Minggu sore aku tiba di taman beberapa menit sebelum waktu yang disepakati. Aldo dan Rafi belum terlihat. Aku memilih bangku yang menghadap area bermain, lalu mengirim pesan bahwa aku sudah sampai.
'Kami baru parkir. Rafi ingin membawa sepedanya,' balas Aldo.
Tak lama kemudian, mereka datang. Rafi mengenakan helm biru dan mendorong sepeda kecilnya. Ketika melihatku, ia mengangkat tangan.
'Kak Alia!'
'Hai, Rafi. Sepedamu bagus.'
'Ayah memperbaiki remnya. Sekarang tidak bunyi.'
Aldo tersenyum. 'Dia yang mengingatkan saya untuk memeriksanya.'
'Kamu mau tunjukkan cara mengendarainya?' tanyaku.
Rafi mengangguk bersemangat. Ia menaiki sepeda dan mulai mengayuh pelan di jalur yang tidak ramai. Aldo berjalan di sampingnya, tetapi tidak terus-menerus memegang setang. Aku mengikuti beberapa langkah di belakang.
'Ayah, lihat! Aku bisa belok sendiri.'
'Saya lihat. Pelan-pelan saja.'
Rafi berputar dan berhenti di dekat kami. 'Kak Alia bisa naik sepeda?'
'Bisa, tapi sudah lama tidak mencoba.'
'Nanti belajar lagi.'
'Mungkin. Hari ini aku jadi penonton dulu.'
Ia menerima jawaban itu tanpa kecewa. Kami duduk di bangku dan Rafi bercerita tentang gambar yang ia buat di sekolah. Ia menggambar rumah, pohon, ayahnya, dan beberapa anggota keluarga.
'Aku menggambar Ibu juga,' katanya. 'Tapi gambarnya ada di rumah.'
'Kamu boleh menunjukkan kalau mau,' jawabku. 'Tapi tidak harus sekarang.'
Rafi memandang Aldo. Ayahnya mengangguk pelan. 'Kamu boleh cerita kapan saja, Nak.'
'Aku mau cerita nanti saja.'
'Baik,' kataku. 'Nanti saja.'
Aku senang Aldo tidak memaksa anak itu meneruskan cerita. Ia membiarkan Rafi kembali memperhatikan sepeda dan anak-anak lain di taman.
Rafi kemudian bertanya apakah aku suka es krim. Aku menjawab suka, tetapi belum ingin membeli karena tadi sudah makan sebelum berangkat.
'Saya bawa uang,' kata Aldo. 'Kalian mau?'
'Kalau Rafi mau, boleh,' kataku. 'Tapi aku tidak perlu dibelikan.'
'Kakak mau rasa cokelat?' tanya Rafi.
'Aku bisa membeli sendiri.'
Aldo tidak membantah. Ia memberi uang kepada Rafi dan mengawasinya membeli dua es krim kecil dari penjual yang berada dekat pintu taman. Rafi kembali membawa satu untuk dirinya dan satu lagi untuk ayahnya.
'Kak Alia tidak mau?' tanyanya.
'Terima kasih sudah bertanya. Aku tidak ingin sekarang.'
'Nanti kalau mau, bilang.'
'Baik.'
Kami menikmati waktu tanpa rencana khusus. Rafi menunjukkan cara ia bisa mengayuh cepat, lalu menceritakan teman sekelasnya yang suka menggambar robot. Aldo sesekali ikut bertanya, tetapi tidak mengarahkan obrolan kepada hubungan kami.
Ketika Rafi kembali mengayuh sepedanya, Aldo berjalan di sisi jalur dan membiarkannya mencoba sendiri. Aku memperhatikan bagaimana ia menahan diri untuk tidak terus memberi instruksi. Saat Rafi hampir menyenggol kerucut kecil, Aldo hanya berkata, 'Lihat ke depan, pelan-pelan.' Rafi mengoreksi arah dan berhasil melewatinya.
'Ayah tidak menarik sepedanya?' tanyaku.
'Saya hampir melakukannya,' jawab Aldo. 'Tapi dia sudah bisa mengatur sendiri.'
'Bagus kalau Mas memberinya kesempatan.'
'Saya juga belajar bahwa membantu tidak selalu berarti mengambil alih.'
Rafi berhenti di dekat kami. 'Ayah, aku mau minum.' Aldo mengambil botol dari tas dan memberikannya. Ia bertanya apakah Rafi ingin duduk dulu atau lanjut bermain.
'Duduk dulu.'
Aku melihat percakapan kecil itu sebagai contoh yang lebih bermakna daripada janji panjang. Aldo bertanya, lalu menunggu jawaban anaknya.
Rafi menunjukkan bekas gores kecil pada sepedanya dan menjelaskan bahwa ia terjatuh minggu lalu. Aldo tidak menyalahkan atau menakut-nakutinya. Ia menanyakan bagian mana yang sakit waktu itu dan apakah sekarang sudah pulih.
'Sudah. Cuma lututku merah sebentar.'
'Waktu itu Ayah membersihkan lukanya,' kata Rafi. 'Terus aku istirahat, baru main lagi besoknya.'
'Bagus. Kalau tubuhmu sakit, memang perlu diberi waktu untuk pulih,' kataku.
Aldo mengangguk. 'Saya juga sedang belajar tidak menyuruhnya terus kuat. Berhenti dan meminta bantuan itu tidak membuatnya lemah.'
Rafi mengusap lututnya sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan ke gambar robot temannya. Aku senang ia bisa bercerita tentang hal itu tanpa merasa malu.
'Kalau jatuh lagi, berhenti dulu dan periksa keadaanmu. Jangan langsung memaksa lanjut.'
Rafi mengangguk. Aku ikut berkata bahwa berhenti sebentar bukan berarti gagal. Ia tampak puas mendengarnya lalu kembali membicarakan sepedanya.
Sebelum pulang, aku memastikan Rafi sudah merasa baik setelah jatuh minggu lalu. Ia berkata lututnya hanya lecet dan kini tidak sakit. Aldo mendengarkan tanpa menyalahkannya, lalu mengingatkan agar ia berhenti jika merasa sakit lagi. Aku senang ia mengajarkan kehati-hatian tanpa membuat Rafi takut mencoba.
Setelah hampir satu jam, aku melihat waktu. 'Rafi, aku harus pulang sebentar lagi.'
'Sudah mau pulang?'
'Iya. Aku senang bisa bertemu kamu.'
'Nanti datang lagi?'
Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum pasti. 'Kalau jadwal kita cocok, mungkin. Ayahmu akan membicarakannya denganku dulu.'
Rafi memandang Aldo. 'Ayah, nanti tanya Kak Alia, ya.'
'Iya. Kita tidak akan memutuskan sendiri,' jawab Aldo.
Rafi mengangguk. Ia tidak merengek atau meminta aku tinggal lebih lama. Aku mengucapkan sampai jumpa, lalu berpamitan kepada Aldo.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Aku senang bertemu Rafi. Tapi aku tetap ingin kita menjaga batas yang sudah dibicarakan.'
'Saya paham.'
Saat bersiap meninggalkan taman, aku merasa hangat, tetapi tidak menganggapnya sebagai jawaban tentang pernikahan. Rafi anak yang terbuka dan menyenangkan. Itu saja yang bisa kusimpulkan hari ini.
Sambil menunggu kendaraan, aku memikirkan bahwa pertemuan singkat bisa terasa menyenangkan tanpa harus segera diberi makna besar. Aku tidak perlu memutuskan apakah Aldo cocok menjadi suami hanya karena Rafi ramah kepadaku. Aku juga tidak perlu menjauh dari anak itu hanya karena masa depanku dengan ayahnya belum jelas.
Aku tidak akan memakai keramahan Rafi sebagai alasan untuk mengabaikan pertanyaanku tentang Aldo. Aku juga tidak perlu menolak kedekatan yang tumbuh wajar. Aku bisa memberi perhatian kepada seorang anak dan tetap jujur bahwa keputusan tentang masa depanku belum dibuat. Sebelum menerima ajakan berikutnya, aku akan bertanya tentang waktu serta rencananya agar semua orang merasa nyaman.
Ketika kendaraanku datang, Rafi mengangkat tangan dan kembali memperhatikan sepedanya. Ia tidak memintaku tinggal atau menanyakan kapan aku akan datang. Aku merasa pertemuan itu berakhir wajar, tanpa beban tambahan.