Aku tiba di rumah Tante beberapa menit sebelum waktu yang disepakati. Aldo tidak terlihat di ruang depan. Tante menyambutku dan mempersilakan duduk. Beliau menaruh dua cangkir teh di meja, lalu bertanya apakah aku sudah makan.
'Sudah, Tante. Terima kasih sudah menerima saya.'
'Tante yang seharusnya berterima kasih karena kamu mau mendengar.'
Aku memegang cangkir, tetapi belum meminumnya. 'Tante bilang ingin menjelaskan kehidupan Mas Aldo dan Rafi setelah kehilangan.'
'Iya. Tante ingin kamu memahami keadaan mereka, bukan merasa wajib menerima Aldo.'
'Kalau begitu, saya ingin mendengar apa yang Tante tahu. Tapi saya tidak ingin cerita itu dipakai untuk membuat saya kasihan.'
Tante mengangguk. 'Itu hakmu.'
Beliau bercerita bahwa setelah istrinya meninggal, Aldo mengurus Rafi dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin anaknya merasa ditinggalkan, tetapi sering kali rasa takut membuatnya terlalu mengatur. Aldo ingin semua kebutuhan Rafi terpenuhi dan jadwalnya berjalan teratur. Ia jarang membicarakan kesedihannya sendiri.
'Dia memang cenderung menyimpan semuanya,' kata Tante. 'Tante pernah menyarankan agar ia tidak selalu menghadapi sendiri. Tapi Aldo merasa selama Rafi baik-baik saja, berarti ia sudah melakukan tugasnya.'
'Apakah Rafi pernah bertanya tentang ibunya?'
'Pernah. Aldo menjawab sesuai yang bisa dipahami anak seusianya. Mereka juga masih menyimpan foto dan barang-barang yang punya arti bagi keluarga.'
Aku teringat gambar Rafi di rumahnya. 'Dia menggambar ibunya. Saya senang dia merasa boleh bercerita.'
'Memang seharusnya begitu. Tidak ada yang perlu dihapus supaya orang baru bisa masuk ke rumah itu.'
'Tante sendiri berharap saya mengisi posisi apa?'
Tante menatapku dengan sungguh-sungguh. 'Tante berharap kamu dan Aldo saling mengenal. Kalau kalian tidak cocok, Tante tetap menghormati pilihanmu. Rafi punya keluarga yang menjaganya. Ia tidak akan kehilangan semua orang hanya karena kamu tidak menikah dengan ayahnya.'
Aku merasakan napasku sedikit longgar. 'Saya takut kalau menolak, nanti dianggap tidak peduli kepada Rafi.'
'Tidak. Peduli dan menikah adalah dua hal yang berbeda.'
Tante bercerita bahwa ia pernah melihat Aldo menghindari percakapan tentang masa depan karena takut membuat Rafi bingung. Ia juga pernah melihat putranya memaksakan diri mengurus semua hal sendiri. Namun, beliau tidak mengatakan bahwa Alia dapat memperbaiki semua itu.
'Mas Aldo perlu belajar membagi tanggung jawab,' kataku.
'Betul. Dan itu bukan tugasmu untuk mengajarinya seorang diri.'
Aku mengangkat wajah. 'Tante tidak kecewa kalau saya belum menjawab?'
'Tante akan kecewa kalau kamu menerima hanya supaya Tante senang, lalu kamu terluka setelahnya.'
Kami terdiam sebentar. Aku menyesap teh. Rasanya sudah agak dingin.
'Boleh saya bertanya satu hal?' tanyaku.
'Tentu.'
'Apakah Mas Aldo pernah mengatakan bahwa dia sudah siap menikah lagi?'
Tante berpikir sebelum menjawab. 'Ia mengatakan ingin membangun keluarga yang lebih lengkap untuk Rafi. Tapi ingin menikah dan siap menjadi pasangan adalah dua hal yang tidak selalu sama.'
Jawaban itu membuatku merenung. 'Saya juga merasa begitu.'
'Tante tidak bisa menjawabnya untuk Aldo. Ia harus menjelaskan sendiri apa yang ia rasakan.'
'Dan saya harus menilai dari tindakannya.'
'Benar.'
Tante kemudian mengajakku pindah ke teras belakang. Udara sore cukup sejuk. Kami duduk berhadapan dengan halaman kecil. Beliau menunjukkan beberapa tanaman yang dirawatnya, lalu bercerita ringan tentang kebiasaan Rafi menyiram pot terlalu banyak. Percakapan sederhana itu menolongku memahami bahwa keluarga mereka tidak hanya berisi duka. Ada juga hari-hari biasa yang terus berjalan.
'Kalau suatu saat kamu datang lagi, Tante ingin kamu merasa sebagai tamu, bukan orang yang sedang diuji,' katanya.
'Saya menghargai itu.'
Tante menjelaskan juga rutinitas harian mereka. Rafi biasanya bangun lebih dulu, sementara Aldo menyiapkan sarapan sederhana. Jika pekerjaannya mengharuskan ia berangkat pagi, Tante membantu mengantar Rafi. Mereka punya keluarga lain yang siap mendukung.
'Rafi punya kakek-nenek, Tante, dan orang-orang yang menyayanginya,' katanya. 'Kamu boleh peduli kepadanya tanpa merasa harus menjadi penyelamat.'
Aku merasa sedikit lega. Aku ingin mengenal Rafi karena ia anak yang menyenangkan, bukan karena menganggap hidupnya bergantung padaku.
Tante bercerita bahwa Aldo tidak selalu murung. Ia bisa tertawa ketika Rafi membuat lelucon dan sesekali mengajak anak itu membeli roti setelah sekolah. Duka tetap ada, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan hidup mereka.
'Kalau kamu melanjutkan hubungan, jangan berusaha menjadi pengganti siapa pun,' katanya. 'Jadilah dirimu sendiri. Dan kalau hubungan ini berhenti, kamu tetap boleh mengingat Rafi dengan baik.'
'Terima kasih, Tante. Saya perlu mendengar itu.'
Beliau tersenyum. 'Kamu tidak perlu membuat keputusan hari ini. Dengarkan Aldo, lalu lihat apakah sikapnya sesuai dengan ucapannya.'
Aku merasa percakapan ini bukan usaha untuk mendorongku ke satu jawaban. Tante memberi gambaran tentang keluarga mereka, sekaligus mengingatkanku bahwa pilihan dan batas tetap milikku.
Aku bertanya apakah Rafi pernah merasa harus menyembunyikan kesedihannya agar ayahnya tidak khawatir. Tante menjawab bahwa mereka terus mengingatkan Rafi untuk bercerita kapan pun ia siap. 'Tidak ada jadwal untuk berduka,' katanya. Aku mengangguk. Setidaknya, Aldo dan keluarganya tidak berusaha menghapus kenangan tentang ibu Rafi.
Aku juga bertanya apa yang paling ia khawatirkan saat melihat Aldo berusaha mengatur semuanya. 'Ia takut membuat kesalahan lagi,' jawabnya. 'Namun ketakutan itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengendalikan orang lain.' Aku setuju. Rasa kehilangan bisa menjelaskan sikap seseorang, tetapi tidak otomatis membenarkan semua tindakannya.
Dari ruang tengah terdengar suara pintu. Tante melihat ke dalam rumah. Aldo baru tiba dari kantor. Ia berhenti ketika melihat kami di teras.
'Aku tidak tahu kamu sudah datang,' katanya kepadaku.
'Tante mengundangku. Aku ingin mendengar penjelasannya.'
Aldo memandang ibunya. Wajahnya menegang sebentar, tetapi ia tidak marah. Tante berdiri.
'Sekarang kalian bisa bicara sendiri kalau Alia bersedia.'
Aku menatap Aldo. 'Aku bersedia mendengarkan, tapi aku juga ingin mengatakan apa yang kupikirkan.'
'Silakan,' katanya.
Aku meletakkan cangkir di meja. Percakapan dengan Tante memberiku konteks, tetapi bagian terpenting tetap harus kudengar dari Aldo sendiri.
Sebelum Aldo duduk, Tante mengembalikan album Rafi ke rak. Aku menggeser cangkir agar percakapan berikutnya tidak dimulai dengan meja yang penuh.