Senin pagi, aku bangun dengan daftar pekerjaan yang harus selesai sebelum sore. Ada beberapa berkas yang menunggu, rapat singkat, dan urusan rumah yang sudah kujanjikan kepada Ibu. Aku mengingat kata-kataku sendiri: hubunganku dengan Aldo harus memberi ruang bagi hidupku, bukan mengambil alih semua jadwal.
Saat sedang merapikan meja, ponselku berbunyi. Aldo mengirim pesan, menanyakan apakah aku sempat makan siang.
'Belum. Hari ini agak padat,' balasku.
'Kalau begitu, jangan lupa makan meskipun hanya sebentar.'
Pesannya terdengar perhatian, tetapi aku tidak ingin ia merasa perlu mengatur waktuku. Aku menjawab, 'Aku akan atur sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan.'
Ia membalas dengan tanda jempol dan tidak mengirim pesan lagi. Aku kembali bekerja. Menjelang tengah hari, rapat yang seharusnya selesai cepat justru berlangsung lebih lama. Aku mulai merasa lelah, tetapi tetap menyelesaikan bagian yang harus kukirim.
Ketika akhirnya beristirahat, aku membeli makan di dekat kantor dan mengirim pesan kepada Ibu bahwa aku mungkin pulang sedikit terlambat. Ia menjawab agar aku tidak terburu-buru.
Sore hari, Aldo bertanya lewat pesan apakah aku sudah selesai bekerja. Aku memberitahunya bahwa aku masih harus menyelesaikan satu hal.
'Kalau begitu, saya tidak akan menelepon. Semoga urusanmu cepat selesai.'
Aku tersenyum kecil. 'Terima kasih. Nanti kalau sudah selesai aku kabari.'
Namun setelah pekerjaan berakhir, aku harus membantu Ibu membeli kebutuhan rumah. Aku baru tiba di rumah saat langit mulai gelap. Aku mengirim kabar kepada Aldo bahwa aku sudah pulang dan tidak punya tenaga untuk menelepon malam itu.
'Istirahat saja. Kita bisa bicara lain kali,' jawabnya.
Alisha sedang duduk di ruang keluarga ketika aku masuk.
'Mas Aldo tidak protes?' tanyanya.
'Tidak. Dia bilang aku istirahat saja.'
'Kakak senang?'
'Aku senang dia menghormati waktuku. Tapi aku tidak mau menilai semuanya hanya dari satu hari.'
Ibu meletakkan segelas air di dekatku. 'Konsistensi memang perlu waktu untuk terlihat.'
Aku mengangguk. Setelah makan malam, aku mandi dan duduk sebentar bersama keluarga. Ibu bertanya tentang pekerjaan. Aku bercerita bahwa rapat molor, lalu Alisha menggoda bahwa rapat orang dewasa selalu lebih lama daripada yang dijanjikan.
'Kadang memang begitu,' kataku. 'Tapi setidaknya hari ini aku tetap sempat makan.'
'Karena diingatkan Aldo?' Alisha bertanya.
'Karena aku mengatur waktu sendiri. Pesannya hanya pengingat.'
Ia mengangkat kedua tangan. 'Baik, Kak. Aku tidak akan mengganggu kisah cintamu.'
'Ini belum kisah cinta.'
'Belum,' katanya sambil tersenyum.
Saat merapikan tas di rumah, aku mengeluarkan bahan makanan yang tadi kubeli bersama Ibu sepulang kerja. Aku teringat pesan Aldo yang mengingatkanku makan. Kali ini aku tidak membaca ulang pesannya sebagai tuntutan. Ia sudah memberi ruang setelah aku menjawab.
Di rumah, Ibu bertanya apakah aku akan bertemu Aldo besok.
'Kalau pekerjaan selesai tepat waktu. Kalau tidak, kami bisa mencari hari lain.'
'Kamu sudah mengatakan itu kepadanya?'
'Belum, karena jadwalnya belum pasti.'
'Bagus. Beri kabar begitu kamu tahu. Kejelasan kecil bisa mencegah salah paham.'
Aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku masih ingin bertemu, tetapi perlu memastikan pekerjaan. Ia menjawab bahwa ia bisa menunggu kabar dan tidak perlu memesan tempat dulu.
'Terima kasih sudah fleksibel,' tulisku.
'Saya juga sedang belajar tidak membuat rencana terlalu cepat,' jawabnya.
Sikap itu membuatku lebih mudah menerima ajakan pertemuan. Aku merasa kami mulai belajar menyesuaikan rencana bersama, bukan menetapkan sesuatu sepihak.
Malam itu aku membuka pesan Aldo lagi dan menulis, 'Terima kasih karena tadi tidak memaksaku menelepon. Hari ini memang melelahkan.'
'Saya mengerti. Semoga besok lebih ringan. Kalau ada waktu, ceritakan bagaimana pekerjaanmu. Kalau tidak, tidak apa-apa.'
Aku membalas bahwa aku akan bercerita jika ada kesempatan. Sikapnya membuatku merasa bahwa komunikasi tidak harus selalu berlangsung setiap jam untuk membuktikan perhatian.
Sebelum tidur, aku memikirkan perbedaan antara perhatian dan kendali. Seseorang bisa mengingatkanku makan tanpa menentukan kapan aku harus berhenti bekerja. Aku bisa menerima perhatian tanpa menyerahkan kebebasanku. Jika hubungan ini berlanjut, keseimbangan seperti itu akan penting.
Esok harinya aku berencana bertemu Aldo sebentar setelah pekerjaanku selesai, tetapi aku belum mengonfirmasi. Aku ingin menunggu sampai tahu jadwal pasti. Untuk sekarang, aku membiarkan Senin berakhir tanpa kesimpulan besar.
Selasa pagi, aku menyusun ulang prioritas pekerjaanku. Ada satu tugas yang bisa kutunda dan satu yang harus selesai sebelum siang. Aku sengaja tidak mengisi setiap jeda dengan pesan atau telepon. Hubungan yang sehat seharusnya tidak menuntutku selalu siap sedia.
Saat istirahat, rekan kerjaku bertanya apakah aku sedang dekat dengan seseorang. Aku menjawab bahwa aku sedang mengenal seseorang, tetapi belum tahu akan ke mana.
'Kamu terdengar hati-hati,' katanya.
'Aku memang ingin berhati-hati. Aku pernah merasa keputusan orang lain dibuat seolah-olah aku tinggal menyetujuinya.'
'Sekarang kamu punya waktu untuk memutuskan sendiri.'
'Iya. Aku ingin menjaganya.'
Menjelang siang, salah satu rekan kerja meminta bantuanku memeriksa dokumen. Aku menyelesaikannya tanpa terburu-buru, lalu mengirim kabar bahwa pekerjaanku segera selesai. Aku merasa senang karena hari itu aku bisa menjalani tanggung jawabku tanpa menunggu kabar dari Aldo. Saat kami saling berkirim pesan, percakapan itu menjadi tambahan yang menyenangkan, bukan sesuatu yang harus menentukan suasana hatiku.
Aku juga memikirkan bagaimana aku ingin bersikap jika Aldo kembali membuat keputusan sepihak. Aku tidak mau memendam keberatan hanya demi menjaga suasana. Jika hubungan ini akan tumbuh, ia harus bisa menampung percakapan yang tidak nyaman. Begitu pula aku harus bersedia mendengar ketika Aldo menyampaikan batas atau pendapatnya sendiri.
Aku menyiapkan dokumen untuk esok hari sebelum menutup laptop di meja kerja. Aku berusaha tidak membawa ketegangan pekerjaan ke rumah. Kalau aku ingin mengenal Aldo dengan baik, aku juga harus memberi perhatian pada kehidupanku sendiri dan menjaga keseimbangannya.
Aku juga mengingatkan diri bahwa rasa nyaman perlu dibangun dari tindakan berulang, bukan dari satu hari yang baik.
Sebelum meninggalkan meja, aku memastikan pengingat kerja sudah terpasang dan tas siap untuk esok hari.
Aku berkata kepada diri sendiri, 'Aku boleh menerima perhatian tanpa menyerahkan pilihanku.'
'Aku akan tetap menjaga waktuku,' kataku kepada diri sendiri.