Aldo mengirim pesan keesokan harinya untuk menanyakan apakah ia boleh datang malam itu. Aku menunjukkan pesannya kepada Ibu sebelum membalas.
'Menurut Ibu, perlu datang sekarang?' tanyaku.
'Kalau tujuannya hanya berkenalan dan menjelaskan niatnya, tidak apa-apa. Tapi kamu bisa mengingatkan lagi bahwa itu bukan acara lamaran resmi.'
Aku mengirim pesan bahwa Aldo boleh datang setelah makan malam, ditemani Tante, dan hanya untuk berbicara dengan keluarga. Ia setuju.
Sepanjang hari aku memikirkan bagaimana Bapak akan menanggapi. Ia tidak pernah bersikap kasar, tetapi ia juga tidak mudah percaya pada kata-kata. Aku sendiri ingin mendengar bagaimana Aldo menyampaikan niatnya ketika berbicara di depan orang tuaku.
Malam itu, bel berbunyi setelah kami selesai makan. Bapak membuka pintu. Aldo dan Tante berdiri di teras dengan sikap sopan.
'Silakan masuk,' kata Bapak.
'Terima kasih, Pak,' jawab Aldo.
Ibu menyuguhkan teh. Alisha ikut duduk sebentar, lalu Bapak memintanya mengambil buku dari kamar agar percakapan orang dewasa tidak membuatnya bosan. Ia sempat berbisik kepadaku, 'Kalau dia mulai bicara seperti bos, Kakak boleh menegur.'
Aku menahan tawa. 'Pergilah.'
Setelah Alisha keluar, Bapak membuka percakapan. 'Aldo, kamu ingin bicara tentang apa?'
'Saya ingin menjelaskan bahwa saya berniat mengenal Alia dengan serius. Saya belum meminta jawaban pernikahan dan tidak ingin membuat Bapak atau Ibu mengira Alia sudah menyetujuinya.'
Bapak menatapnya lama. 'Apa arti serius menurutmu?'
Aldo menjawab, 'Saya ingin meluangkan waktu, berbicara terbuka, dan melihat apakah kami cocok. Saya juga ingin belajar menjadi pasangan yang tidak hanya memikirkan kebutuhan saya dan Rafi.'
Ibu bertanya, 'Bagaimana dengan Rafi? Apakah kamu sudah membicarakan kemungkinan Alia datang lagi?'
'Saya mengatakan bahwa Alia adalah teman yang sedang kami kenal. Saya tidak meminta Rafi memanggilnya ibu atau menganggap ia akan tinggal bersama kami.'
Aku menambahkan, 'Aku juga ingin memastikan Rafi tidak diberi janji yang belum tentu terjadi.'
'Betul,' kata Aldo. 'Saya setuju.'
Bapak menyandarkan punggung. 'Kalau hubungan ini tidak berjalan, apa yang akan kamu lakukan?'
'Saya akan menghormati keputusan Alia. Saya tidak akan menyalahkan dia atau keluarganya.'
'Dan kalau kamu merasa tidak nyaman dengan batas yang ia buat?'
'Saya akan membicarakannya, bukan memaksa.'
Bapak tidak langsung tersenyum, tetapi ketegangan di wajahnya berkurang. 'Bagus kalau itu benar-benar kamu lakukan. Ucapan mudah disampaikan.'
'Saya mengerti, Pak.'
Tante ikut bicara. 'Tante juga sudah mengatakan kepada Alia bahwa keputusan tetap miliknya. Kami tidak ingin membuatnya menerima karena merasa kasihan kepada Rafi.'
Ibu mengangguk. 'Alia berhak mengambil waktu. Kami pun tidak akan meminta Aldo menjanjikan hal yang tidak bisa ia berikan.'
'Terima kasih,' kata Aldo. 'Saya lebih nyaman jika semuanya jelas.'
Bapak kemudian bertanya tentang pekerjaan Aldo dan bagaimana ia mengatur waktu untuk Rafi. Percakapan berlangsung cukup lama, tetapi bukan seperti pemeriksaan. Aldo menjawab bahwa ia berusaha mengatur jadwal dan tetap hadir sebagai ayah. Ia juga mengakui ada hari-hari ketika pekerjaannya membuatnya pulang terlambat.
'Kalau begitu, jangan mengharapkan Alia mengisi semua waktu yang tidak bisa kamu sediakan,' kata Bapak.
'Saya tidak akan berharap begitu.'
Aku memperhatikan Aldo selama percakapan. Ia tidak sekali pun menjawab untukku atau menganggap kehadiranku sebagai persetujuan. Ia juga tidak menggunakan Rafi untuk membuat orang tuaku iba.
Setelah orang tuaku bertanya tentang pekerjaan dan rutinitas Rafi, Bapak ingin tahu apakah Aldo punya waktu untuk dirinya sendiri.
'Tidak banyak, Pak,' jawab Aldo. 'Tapi saya sedang belajar membagi waktu dan menerima bantuan keluarga.'
'Jangan sampai Alia dianggap sebagai bantuan tambahan,' kata Bapak.
'Saya tidak akan menganggapnya begitu.'
Ibu bertanya kepadaku apakah aku merasa tertekan. Aku menjawab tidak, tetapi aku ingin memastikan semua orang memahami bahwa pertemuan itu belum berarti lamaran.
'Kami paham,' kata Ibu. 'Kalian sedang saling mengenal.'
Aldo mengangguk. 'Saya juga ingin prosesnya seperti itu.'
Alisha kembali membawa bukunya dan sempat menyapa Aldo. Ia bertanya apakah Rafi suka menggambar. Aldo menjawab bahwa anak itu suka menggambar mobil dan rumah, lalu Alisha bercerita bahwa ia juga gemar menggambar. Obrolan singkat itu membuat suasana lebih santai.
Ibu menghidangkan buah dan menawarkan tambahan teh. Tante menerima, sementara Aldo berterima kasih lalu menanyakan apakah Bapak masih bekerja di kebun belakang pada akhir pekan. Bapak menjawab singkat bahwa ia biasanya merawat tanaman pagi-pagi. Percakapan kecil itu membantu mereka berkenalan tanpa mengubah suasana menjadi pembicaraan berat sepanjang malam.
Sebelum mereka pulang, Ibu menyampaikan bahwa kami bisa bertemu lagi jika sama-sama menghendaki. Aldo menjawab bahwa ia akan menanyakan langsung kepadaku, bukan mengatur jadwal lewat keluarga. Bapak mengangguk, lalu mengantar mereka sampai teras. Aku merasa batas yang kami bicarakan sejak awal tetap dipahami semua orang.
Saat percakapan selesai, Bapak berkata, 'Kami akan memberi ruang kalian saling mengenal. Tapi jangan buru-buru menganggap semua sudah pasti.'
'Saya tidak akan,' jawab Aldo.
Tante pamit lebih dulu. Aldo berdiri menyusul, lalu menatapku.
'Terima kasih sudah membiarkan saya bicara dengan orang tuamu.'
'Aku hanya memberi kesempatan, Mas. Kita masih harus menjalani semuanya.'
'Saya tahu.'
Setelah mereka pergi, Bapak bertanya apa yang kurasakan. Aku menjawab bahwa Aldo bicara lebih baik daripada saat lamaran pertama, tetapi aku masih perlu melihat tindakannya.
'Jawaban yang masuk akal,' kata Bapak.
Aku merasa lega. Untuk saat ini, keluargaku memahami bahwa aku tidak sedang memilih antara menerima atau menolak hari ini. Aku sedang memberi ruang bagi proses yang mungkin berhasil, mungkin juga berhenti.
Ketika tamu kami pulang, Bapak bertanya apakah aku merasa Aldo bicara jujur.
'Kurasa iya. Tapi aku tetap harus melihat tindakannya.'
'Itu sikap yang baik,' katanya. 'Jangan merasa harus menyenangkan kami.'
Aku tahu Bapak tidak akan memilihkan jawabanku. Hal itu membuatku lebih tenang menghadapi kemungkinan apa pun.
Setelah Tante dan Aldo pergi, Ibu bertanya apakah aku merasa terbebani. Aku menjawab bahwa percakapan tadi justru membuatku lebih tenang. Aku tidak harus memutuskan hari ini, dan Aldo tidak meminta keluargaku menekan aku. Ibu mengingatkan bahwa aku boleh berubah pikiran kapan saja, termasuk jika setelah beberapa pertemuan aku merasa hubungan ini tidak cocok.
'Aku akan mengingatnya, Bu,' kataku.