Aldo menarik kursi dan duduk di seberangku. Tante tidak ikut duduk kembali. Beliau masuk ke dalam rumah, memberi kami ruang tanpa meninggalkan rumah sepenuhnya.
'Apa yang Ibu ceritakan?' tanya Aldo.
'Bahwa Mas berusaha mengurus Rafi sendiri dan jarang membicarakan perasaan.'
Ia menunduk. 'Saya tidak suka kalau Ibu membicarakan hal pribadi saya.'
'Tante tidak membuka rahasia. Dia menjelaskan hal yang berpengaruh pada keputusan yang Mas minta dariku.'
'Saya tahu. Tapi saya tetap tidak nyaman.'
'Aku mengerti. Tapi kalau Mas ingin aku mempertimbangkan pernikahan, aku perlu tahu keadaan keluarga yang akan kumasuki.'
Aldo menatap halaman. 'Saya takut Rafi merasa kehilangan lagi.'
'Karena itu Mas menginginkan seseorang tinggal bersamanya?'
'Sebagian. Saya ingin dia punya suasana keluarga yang lebih lengkap.'
'Mas tahu keluarga tidak bisa dipaksa lengkap hanya dengan menikah.'
'Saya tahu sekarang.'
Aku menyilangkan tangan di pangkuan. 'Apa yang membuat Mas yakin aku orang yang tepat untuk berada di rumah itu?'
'Saya tidak bisa bilang saya sudah yakin. Saya baru mengenalmu sedikit.'
'Setidaknya itu jujur.'
'Saya melihat kamu peduli kepada keluarga. Saya melihat kamu memperlakukan Rafi dengan lembut. Saya ingin tahu apakah kita bisa membangun sesuatu dari sana.'
'Mas ingin tahu, atau sudah memutuskan?'
'Saya ingin tahu.'
Aku mengangguk pelan. 'Tante juga bilang Mas sering mengurus semuanya sendiri.'
'Saya tidak ingin membebani orang lain.'
'Kadang orang tidak merasa dibebani kalau diberi kesempatan membantu. Tapi jangan minta aku mengambil alih semuanya hanya karena Mas tidak biasa berbagi.'
'Saya tidak akan meminta itu.'
'Mas belum pernah tahu. Kita belum cukup lama saling mengenal.'
Ia tersenyum tipis. 'Kamu benar.'
'Kalau begitu, kita harus bicara tentang hal-hal yang nyata. Jadwal, tanggung jawab, batas. Bukan hanya berkata Rafi membutuhkan ibu.'
Aldo menarik napas panjang. 'Saya belum siap membicarakan semua itu sekaligus.'
'Tidak harus sekaligus. Tapi jangan minta jawaban sebelum pembicaraan pentingnya dilakukan.'
'Saya tidak akan.'
Aku memandangnya. 'Dan tentang almarhumah, aku tidak akan meminta Mas melupakannya. Tapi aku tidak mau hidup sebagai orang yang selalu dibandingkan atau merasa harus meminta izin pada kenangan.'
'Saya tidak ingin membandingkanmu dengannya.'
'Mungkin Mas tidak berniat. Tapi kalau Mas terus mengatakan dia satu-satunya perempuan yang Mas cintai, aku akan sulit membayangkan tempatku.'
Aldo diam lama. 'Saya mengatakan itu karena saya tidak mau berbohong tentang perasaan saya.'
'Kejujuran itu penting. Tapi Mas juga harus bertanya pada diri sendiri apakah ingin membangun hubungan baru. Kalau belum, jangan minta orang lain masuk ke dalamnya.'
'Saya ingin mencoba.'
'Mencoba mengenal, bukan langsung menikah?'
'Iya. Saya tidak akan meminta kamu menjawab sekarang.'
Aku mengangguk. 'Itu yang ingin kudengar.'
Kami pindah ke teras depan setelah matahari mulai turun. Tante muncul membawakan kue kecil, tetapi tidak menanyakan isi percakapan kami. Aldo mengambil satu potong dan menyodorkannya kepadaku.
'Kamu mau?'
'Terima kasih. Tapi aku bisa mengambil sendiri.'
Ia menarik tangannya dan meletakkan piring di meja. 'Baik.'
Aku hampir tersenyum. Dulu ia mungkin akan menganggap ucapanku sebagai penolakan. Kali ini ia membiarkanku memilih.
Kami melanjutkan percakapan dengan lebih pelan. Aldo tidak langsung membela dirinya ketika aku menyebut kebiasaannya mengambil alih keputusan.
'Kalau saya melakukannya lagi, kamu boleh mengingatkan,' katanya.
'Aku bisa mengingatkan, tapi tanggung jawab untuk berubah tetap milik Mas.'
'Saya mengerti. Saya tidak ingin menjadikanmu tempat saya berlatih tanpa batas.'
'Bagus. Aku juga tidak ingin setiap masalah berakhir dengan aku yang harus memahami semuanya.'
Ia mengangguk. 'Saya sering memakai alasan ingin menjaga Rafi untuk menghindari pembicaraan yang sulit.'
'Misalnya?'
'Ketika Ibu bertanya apakah saya siap mengenal seseorang. Saya menjawab Rafi membutuhkan keluarga, padahal saya belum tahu apa yang saya sendiri inginkan.'
'Sekarang Mas tahu?'
'Saya tahu saya ingin mengenalmu. Saya belum tahu apakah itu akan berakhir dengan pernikahan.'
Jawaban itu tidak memberiku kepastian, tetapi terasa lebih adil daripada janji besar. 'Kalau begitu, kita biarkan proses ini menunjukkan jawabannya.'
Aldo bertanya apakah ada hal yang ingin ia ketahui tentang keluargaku. Aku menjelaskan bahwa pendapat Bapak dan Ibu penting, tetapi keputusan tetap ada padaku.
'Saya tidak akan meminta mereka membujukmu,' katanya.
'Dan jangan menganggap kedekatanku dengan Alisha berarti aku selalu tersedia untuk mengurus anak.'
'Saya tidak akan menganggap begitu.'
'Kalau suatu hari aku ingin menghabiskan waktu dengan Rafi, itu karena aku memilihnya. Bukan karena kewajiban yang sudah ditentukan orang lain.'
'Saya paham.'
Kami membahas hal-hal kecil juga: waktu yang cocok untuk bertemu, cara menghubungi saat salah satu sibuk, dan pentingnya memberi kabar jika rencana berubah. Kesepakatan itu terdengar sederhana, tetapi hal-hal sederhana sering menjadi sumber salah paham.
Aku teringat penjelasan Tante sebelum Aldo datang: ia jarang memulai percakapan dengan keluarga tentang perasaannya sendiri, tetapi belakangan mulai mau duduk lebih lama setelah Rafi tidur. 'Perubahannya kecil,' katanya, 'tapi Tante melihat ia tidak lagi selalu buru-buru menutup pembicaraan.' Aku menyimpan informasi itu sebagai konteks, bukan jaminan bahwa ia sudah berubah sepenuhnya.
Sebelum pulang, Aldo bertanya apakah ia boleh datang ke rumah orang tuaku untuk berbicara dengan Bapak dan Ibu. Aku tidak langsung menjawab.
'Untuk apa?'
'Untuk menjelaskan bahwa saya ingin mengenalmu dengan serius. Bukan untuk meminta keputusan pernikahan.'
Aku menatapnya. 'Mas boleh datang kalau memang itu yang ingin Mas sampaikan. Tapi jangan membuat orang tuaku mengira aku sudah setuju menikah.'
'Saya akan menjelaskan.'
'Kalau begitu, bicarakan dulu denganku soal waktunya.'
Tante sesekali lewat membawa minuman, namun tidak ikut campur. Saat aku pamit, Aldo menawarkan untuk mengantarku pulang. Aku menerima karena hari mulai gelap, lalu meminta ia berhenti di depan gerbang saja.
'Baik,' katanya tanpa bertanya lagi.
Aldo mengangguk. Aku pulang dengan pikiran yang masih terbuka, tetapi tidak lagi merasa semua hal harus kutanggung sendiri. Tante sudah memberi konteks; sekarang Aldo mulai menjelaskan maksudnya dengan kata-katanya sendiri.