Aldo mengirim pesan malam itu. Ia bertanya apakah ia boleh menelepon sebentar. Aku sedang duduk di ruang keluarga bersama Ibu dan Alisha. Aku membaca pesan itu keras-keras.
'Kalau kamu tidak ingin bicara, tidak harus,' kata Ibu.
'Aku ingin. Tapi sebentar saja.'
Aku membalas bahwa ia boleh menelepon setelah aku selesai membantu Alisha menyiapkan buku. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Aku menjawabnya di teras agar tidak mengganggu keluarga.
'Selamat malam,' katanya.
'Selamat malam. Ada apa?'
'Saya hanya ingin menanyakan apakah kamu sudah sampai rumah tadi.'
'Aku sudah. Mas juga sudah pulang?'
'Sudah. Rafi sedang tidur.'
'Dia sempat bertanya lagi soal aku?'
'Tidak. Saya tidak ingin terus mengulang topik itu kepadanya. Kami membicarakan hal lain.'
Aku merasa lega. 'Bagus. Dia tidak perlu terus memikirkan hubungan orang dewasa.'
'Saya setuju.'
Hening sebentar. Dulu, keheningan dengan Aldo sering membuatku merasa harus mencari sesuatu untuk dikatakan. Malam itu ia tidak buru-buru mengisi jeda.
'Apa harimu baik?' tanyanya akhirnya.
'Lumayan. Aku membantu Ibu dan Alisha. Tidak ada kejadian besar.'
'Kadang hari tanpa kejadian besar juga menyenangkan.'
'Mas sedang belajar mengobrol biasa?'
'Saya sedang mencoba.'
Aku tertawa kecil. 'Mas tidak perlu menganggap setiap percakapan sebagai latihan.'
'Saya tidak terbiasa menelepon hanya untuk menanyakan kabar.'
'Kalau begitu, sekarang Mas sudah melakukannya.'
'Iya.'
Aku mendengar suara samar dari ujung telepon. Mungkin Aldo sedang membereskan sesuatu di rumah. Ia berkata Rafi sempat meninggalkan mobil mainannya di ruang tengah dan ia menyimpannya agar tidak terinjak. Aku teringat cara Rafi bercerita tentang mobil itu.
'Rodanya sudah kuat?' tanyaku.
'Sepertinya. Besok saya akan cek lagi.'
'Jangan diperbaiki kalau Rafi belum minta bantuan.'
'Saya akan bertanya dulu.'
Aku tersenyum. 'Bagus.'
Aldo lalu berkata, 'Saya ingin meminta maaf lagi karena cara saya melamar dulu. Saya sadar saya membuatmu merasa seperti sedang ditawari tugas.'
'Kamu memang membuatku merasa begitu.'
'Saya tidak bisa mengubah kata-kata itu. Tapi saya ingin memperbaiki cara saya bersikap.'
'Aku menghargai permintaan maafnya. Tapi yang paling penting adalah Mas tidak mengulanginya.'
'Saya paham.'
Aku menyandarkan bahu pada tiang teras. 'Aku juga minta maaf kalau nada bicaraku kadang terlalu tajam.'
'Kamu berhak marah.'
'Berhak marah bukan berarti aku selalu bicara dengan baik.'
'Kalau begitu, kita sama-sama belajar.'
Aku menghela napas. Percakapan itu tidak terdengar seperti adegan romantis dalam cerita, tetapi terasa lebih nyata bagiku. Kami membicarakan hal yang menyakitkan tanpa berpura-pura semuanya sudah beres.
'Besok kamu sibuk?' tanyanya.
'Pagi aku ada urusan. Kenapa?'
'Saya ingin mengajakmu bertemu dengan Rafi lagi akhir pekan ini, kalau kamu bersedia. Tidak harus lama.'
'Aku akan melihat jadwalku dulu. Jangan memberi tahu Rafi sebelum aku memastikan.'
'Baik. Saya tidak akan.'
'Mas belajar cepat juga.'
'Saya tidak ingin membuatnya berharap lalu mengecewakannya.'
'Kalau begitu, kita sepakat.'
Sebelum mengakhiri telepon, kami berbicara sebentar tentang hal-hal yang tidak berhubungan dengan lamaran. Aldo bertanya apakah aku masih suka memasak bersama Ibu. Aku bercerita bahwa biasanya aku hanya membantu memotong bahan, sementara Ibu yang menentukan bumbu.
'Jadi kamu tidak bisa memasak?' tanyanya.
'Aku bisa mengikuti resep. Hasilnya belum tentu sama setiap kali.'
'Itu tetap lebih baik daripada saya. Saya hanya bisa membuat telur dan mi.'
'Mas bisa belajar.'
'Kalau ada waktu.'
'Jangan jadikan itu tugas baruku,' kataku, setengah bercanda.
'Saya tahu. Saya bisa mencari resep sendiri.'
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Percakapan ringan seperti ini membuatku melihat sisi Aldo yang jarang muncul ketika ia sibuk mengatur rencana. Ia tidak selalu kaku, hanya terbiasa menyimpan banyak hal di kepalanya.
Ia bertanya apakah aku ingin tahu sesuatu tentang Rafi. Aku menjawab bahwa aku senang mendengar ceritanya, tetapi tidak ingin setiap obrolan kami berpusat pada anak itu. Aldo langsung memahami maksudku.
'Kamu ingin mengenal saya juga, bukan hanya kehidupan saya sebagai ayah,' katanya.
'Benar. Kalau kita mencoba mengenal satu sama lain, kita perlu bicara tentang diri kita masing-masing.'
'Apa yang ingin kamu tahu?'
'Hal sederhana. Apa yang Mas lakukan ketika punya waktu luang? Apa yang membuat Mas tertawa? Apa yang Mas hindari?'
Ia berpikir sebentar. 'Saya suka berjalan pagi kalau tidak ada pekerjaan. Saya tidak suka tempat terlalu ramai. Dan saya sering menonton pertandingan lama bersama Rafi, meski saya tidak selalu ingat siapa yang menang.'
'Itu lebih banyak daripada yang kuketahui sebelumnya.'
'Saya akan mencoba bercerita tanpa menunggu ditanya.'
'Bagus. Aku juga akan melakukan hal yang sama.'
Telepon itu tidak mengubah status hubungan kami. Namun, untuk pertama kalinya, kami membicarakan diri sendiri tanpa mengubah semuanya menjadi negosiasi tentang pernikahan atau tanggung jawab kepada Rafi.
Kami mengakhiri telepon setelah beberapa menit. Ibu menungguku di pintu.
'Bagaimana?'
'Dia cuma menanyakan kabar dan meminta maaf lagi.'
'Dan kamu merasa bagaimana?'
'Lebih nyaman daripada sebelumnya. Tapi aku belum tahu apakah itu cukup.'
'Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memutuskan malam ini.'
Aku mengangguk. Ibu tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu aku ingin menimbang semuanya sendiri, tanpa menjadikan pendapat keluarga sebagai jawaban akhir. Aku merasa bersyukur karena di rumah ini aku boleh bicara jujur tanpa takut dianggap tidak tahu berterima kasih.
Saat kembali ke kamar, aku melihat pesan Aldo masuk: 'Terima kasih sudah mengangkat telepon.' Aku membalas singkat bahwa sama-sama. Aku tidak menambahkan kata-kata yang bisa ia artikan sebagai janji. Ia pun tidak mengirim pertanyaan lanjutan atau meminta kepastian tentang akhir pekan. Sikap itu membuatku bisa mengakhiri hari dengan tenang.
Malam itu aku tidak menulis kesimpulan di buku catatanku. Aku hanya menuliskan apa yang benar-benar terjadi: Aldo menelepon, aku menjawab, dan kami berbicara tanpa memaksa satu sama lain. Untuk sekarang, itu sudah cukup. Besok masih ada waktu untuk memeriksa jadwal dan memikirkan langkah berikutnya dengan tenang bersama keluargaku di rumah.
Setelah panggilan, aku mengisi ulang botol minum untuk dibawa kerja. Aku tidak menunggu layar ponsel menyala lagi sebelum menyiapkan kebutuhanku sendiri.