Setelah berbicara dengan orang tuaku, Aldo tidak langsung mengirim pesan malam itu. Ia baru menghubungiku keesokan siang. Ia menanyakan apakah aku bersedia berjalan sebentar di taman dekat rumah.
Aku menjawab iya, dengan catatan pertemuannya tidak lama. Ia setuju dan menjemputku di depan rumah setelah meminta izin kepada Ibu. Kali ini ia tidak membunyikan klakson atau mendesak agar aku cepat keluar. Ia menunggu sampai aku siap.
Taman itu lebih ramai daripada sebelumnya. Kami berjalan di jalur yang tidak terlalu padat, menjaga jarak yang nyaman.
'Bagaimana perasaanmu setelah saya bicara dengan orang tuamu?' tanyanya.
'Lebih tenang. Tapi aku belum membuat keputusan baru.'
'Saya tidak mengharapkan itu.'
'Mas terlihat lebih sabar.'
'Saya berusaha.'
'Jangan bilang begitu kalau hanya untuk membuatku senang.'
'Saya tidak tahu bagaimana membuktikannya selain dengan terus berusaha.'
Aku tersenyum tipis. 'Jawaban itu lebih baik.'
Kami duduk di bangku dekat pepohonan. Aldo bertanya tentang pekerjaanku dan bagaimana aku biasanya menghadapi hari yang melelahkan. Aku menjawab bahwa kadang aku hanya ingin pulang, makan bersama keluarga, lalu beristirahat tanpa membicarakan urusan kantor.
'Kalau begitu, saya tidak akan menghubungimu soal hal penting saat kamu baru pulang kerja,' katanya.
'Mas boleh menghubungi. Tapi jangan menganggap aku harus langsung membalas.'
'Saya akan mengingatnya.'
'Dan Mas juga bisa bercerita tentang harimu, bukan hanya bertanya tentang aku.'
Aldo tersenyum kecil. 'Hari ini saya cukup lelah karena rapat panjang.'
'Rapat tentang apa?'
Ia menjelaskan singkat tentang pekerjaannya tanpa masuk ke rincian yang tidak kupahami. Aku mendengarkan, lalu bertanya apa bagian yang paling membuatnya kesal.
'Orang yang menyimpulkan sebelum mendengar semua penjelasan,' katanya.
Aku meliriknya. 'Mas sedang menyindir dirimu sendiri?'
'Mungkin.'
Aku tertawa. 'Setidaknya Mas mulai menyadari kebiasaan itu.'
Aldo menatapku dengan serius. 'Saya ingin bertanya sesuatu. Apa yang kamu harapkan dari hubungan ini?'
Aku tidak segera menjawab. 'Aku berharap kita bisa bicara tanpa merasa harus memenangkan argumen. Aku ingin dihormati, dan aku ingin Mas juga merasa dihormati. Tapi aku tidak bisa menjanjikan cinta sekarang.'
'Saya tidak meminta janji cinta.'
'Dulu Mas bilang almarhumah adalah satu-satunya perempuan yang Mas cintai. Aku tidak tahu apakah suatu hari perasaan Mas bisa berubah.'
'Saya juga tidak tahu.'
'Jadi, kita tidak membuat janji yang belum bisa dipenuhi.'
'Setuju.'
Aku menatapnya. 'Kalau aku akhirnya tidak bersedia menikah, Mas harus menerima.'
'Saya akan menerima. Saya mungkin kecewa, tapi itu hakmu.'
'Bagus. Aku juga harus siap kalau Mas ternyata tidak merasa cocok.'
Aldo mengangguk. 'Benar.'
Percakapan itu terasa lebih jujur daripada semua pembicaraan sebelumnya. Tidak ada janji untuk bersama selamanya, juga tidak ada tekanan untuk menentukan status. Hanya ada dua orang yang sedang mencoba memahami batas dan harapan masing-masing.
Kami berjalan melewati kolam kecil. Aku bercerita bahwa setelah hari yang padat, aku biasanya membaca atau menonton acara ringan bersama Alisha. Aldo bertanya buku seperti apa yang kusukai, lalu mengaku jarang membaca selain dokumen pekerjaan.
'Rafi suka dibacakan cerita,' katanya. 'Kadang saya mengarang akhir cerita sendiri kalau bukunya sudah selesai.'
'Bagaimana akhir yang Mas buat?'
'Biasanya semua tokohnya pulang dan makan malam.'
Aku tertawa. 'Itu akhir yang sangat praktis.'
Ia bercerita bahwa Rafi belakangan suka bertanya kenapa orang dewasa bekerja. Aldo menjawab bahwa pekerjaan membantu memenuhi kebutuhan, tetapi berusaha tidak menjadikannya alasan untuk selalu absen.
'Apakah Mas merasa bersalah kalau pulang terlambat?' tanyaku.
'Sering. Tapi rasa bersalah saja tidak memperbaiki keadaan. Saya berusaha membuat waktu bersama Rafi lebih teratur.'
'Pertahankan rutinitas itu. Jangan mengubahnya karena ada orang baru.'
'Saya tidak ingin mengubahnya. Kalau suatu saat kamu hadir lebih dekat, kita harus menyesuaikan dengan hati-hati.'
Kami juga membicarakan cara menyelesaikan konflik. Aku mengatakan bahwa aku perlu waktu untuk berpikir jika sedang kesal. Aldo mengaku lebih suka menyelesaikan semuanya saat itu juga.
'Kalau aku minta jeda, Mas jangan mengejarku dengan banyak pesan.'
'Saya bisa memberi waktu. Tapi bisakah kita sepakat kapan melanjutkan pembicaraan?'
'Bisa. Setelah beberapa jam atau keesokan harinya.'
'Baik. Saya tidak ingin diam berhari-hari tanpa tahu apa yang terjadi.'
'Itu juga masuk akal.'
Kami menemukan perbedaan yang tidak langsung hilang, tetapi bisa dibicarakan. Kami sepakat membicarakan lagi hal yang belum selesai setelah masing-masing mempunyai waktu berpikir, bukan saling mengejar jawaban dengan pesan yang terus berdatangan.
Kami duduk sebentar di bangku teduh. Aldo bertanya apakah aku merasa nyaman dengan pertemuan keluarga tadi malam. Aku menjawab bahwa aku senang ia tidak menyebutnya sebagai lamaran.
'Saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama,' katanya.
'Kita lihat saja nanti. Yang penting Mas tidak menganggap satu percakapan berarti semua masalah selesai.'
'Saya paham. Kepercayaan perlu dibangun dari banyak hal kecil.'
'Termasuk menepati batas yang sudah kita sepakati.'
'Iya.' Ia tidak meminta pujian atau kepastian dariku. Kami lalu membicarakan pekerjaan dan rencana akhir pekan, tanpa menetapkan bahwa kami harus bertemu lagi.
Kami berjalan kembali ke tempat mobil diparkir. Aldo bertanya apakah aku mau mampir membeli minuman. Aku menolak karena ingin pulang. Ia tidak membujuk.
'Terima kasih sudah mengantarku.'
'Sama-sama.'
'Mas tidak perlu mengantarku sampai pintu. Aku bisa masuk sendiri.'
'Baik.'
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan bagaimana Bapak dan Ibu tidak pernah memaksaku memilih. Mereka hanya ingin memastikan aku didengar. Dukungan itu membuatku bisa mempertimbangkan Aldo tanpa takut mengecewakan keluargaku.
Dalam perjalanan pulang, aku menyadari bahwa percakapan kami tidak menghasilkan keputusan besar. Namun aku jadi tahu bahwa Aldo bisa membicarakan ketakutannya tanpa menyuruhku menyelesaikannya. Bagiku, itu lebih berarti daripada janji yang terdengar indah tetapi belum tentu mampu ia tepati.
Ia menunggu sampai aku melewati gerbang, lalu pergi. Ibu melihat dari jendela dan bertanya apakah pertemuan kami menyenangkan.
'Menyenangkan dalam arti kami bisa bicara tanpa bertengkar.'
'Itu permulaan yang baik.'
'Permulaan saja, Bu.'
Ibu tersenyum. 'Tidak ada yang meminta lebih dari itu.'
Aku masuk ke kamar dan menaruh tas. Untuk pertama kalinya, aku merasa kata 'mengenal' bukan sekadar penundaan. Itu proses yang bisa menunjukkan apakah kami benar-benar cocok, asalkan kami berdua bersedia jujur.