah rencana tanpa bertanya.'
Jumat malam, aku tiba di rumah Tante sesuai waktu yang telah kusampaikan. Aldo menyambutku di teras, lalu bertanya apakah perjalanan lancar. Ia tidak mencoba memegang barang-barangku atau mengatur tempat duduk.
'Tante sedang di dapur,' katanya. 'Kamu mau langsung masuk atau duduk sebentar?'
'Aku duduk di teras dulu.'
Ia mengangguk dan ikut duduk di kursi lain, menjaga jarak yang nyaman. Kami berbicara sebentar tentang pekerjaan. Kemudian Tante datang dan menyambutku dengan hangat.
'Terima kasih sudah datang, Alia. Tante senang kamu bisa mampir.'
'Terima kasih sudah mengundang saya, Tante. Saya hanya bisa sebentar malam ini.'
'Tidak apa-apa. Kamu pulang kapan pun kamu mau.'
Ketika Tante menyambutku, beliau tidak langsung bertanya apakah aku dan Aldo sudah sepakat untuk menikah. Beliau menanyakan kabar Ibu dan bagaimana pekerjaanku. Aku merasa diperlakukan sebagai tamu, seperti yang sebelumnya ia janjikan.
Saat makan, Aldo membantu Tante membawa piring, tetapi tidak memutuskan apa yang harus kuambil. Ia hanya bertanya apakah aku ingin menambah nasi. Aku menjawab tidak, dan ia menerima jawabanku.
Makan malam berlangsung sederhana. Rafi tidak ikut karena sedang pergi bersama kakeknya untuk bermalam di rumah kerabat. Kehadirannya memang tidak dijadikan alasan untuk mengundangku. Tante bertanya tentang pekerjaanku dan keluargaku, lalu bercerita tentang tanaman di halaman.
Setelah makan, Tante berkata bahwa ia berharap aku dan Aldo menemukan jalan yang baik. Aku segera menjelaskan bahwa kami masih saling mengenal dan belum membuat keputusan.
'Tante mengerti,' katanya. 'Tante tidak ingin kamu merasa harus menjadi bagian keluarga ini sebelum kamu siap.'
'Saya senang Tante memahami.'
Aldo menambahkan, 'Kami sudah bicara soal itu. Saya tidak meminta Alia memberi jawaban malam ini.'
Aku menatapnya. 'Terima kasih sudah menyampaikannya.'
Kami lalu membicarakan hal lain. Tante bercerita tentang kegiatan warga di lingkungannya, sementara Aldo mengeluh ringan bahwa ia pernah salah membeli pupuk untuk tanaman. Aku tertawa mendengar ceritanya, dan ia tidak mencoba mengubah tawa itu menjadi tanda bahwa kami semakin dekat.
Setelah makan, Tante bercerita tentang masa kecil Aldo. Ia mengatakan Aldo dulu tidak suka mengakui kalau ia salah, tetapi biasanya kembali meminta maaf setelah pikirannya lebih tenang.
'Apakah dia masih begitu?' tanyaku.
'Kadang,' jawab Tante. 'Tapi sekarang ia lebih cepat menyadari kalau sikapnya menyakiti orang.'
Aldo menghela napas. 'Ibu tidak perlu menceritakan semua keburukan saya.'
'Ini bukan keburukan,' kataku. 'Ini kebiasaan yang perlu Mas pahami.'
Ia menoleh kepadaku, lalu mengangguk. 'Benar.'
Percakapan itu membuat suasana santai. Tante tidak membela Aldo dan tidak meminta aku memaklumi apa pun. Ia juga tidak mengubah kisah lama itu menjadi alasan agar aku kasihan.
Sebelum pulang, Aldo menunjukkan rak tanaman kecil di dekat dapur. Ia bercerita bahwa Tante merawat tanaman itu dan kadang ia membantu menyiram.
'Aku tidak menyangka Mas suka tanaman,' kataku.
'Saya tidak terlalu paham. Saya hanya mengikuti instruksi Ibu.'
Tante tertawa. 'Instruksinya sudah Tante ulang berkali-kali.'
'Berarti saya murid yang lambat,' ujar Aldo.
'Yang penting kamu tidak membanjiri potnya,' kata Tante.
Obrolan itu membuatku melihat mereka sebagai keluarga dengan kebiasaan biasa, tidak hanya sebagai ayah dan anak yang sedang menghadapi duka. Aku tidak perlu menyelesaikan apa pun bagi mereka. Mereka sudah punya hubungan dan cara mereka sendiri menjalani hari.
Menjelang pukul delapan, aku berdiri dan mengambil tas.
'Sudah waktunya pulang?' tanya Tante.
'Iya, Tante. Terima kasih untuk makan malamnya.'
'Sama-sama. Hati-hati di jalan.'
Aldo bertanya apakah aku perlu diantar. Aku menjawab sudah memesan kendaraan. Ia tidak bersikeras.
'Baik. Kabari kalau sudah sampai, kalau kamu berkenan.'
'Aku bisa mengabari.'
Sepanjang perjalanan, aku merasa lega. Aku bisa hadir, menyampaikan batas, dan pulang sesuai waktu. Tidak ada yang memaksaku memberi jawaban. Malam itu mengajarkanku bahwa keluarga Aldo bisa menjadi bagian dari proses tanpa mengambil alih keputusan.
Dalam perjalanan pulang, aku mengingat obrolan tentang keinginannya sendiri. Jawabannya belum memberi kepastian, tetapi setidaknya ia mulai menyadari bahwa menikah bukan cara untuk mengatasi semua rasa sepi atau kekhawatiran. Aku juga perlu memastikan bahwa keputusanku kelak tidak didorong rasa iba.
Aku tidak ingin setiap undangan keluarga dianggap sebagai langkah menuju pernikahan. Aku berhak hadir sebagai diriku sendiri, bukan sebagai calon menantu yang sudah disetujui.
Aku pulang dengan perasaan lega. Aku sempat hadir, menyampaikan batas, dan pulang sesuai waktu yang kusampaikan.
Aku mengingatkan diri bahwa tidak semua jeda perlu diisi dengan penjelasan panjang. Kadang kejelasan sederhana sudah cukup.