Sejak kembali dari wisata, pekerjaanku di restoran perlahan bertambah. Pak Willy meminta aku membantu Bu Rani mencocokkan transaksi kasir dengan tagihan pesanan rombongan. Aku tidak langsung berhenti menjaga kasir. Kami lebih dulu membagi shift dengan Ridwan, lalu mencatat tugas administrasi yang benar-benar bisa kuambil. Setelah beberapa pekan, Pak Willy menawarkan pemindahan ke ruang administrasi restoran untuk masa percobaan, dengan jam dan upah yang disepakati tertulis. Bu Rani tetap manajer; aku tidak mengambil kedudukannya.
Aku menerima setelah memeriksa pembagian kerja dan menyerahkan catatan kasir kepada Ridwan. Ruang administrasi yang biasa disebut kantor itu berada dalam usaha restoran yang sama. Timnya menangani pencatatan pesanan rombongan serta layanan katering; pelanggan yang memesan untuk kelompok perlu tagihan dan jadwal yang lebih rinci. Aku masih belajar dari kuitansi dan pesanan yang dulu melewati mejaku, hanya kini tanggung jawabku meliputi pemeriksaan laporan. Pak Willy menegaskan aku boleh kembali ke tugas lama jika masa percobaan tidak cocok. Aku ingin mencoba karena tertarik pada pekerjaannya, bukan karena kedekatanku dengan pemiliknya.
Selasa sore aku bertemu Aldo di sebuah kedai kecil dekat tempat kerjaku. Aku memilih tempat itu karena mudah dijangkau dan suasananya tidak terlalu ramai. Kami sepakat bertemu hanya sebentar untuk membicarakan cara melanjutkan proses saling mengenal.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Aku ingin membicarakan beberapa hal setelah bertemu Rafi.'
'Saya mendengarkan.'
'Aku senang bertemu dengannya. Tapi aku tidak ingin setiap pertemuan menjadi semacam ujian apakah aku cocok menjadi ibu.'
'Saya tidak akan menjadikannya ujian.'
'Bukan hanya soal kata-kata. Aku ingin Mas juga memperhatikan kalau orang lain mulai menganggap pertemuan kita sebagai tanda bahwa pernikahan sudah dekat.'
'Saya bisa menjelaskannya kepada keluarga.'
'Jangan jelaskan atas namaku seolah-olah aku sudah setuju. Cukup katakan kita masih saling mengenal.'
'Baik.'
Aku menyesap minuman. 'Aku juga ingin kita tidak bertemu setiap hari. Aku punya pekerjaan, keluarga, dan waktu sendiri.'
'Saya tidak mengharapkan kamu mengubah rutinitasmu.'
'Kalau begitu, mari buat rencana seperlunya. Misalnya satu kali bertemu minggu ini, lalu kita lihat lagi.'
'Setuju. Saya tidak ingin jadwal bertemu terasa seperti kewajiban.'
'Dan kalau salah satu dari kita membatalkan, kita beri tahu secepatnya tanpa membuat pihak lain merasa bersalah.'
'Saya setuju.'
Ia lalu bertanya apakah ada hal lain yang membuatku tidak nyaman. Aku mengingat beberapa percakapan lama, terutama saat ia menjawab pertanyaanku dengan nada memerintah.
'Kalau Mas tidak setuju denganku, katakan alasanmu. Jangan mengakhiri pembicaraan dengan 'pokoknya'.'
Ia tersenyum kecil, tetapi tidak menganggapnya lelucon. 'Saya memang sering melakukannya.'
'Aku juga akan berusaha tidak menganggap semua perbedaan sebagai tanda bahwa kita pasti gagal.'
'Itu adil.'
Kami membicarakan hal-hal yang tidak selalu mudah. Aku bertanya apakah ia ingin menikah lagi karena kesepian atau karena benar-benar ingin membangun hubungan baru.
'Awalnya saya mencampuradukkan keinginan Rafi punya keluarga dengan keinginan saya sendiri,' katanya. 'Sekarang saya sedang memisahkan keduanya. Saya tidak mau menikah hanya supaya rumah terasa lebih ramai.'
'Apakah Mas sudah siap mencintai orang lain?'
Ia tidak langsung menjawab. 'Saya belum tahu. Saya masih menyayangi almarhumah sebagai bagian dari hidup saya. Saya tidak ingin berpura-pura itu hilang. Tapi saya juga mulai menyadari bahwa mengenalmu bukan berarti mengkhianati kenangan itu.'
'Aku tidak meminta Mas melupakan dia. Aku hanya tidak mau dibandingkan atau dianggap mengisi tempat kosong.'
'Saya mengerti.'
'Kalau suatu hari Mas sadar belum siap, katakan. Jangan terus berjalan hanya karena sudah mulai.'
'Saya akan berusaha jujur.'
'Aku juga harus jujur kalau perasaanku tidak berkembang.'
'Saya ingin kita sama-sama bisa melakukan itu.'
Setelah pembicaraan berat tersebut, kami membicarakan pekerjaan. Aldo bertanya bagaimana proyek yang sedang kutangani. Aku menceritakan bahwa ada rekan kerja yang sering mengubah jadwal rapat mendadak.
'Kamu menegurnya?' tanyanya.
'Aku minta ia memberi kabar lebih awal. Aku tidak bisa selalu mengubah rencanaku.'
'Kamu memang cukup tegas soal waktu.'
'Aku belajar bahwa kalau aku tidak menjaga waktuku sendiri, orang lain akan mengisinya.'
'Saya perlu belajar hal yang sama.'
Kami menyadari bahwa banyak kesepakatan kami berawal dari hal kecil: memberi kabar, tidak menganggap waktu orang lain otomatis tersedia, dan berani mengatakan tidak. Tidak ada jaminan semua akan berjalan lancar, tetapi setidaknya kami mulai membuat ruang untuk berbicara.
Aku juga bertanya apakah ia menginginkan pertemuan ini berjalan menuju keputusan tertentu.
'Saya berharap kita semakin mengenal satu sama lain,' katanya. 'Tapi saya tidak mau menetapkan tanggal atau hasil sebelum kita tahu apa yang kita rasakan.'
'Mas masih ingin menikah suatu hari nanti?'
'Saya ingin punya pasangan lagi, tetapi saya tidak tahu apakah kita pasangan yang tepat. Saya harus menerima kemungkinan bahwa jawabannya tidak.'
'Dan aku harus bisa berkata tidak tanpa merasa merusak keluargamu.'
'Kamu tidak merusak apa pun dengan jujur.'
Aku menatapnya beberapa saat. 'Aku ingin Mas benar-benar percaya itu, bukan hanya mengatakannya karena kita sedang bicara.'
'Saya akan berusaha menunjukkannya.'
Obrolan kami lalu beralih ke hal ringan. Aldo bertanya tempat makan yang kusukai, dan aku menyebut warung mi dekat kantor. Ia mengatakan belum pernah ke sana. Kami tidak menjadikan itu rencana kencan; hanya berbagi informasi tentang kebiasaan masing-masing.
Di kedai, Aldo juga mengakui bahwa ia tidak selalu tahu cara menyampaikan sesuatu dengan lembut. Ia bertanya apakah aku bersedia mengatakan langsung kalau nada bicaranya mulai terdengar memerintah.
'Aku bisa mengatakannya, tapi Mas juga harus menerima tanpa langsung membela diri.'
'Saya akan berusaha mendengarkan dulu.'
'Dan kalau aku yang salah, Mas boleh bilang. Aku tidak ingin hubungan ini hanya berisi daftar kesalahanmu.'
Ia tertawa kecil. 'Saya juga tidak ingin begitu.'
Kami sepakat bahwa saling mengingatkan bukan berarti salah satu menjadi guru bagi yang lain. Kami sama-sama dewasa dan bertanggung jawab atas tindakan masing-masing.
Sebelum berpisah, Aldo bertanya apakah aku bersedia bertemu lagi minggu depan.
'Aku belum tahu jadwalku. Nanti kukabari.'
'Baik. Saya tidak akan menanyakan berulang kali.'
'Terima kasih.'
Kami keluar dari kedai dan berpisah di tempat parkir. Aku pulang tanpa merasa baru saja menandatangani janji. Kami hanya menyepakati batas yang bisa membuat proses ini lebih sehat.
Ketika aku pulang, aku menyadari bahwa pembicaraan jujur bisa membuat suasana lebih nyaman tanpa membuat semua keraguan hilang.
Di rumah, aku mencatat beberapa hal yang kusukai dari pertemuan dengan Aldo. Ia mendengarkan tanpa menyela beberapa kali, tidak memaksakan rencana, dan mengakui bahwa ia belum tahu apakah siap menikah. Aku juga menulis hal yang masih perlu kulihat: apakah sikap itu bertahan saat ia kecewa, apakah ia bisa menerima penolakanku, dan apakah aku sendiri merasa nyaman.
Aku menunjukkan catatan itu kepada Ibu. 'Kamu tidak perlu menjawab semua pertanyaan sekaligus,' katanya. 'Tapi jangan abaikan yang membuatmu tidak nyaman hanya karena ada hal-hal baik.'
'Aku tidak akan, Bu.'
'Dan jangan pula menolak hanya karena takut sesuatu akan gagal. Lihat kenyataannya satu per satu.'
Aku tahu Ibu tidak memilihkan jalan. Ia membantuku memisahkan harapan, kekhawatiran, dan hal yang benar-benar terjadi.