Senin malam Aldo mengirim pesan, menanyakan apakah aku punya waktu untuk berbicara sebentar. Aku sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, jadi aku menjawab bahwa aku bisa menelepon setelah selesai.
'Bagaimana harimu?' tanyanya saat aku menghubungi.
'Lumayan. Banyak pekerjaan, tapi semuanya selesai. Rafi bagaimana?'
'Dia baik. Tadi ia bertanya apakah kamu akan datang lagi.'
Aku terdiam sebentar. 'Apa yang Mas jawab?'
'Saya bilang kita belum menentukan apa-apa. Saya bertanya apakah ia senang bertemu denganmu. Dia bilang senang, tapi tidak meminta saya menjanjikan pertemuan berikutnya.'
'Bagus. Aku tidak ingin ia menunggu sesuatu yang belum pasti.'
'Saya juga tidak.'
Aldo bercerita bahwa mereka berbicara tentang kunjungan itu ketika Rafi merapikan mainannya. Ia bertanya apakah anaknya merasa bingung karena aku datang. Rafi menjawab bahwa ia menganggapku teman ayahnya.
'Lalu ia bertanya apakah teman bisa menjadi keluarga,' lanjut Aldo.
'Apa yang Mas jawab?'
'Saya bilang kadang orang yang berteman menjadi keluarga, kadang tetap menjadi teman. Tidak ada yang salah dengan keduanya.'
'Itu jawaban yang baik.'
'Saya tidak ingin membuatnya takut kehilangan seseorang yang baru dikenalnya.'
'Kita juga jangan membuat pertemuan denganku menjadi sesuatu yang terlalu besar. Kalau kita bertemu lagi, biarkan itu terjadi karena memang cocok untuk semua orang.'
'Saya setuju.'
Aku lalu bertanya bagaimana perasaan Aldo sendiri setelah melihatku bersama Rafi.
'Saya senang kalian bisa mengobrol,' jawabnya. 'Tapi saya tidak menganggap itu berarti kamu sudah menyetujui lamaran.'
'Aku ingin mendengar itu langsung darimu.'
'Saya tahu satu sore tidak cukup untuk menilai masa depan.'
'Dan aku tidak mau dipuji karena bermain dengan anak kecil. Aku datang karena aku ingin mengenal Rafi, bukan supaya dianggap cocok sebagai istri.'
'Saya mengerti. Saya tidak akan menjadikan itu bukti untuk menekanmu.'
Percakapan kami sempat hening. Aku bertanya apakah Aldo ingin mengubah jadwal Rafi untuk memberiku ruang jika kami bertemu lagi.
'Tidak perlu. Rutinitasnya tetap. Kita bisa bertemu di waktu yang tidak mengganggu sekolah atau istirahatnya.'
'Bagus. Aku juga punya pekerjaanku dan keluarga. Kita perlu mencari waktu yang wajar, bukan menganggap aku harus selalu tersedia.'
'Saya akan mengingatnya.'
Aku mengatakan bahwa aku senang Rafi tidak diminta memanggilku dengan sebutan tertentu. Aldo menjawab bahwa ia tidak pernah meminta itu dan tidak akan melakukannya.
'Dia sudah punya ibu,' katanya. 'Tidak ada orang yang harus menggantikan kenangan itu.'
'Dan kalau suatu hari aku dekat dengannya, kedekatan itu harus tumbuh dengan caranya sendiri.'
'Ya.'
Aku merasa pembicaraan ini penting karena kami membahas dampak keputusan orang dewasa terhadap Rafi tanpa menjadikannya alasan untuk mempercepat hubungan. Aldo tidak meminta aku menyusun jawaban bagi anaknya. Ia menjalankan perannya sebagai ayah dan membuka ruang bagiku untuk memberi batas.
Sebelum kami menutup telepon, Aldo bertanya apakah ada hal yang perlu ia lakukan berbeda saat Rafi bercerita.
'Tidak perlu membuat persiapan khusus,' kataku. 'Dengarkan saja. Jangan menjadikan setiap ceritanya sebagai pertanyaan tentang aku.'
'Saya akan mengingatnya. Rafi perlu tahu bahwa ia boleh bicara tentang apa pun tanpa harus membuat keputusan mengenai kita.'
'Tepat.'
Sebelum menutup telepon, ia bertanya apakah aku mau bertemu lagi akhir pekan berikutnya. Aku belum tahu jadwalku.
'Aku periksa dulu. Jangan bilang ke Rafi sebelum aku memastikan.'
'Baik. Kalau kamu tidak bisa, kita cari waktu lain atau tidak bertemu dulu. Tidak apa-apa.'
'Terima kasih karena tidak mendesak.'
'Saya sedang belajar bahwa menunggu jawaban juga bagian dari menghormati seseorang.'
Aku tidak ingin hubungan ini berubah menjadi proyek yang harus selesai dalam waktu tertentu. Aldo mengatakan ia juga tidak ingin menetapkan tenggat. 'Kita bisa berhenti kalau salah satu merasa tidak cocok,' katanya. Aku mengangguk, merasa lega karena kemungkinan itu akhirnya diucapkan dengan jelas.
Aku mengakhiri panggilan dengan perasaan bahwa Rafi tidak dibebani oleh keputusan kami, dan itu yang paling penting bagiku saat ini.
Aku menutup telepon dengan pikiran lebih jernih. Hubungan ini belum memiliki nama yang pasti, tetapi setidaknya pembicaraan tentang Rafi mulai dilakukan dengan lebih bertanggung jawab.
Setelah telepon itu, aku menceritakan percakapan kami kepada Ibu. Ia bertanya apakah aku merasa Aldo benar-benar memahami batas yang kusampaikan.
'Untuk sekarang, iya. Dia tidak memberi janji kepada Rafi dan tidak menjadikan pertemuan itu sebagai tanda bahwa aku menerima lamaran.'
'Lalu apa yang masih membuatmu ragu?'
'Aku belum tahu apakah aku bisa membayangkan hidup bersama dia. Kami masih baru belajar bicara tanpa berdebat.'
Ibu mengangguk. 'Kamu tidak harus punya jawaban sekarang. Perhatikan apakah kalian bisa menghadapi perbedaan, bukan hanya menikmati waktu yang menyenangkan.'
Aku tahu ia benar. Hubungan bukan hanya tentang apakah aku menyukai Rafi atau apakah Aldo bersikap lebih baik selama beberapa hari. Aku juga harus merasa aman menyampaikan keberatan dan melihat apakah ia bersedia mendengarkan.
Keesokan harinya Aldo mengirim pesan singkat tentang jadwal kerjanya. Ia tidak bertanya apakah aku sudah menentukan waktu pertemuan berikutnya. Aku membalas bahwa aku sedang memeriksa urusanku dan akan memberi kabar saat tahu.
'Tidak perlu buru-buru,' jawabnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi bagiku penting. Aku menyimpan ponsel dan kembali bekerja tanpa merasa harus segera menyelesaikan hubungan kami.
Aku meletakkan ponsel dan kembali memeriksa kalender kerjaku. Pertemuan berikutnya baru akan direncanakan setelah jadwalku jelas. Aku tidak ingin mengubah setiap percakapan dengan Rafi menjadi langkah menuju pernikahan, tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa pertemuan itu tidak berarti bagiku. Aku akan melihat apakah Aldo terus menjaga batas yang sama saat kami bertemu lagi. Jika ada sesuatu yang berubah, aku akan menyampaikannya langsung, bukan menunggu sampai kekhawatiran tumbuh menjadi prasangka.
Aku tidak akan meminta Aldo menghilangkan semua kecemasan Rafi. Aku hanya ingin kami menjaga komunikasi, agar anak itu tidak menerima janji yang belum pasti. Bila hubungan kami berubah, Aldo dan aku harus menjelaskannya dengan jujur sesuai usianya.
Aku menandai jam kosong di kalender dengan pensil. Belum ada janji baru, jadi aku tidak membiarkan satu pesan menghapus rencana keluarga.