Di perjalanan pulang, Tante duduk di depan bersama Aldo, sementara aku di kursi belakang. Ia bertanya apakah kunjungan tadi membuatku lebih nyaman.
'Sedikit. Aku bisa melihat bagaimana Mas Aldo dan Rafi menjalani hari-hari mereka.'
'Dan apa pendapatmu?' tanya Aldo melalui kaca spion.
'Aku melihat Mas berusaha menjadi ayah yang baik. Tapi itu belum otomatis menjawab apakah kita cocok sebagai pasangan.'
'Saya tidak mengharapkan jawaban dari kunjungan tadi.'
'Bagus. Aku juga tidak ingin kunjunganku disalahartikan.'
Tante tersenyum. 'Kalian mulai bisa mengulang batas yang sama tanpa bertengkar.'
'Karena sekarang Mas Aldo mendengarkan,' kataku.
'Saya memang sedang belajar,' jawab Aldo.
Tante menoleh ke belakang. 'Aldo dulu sering memutuskan sesuatu sendiri lalu baru menjelaskan setelahnya.'
'Bu, tidak perlu menceritakan semua keburukanku,' katanya.
'Tante tidak sedang membicarakan keburukan. Tante cuma ingin Alia tahu kamu memang harus terus belajar.'
Aku tersenyum kecil. 'Aku tidak mengharapkan Mas berubah dalam sehari.'
'Saya juga tidak bisa menjanjikan perubahan secepat itu,' jawab Aldo. 'Tapi saya bisa berusaha mendengarkan sebelum mengambil keputusan.'
'Kalau Mas lupa, aku akan mengingatkan.'
'Dan saya akan mencoba tidak menganggapnya sebagai serangan.'
Tante tertawa. 'Itu kemajuan yang boleh dicatat.'
Aku memandang keluar jendela. Percakapan itu membuat suasana terasa ringan, tetapi aku tetap tahu bahwa kesungguhan baru bisa dinilai setelah waktu berjalan. Aku tidak ingin mengubah satu kunjungan baik menjadi kesimpulan besar.
Setelah tiba di rumah, aku berpamitan kepada Tante. Aldo mengantarkanku sampai teras, tetapi tidak masuk. Ia menyerahkan map bening berisi gambar Rafi.
'Dia ingin kamu menyimpannya,' katanya.
'Aku akan menjaganya.'
'Kalau suatu saat kamu ingin datang lagi, katakan saja. Tidak harus untuk bertemu saya.'
Aku tersenyum tipis. 'Aku akan pertimbangkan.'
Malamnya, aku meletakkan gambar itu di meja kamar. Alisha masuk setelah mengetuk pintu.
'Itu gambar siapa?'
'Gambar Rafi.'
'Dia menggambar Kakak?'
'Tidak. Dia menggambar keluarganya.'
Alisha mengamati kertas itu. 'Kakak ada di situ?'
'Tidak.'
'Bagus. Berarti dia tidak merasa harus menggambar Kakak sebelum kenal.'
Aku tertawa. 'Kamu bisa juga berpikir serius.'
'Ade selalu serius kalau soal gambar.'
Ia kembali ke kamarnya setelah memintaku menyimpan map itu baik-baik. Aku menatap gambar tersebut. Ada sesuatu yang mengharukan ketika melihat seorang anak menggambar orang-orang yang ia sayangi, tetapi aku tidak ingin membayangkan diriku menjadi bagian dari gambar itu terlalu cepat.
Ibu datang membawa teh dan duduk di kursi dekat meja. 'Kamu senang menerima gambarnya?'
'Senang. Tapi aku takut salah mengartikan.'
'Kamu boleh menghargai pemberiannya tanpa menganggap itu janji apa pun.'
Aku mengusap tepi map. 'Aku ingin terus bertemu dengannya kalau Rafi nyaman. Tapi aku tidak tahu akan seperti apa hubungan dengan Aldo nanti.'
'Kamu tidak harus tahu sekarang.'
'Kadang aku merasa harus memberi jawaban supaya mereka tidak menunggu.'
'Aldo sudah tahu kamu sedang mengenalnya. Kalau dia memilih menunggu, itu keputusannya. Kamu tidak berutang pernikahan sebagai balasan.'
Aku mengangguk. 'Aku ingin dia memahami itu juga.'
Ibu menatapku lembut. 'Kamu sudah mengatakannya berkali-kali. Sekarang lihat apakah tindakannya sesuai dengan jawabannya.'
Aku meminum teh. Untuk pertama kalinya, aku bisa mengingat wajah Aldo dan Rafi tanpa langsung merasa harus menentukan masa depan. Gambar itu tetap berada di meja, sebuah kenangan kecil dari kunjungan yang berjalan baik.
Keesokan paginya Aldo mengirim pesan. Ia mengatakan Rafi bertanya apakah aku akan datang lagi. Aku menatap layar cukup lama sebelum membalas.
'Aku senang dia ingin bertemu. Tapi tolong bilang kepadanya bahwa kita akan bertemu lagi saat waktunya tepat. Jangan menjanjikan tanggal yang belum pasti.'
Aldo menjawab, 'Saya akan menyampaikan begitu.'
Aku membaca pesan itu sekali lagi, lalu membalas, 'Terima kasih. Aku ingin Rafi tetap merasa aman. Jangan biarkan dia mengira aku akan menggantikan ibunya.'
'Saya akan menjelaskannya. Dia tahu ibunya tetap ibunya.'
Balasan itu membuatku tersenyum tipis. Aku meletakkan ponsel dan membuka jendela kamar. Udara pagi masuk, membawa suara kendaraan dari jalan depan rumah. Aku menyiapkan diri untuk hari biasa, meski pikiranku masih memikirkan kunjungan kemarin.
Ibu mengajakku menyapu halaman. Sambil bekerja, ia bertanya apakah aku akan menerima ajakan Tante kalau ada pembicaraan lagi.
'Kalau Tante ingin menjelaskan sesuatu, aku mau mendengarkan. Tapi aku belum siap menjawab soal menikah.'
'Kamu bisa mengatakannya sebelum bertemu.'
'Iya. Aku akan memastikan tidak ada yang salah paham.'
Kami menyelesaikan pekerjaan bersama. Bapak keluar membawa tasnya dan mengingatkanku agar mengabari keluarga kalau pergi. Aku berjanji. Rutinitas sederhana itu membuatku merasa hidupku tetap berjalan, tidak seluruhnya ditentukan oleh lamaran Aldo.
Aku bersiap menjalani hari seperti biasa. Namun, menjelang siang, pesan lain masuk. Kali ini bukan dari Aldo, melainkan dari Tante.
'Alia, Tante ingin menjelaskan bagaimana Aldo dan Rafi menjalani hari-hari setelah kehilangan. Tante rasa kamu perlu memahami keseharian mereka sebelum hubungan kalian melangkah lebih jauh.'
Aku membaca pesan itu dua kali. Perutku kembali terasa tegang. Aku menunjukkan layar kepada Ibu.
'Apakah kamu ingin menemuinya?' tanya Ibu.
Aku belum tahu apa yang akan diceritakan Tante. Namun, aku juga tidak ingin membangun hubungan di atas informasi yang disembunyikan.
'Iya, Bu. Aku akan mendengarkan. Tapi aku tidak akan menjanjikan jawaban apa pun sebelum tahu semuanya.'
Aku membalas pesan Tante dan menanyakan kapan kami bisa bertemu. Balasannya datang beberapa menit kemudian.
'Sore ini, kalau kamu bersedia.'
Aku menatap layar, lalu menarik napas panjang. Cerita Tante mungkin membantuku memahami bagaimana Aldo dan Rafi menjalani hari-hari mereka, tetapi memahami keadaan seseorang tidak otomatis berarti aku harus menikah dengannya. Aku akan mendengarkan dengan tenang, lalu memikirkan sendiri apa arti cerita itu bagiku.
Aku membalas bahwa aku bersedia bertemu sore itu, tetapi hanya untuk mendengar. Tante menyetujui batas tersebut dan tidak menanyakan keputusan tentang lamaran. Setelah meletakkan ponsel, aku menyimpan gambar Rafi di dalam map agar tidak terlipat. Aku ingin datang dengan pikiran terbuka dan tidak buru-buru menafsirkan penjelasan yang belum kudengar.
Ibu membaca wajahku dari ambang pintu. 'Kamu sudah siap?'
'Siap mendengarkan, Bu. Belum siap memutuskan.'
'Itu sudah cukup untuk sekarang.'
Aku mengangguk. Pertemuan sore nanti mungkin memberi konteks tentang kehidupan mereka. Jawabanku tetap akan menjadi milikku.