Rabu malam, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi ingin menunjukkan gambar yang ia buat. Ia bertanya apakah aku bersedia melihatnya lewat foto, tanpa harus datang. Aku membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab.
'Boleh, kalau Rafi memang ingin mengirimnya. Tapi jangan bilang kepadanya bahwa aku pasti datang lagi.'
'Saya mengerti. Saya akan bertanya dulu apakah ia nyaman mengirim foto.'
Beberapa menit kemudian, sebuah gambar masuk. Ada rumah dengan atap merah, pohon besar, dan tiga orang berdiri di halaman. Rafi menulis keterangan dengan bantuan ayahnya: 'Ini rumah kami dan keluarga yang sering datang.'
Aku tidak ada di dalam gambar. Entah kenapa, hal itu membuatku lega. Gambar itu milik Rafi, bukan sesuatu yang perlu memasukkanku hanya karena aku baru bertemu dengannya.
Aku membalas, 'Gambarnya bagus. Aku suka pohonnya. Kamu menggambar banyak daun.'
Tak lama, Rafi mengirim pesan suara pendek. 'Terima kasih, Kak Alia. Daunnya banyak karena pohonnya besar.'
Aku tertawa kecil mendengarnya. 'Kamu benar. Semoga pohonnya membuat rumah itu teduh.'
Aldo kemudian mengirim pesan bahwa Rafi senang menerima jawabanku. Ia tidak menambahkan kalimat bahwa anaknya merindukanku atau ingin aku datang. Aku menghargai sikap itu.
Keesokan harinya, aku bertanya kepada Aldo apakah ia sudah memikirkan batas yang kami bicarakan. Ia menjawab bahwa ia telah menjelaskan kepada Tante bahwa kami belum membuat keputusan.
'Tante bagaimana?' tanyaku.
'Beliau bilang yang penting kita jujur dan tidak terburu-buru.'
'Bagus. Aku juga sudah cerita sedikit kepada Ibu.'
'Apa pendapatnya?'
'Ibu bilang aku harus tetap melihat tindakannya, bukan hanya mendengar penjelasannya.'
'Itu masuk akal.'
Kami tidak merencanakan pertemuan besar untuk akhir pekan. Aldo menanyakan apakah aku ingin minum kopi setelah pekerjaanku selesai Jumat sore. Aku bilang mungkin bisa, tetapi akan memastikan setelah melihat jadwal.
'Kalau tidak bisa, tidak apa-apa,' katanya.
Jumat siang jadwalku berubah dan aku harus menyelesaikan pekerjaan lebih lama. Aku mengirim kabar bahwa aku tidak bisa bertemu. Aldo menjawab bahwa ia mengerti dan berharap pekerjaanku lancar. Ia tidak meminta aku mencari waktu pengganti saat itu juga.
Malamnya, aku berbicara dengan Ibu sambil membantu menata meja makan.
'Kamu kecewa tidak jadi bertemu?' tanyanya.
'Sedikit, karena aku ingin mengobrol. Tapi aku juga lega dia tidak membuatku merasa bersalah.'
'Itu perubahan yang bisa kamu amati.'
'Iya. Tapi aku tidak mau buru-buru menyimpulkan dia sudah berubah sepenuhnya.'
'Tidak perlu. Perubahan yang baik terlihat dari kebiasaan yang konsisten.'
Aku mengangguk. Esoknya Aldo tidak langsung mengirim pesan. Baru menjelang sore ia mengirim foto roti yang dibeli Rafi setelah kegiatan sekolah.
'Dia memilih sendiri,' tulisnya. 'Katanya mau menunjukkan roti favoritnya kalau kamu bertanya.'
Aku menjawab bahwa lain kali Rafi boleh bercerita tentang rasanya. Aku tidak mengatakan kapan 'lain kali' itu akan terjadi.
Malam itu aku membuka buku catatan, bukan untuk memutuskan apakah akan menikah, melainkan menuliskan hal yang perlu kuperhatikan: apakah Aldo konsisten menghormati waktu dan batas; apakah aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatnya; dan apakah perasaan kami tumbuh tanpa menjadikan Rafi penentu keputusan.
Aku menambahkan satu catatan lagi: aku tidak perlu membalas setiap kebaikan dengan kesediaan. Aldo boleh berubah menjadi lebih sabar tanpa aku berutang jawaban tertentu kepadanya. Kalau suatu hari aku memilih melanjutkan, keputusan itu harus datang dari keinginanku sendiri.
Beberapa hari terakhir memberiku kesempatan melihat tindakan kecil, tetapi belum cukup untuk memastikan masa depan. Aku akan tetap memperhatikan, tetap bertanya, dan tetap menjalani urusanku. Hubungan ini boleh tumbuh pelan-pelan, selama kami tidak mengubah harapan menjadi kewajiban.
Sabtu siang, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi menanyakan apakah aku sudah melihat gambar yang ia kirim. Aku menjawab bahwa aku sudah melihatnya dan menyukai pohon besar di halaman. Aldo meneruskan jawabanku kepada Rafi setelah bertanya apakah anak itu ingin membacanya.
Rafi mengirim balasan suara. 'Kak Alia, pohonnya pohon mangga. Ayah bilang kalau besar nanti bisa banyak buah.'
'Kalau begitu, kamu harus sabar menunggu pohonnya tumbuh,' balasku.
'Aku mau menanam pohon kecil juga.'
'Semoga berhasil. Jangan lupa menyiram secukupnya.'
Ia tertawa di ujung pesan. Percakapan itu sederhana dan berhenti setelah beberapa pesan. Aldo tidak memakainya untuk mengajakku datang atau mengatakan Rafi merindukanku. Aku menyadari bahwa menjaga batas juga berarti membiarkan hubungan dengan Rafi terbentuk dalam hal-hal ringan, tanpa menyisipkan harapan orang dewasa.
Malamnya, Aldo mengirim pesan pribadi. 'Terima kasih sudah membalasnya. Saya senang kamu bisa berkomunikasi dengannya tanpa merasa harus menjanjikan sesuatu.'
'Aku juga senang bisa menjawab dengan jujur,' tulisku. 'Tolong tetap pastikan dia tahu bahwa kita belum menentukan apa pun.'
'Saya akan melakukannya.'
Aku meletakkan ponsel. Ada rasa hangat karena Rafi berbagi cerita tentang pohonnya, tetapi aku tidak menganggapnya pertanda bahwa aku harus menikah dengan Aldo. Aku bisa menyayangi percakapan kecil itu dan tetap mengambil waktu untuk memikirkan hidupku sendiri.
Aku belum punya jawaban. Namun kini, untuk pertama kalinya, aku merasa pertanyaan-pertanyaan itu boleh dijawab perlahan. Aku bisa menyayangi percakapan kecil dengan Rafi sekaligus menjaga batas bagi diriku. Dua hal itu dapat berjalan bersama selama orang dewasa tidak mengubah keramahan menjadi janji. Aku berharap Aldo terus memahami perbedaan itu melalui tindakannya, dan aku akan tetap menyampaikan dengan jelas jika ada hal yang membuatku tidak nyaman.
Sebelum tidur, aku membayangkan percakapan berikutnya dengan Aldo. Aku ingin bertanya tentang pekerjaan dan rencana hidupnya, bukan hanya tentang pernikahan. Aku juga ingin bercerita lebih banyak tentang diriku. Jika kami terus mengenal, kami harus sama-sama hadir sebagai dua orang dewasa, bukan hanya sebagai ayah yang mencari pendamping dan perempuan yang diminta mengisi peran.
Besok aku akan menjalani hari seperti biasa. Jika Aldo menghubungiku, aku akan menjawab sesuai waktu yang kumiliki. Jika ia tidak menghubungi, aku tidak akan menganggap diamnya sebagai masalah. Kami sedang belajar memberi ruang, dan ruang itu harus berlaku bagi kami berdua.