Aldo mengirim pesan dua hari setelah percakapan kami di rumah. Ia bertanya apakah aku bersedia melihat rumah tempat ia dan Rafi tinggal. Ia menegaskan bahwa aku tidak perlu datang jika belum siap.
Aku membawa pesan itu kepada Ibu. 'Menurut Ibu, terlalu cepat tidak?'
'Kamu sudah beberapa kali bertemu dengannya dan Rafi. Kalau kamu merasa nyaman, boleh saja. Tapi kamu bisa minta Tante ikut.'
Aku mengirim balasan bahwa aku bersedia datang, tetapi ingin Tante ada di sana. Aldo menyetujuinya. Ia juga mengatakan akan memastikan Rafi tahu bahwa kunjunganku hanya untuk bertemu, bukan tanda bahwa aku akan pindah ke rumah itu.
Sore harinya, Tante menjemputku bersama Aldo. Rumah Aldo berada tidak jauh dari kantornya. Perjalanan berlangsung singkat. Sesampainya di sana, aku berdiri sebentar di depan pintu, memperhatikan halaman kecil yang dipenuhi pot tanaman.
'Masuklah,' kata Aldo. 'Kamu tidak perlu merasa sedang dinilai.'
'Aku justru takut Mas yang menilai apakah aku cocok tinggal di sini.'
'Saya tidak akan melakukannya.'
Tante menimpali, 'Kalau Aldo mulai bicara seperti wawancara kerja, Tante yang akan menyuruhnya diam.'
Aku tertawa kecil. Ketegangan di bahuku mengendur.
Rafi muncul dari ruang tengah dengan mobil mainan di tangannya. Ia melihatku, lalu tersenyum tipis.
'Kak Alia datang.'
'Iya. Kamu masih ingat aku?'
'Ingat. Kak Alia bilang mobil biruku tidak kuning.'
Aku terkekeh. 'Aku memang keliru melihatnya.'
Aldo meletakkan tas di meja. 'Kamu mau minum?'
'Air putih saja.'
Ia pergi ke dapur untuk mengambilkan minum. Aku memperhatikan rumah itu tanpa berniat mencari kekurangan. Ada gambar buatan anak-anak di lemari, beberapa buku cerita tersusun di rak rendah, dan foto keluarga di atas meja. Foto almarhumah ada di sana, tetapi tidak memenuhi seluruh ruangan. Aku menghargai bahwa kenangan itu tetap mendapat tempat tanpa dijadikan ukuran untukku.
Rafi mengajakku melihat gambar yang ia buat. Ia menggambar rumah, mobil, dirinya, ayahnya, dan seorang perempuan yang berdiri di samping mereka.
'Itu ibumu?' tanyaku.
Rafi mengangguk. 'Ibu di sini juga.'
'Iya. Ibumu tetap bagian dari keluarga.'
Ia memandangku seperti memastikan aku tidak keberatan. Aku tersenyum. 'Gambarnya bagus. Rumahnya besar sekali.'
'Ini rumah Ayah.'
'Berarti mobilnya harus parkir di depan.'
Rafi menggambar garis di bagian bawah kertas. 'Ini jalan masuk.'
Tante duduk di dekat kami, membiarkan Rafi bercerita. Aldo datang membawa gelas dan meletakkannya di meja. Ia tidak menyuruhku membantu menyiapkan apa pun atau mengurus Rafi. Ia duduk di karpet dan bertanya kepada anaknya tentang warna yang dipakai.
'Rafi biasanya menggambar kalau sedang senang,' katanya kepadaku.
'Bagus kalau dia punya cara untuk bercerita.'
'Dia juga suka menunjukkan mobilnya.'
'Aku sudah tahu.'
Rafi mengangkat mobil itu. 'Kak Alia mau lihat lagi?'
'Tentu.'
Ia menunjukkan roda yang pernah lepas. Aldo bertanya apakah ia sudah mencoba memperbaikinya sendiri. Rafi menjawab belum, lalu ayahnya menawarkan untuk menemani. Aku melihat Aldo berbicara lembut kepada anaknya, tetapi tidak mengambil alih mainan itu. Ia membiarkan Rafi mencoba lebih dulu.
Rafi mengeluarkan obeng mainan kecil dari kotak. Ia memutar roda itu beberapa kali, tetapi bagian plastiknya kembali terlepas. Aldo tidak segera mengambilnya dari tangan anaknya.
'Mau Ayah bantu atau mau coba lagi?' tanyanya.
'Coba sendiri.'
'Baik. Ayah tunggu.'
Rafi mencoba sekali lagi. Kali ini ia menekan bagian roda sedikit lebih kuat. Roda itu menempel, meskipun masih miring.
'Sudah bisa jalan!' katanya sambil mendorong mobil di karpet.
'Kamu yang memperbaikinya,' ujar Aldo. 'Ayah hanya menemani.'
Aku tersenyum. 'Mas tahu kapan harus membantu dan kapan harus memberi ruang.'
'Saya masih belajar membedakannya.'
'Bagus. Jangan menganggap semua orang perlu dibantu dengan cara yang sama.'
Aldo mengangguk. 'Itu termasuk kamu?'
'Terutama aku.'
Ia tidak membalas dengan lelucon. Ia hanya menerima jawabanku, dan itu membuatku merasa ia mulai memahami bahwa setiap orang punya batas yang berbeda.
'Mas memang selalu menemaninya?' tanyaku.
'Saya berusaha. Kadang pekerjaan membuat saya terlambat pulang.'
'Tapi Mas tidak langsung menyerahkan semuanya kepada orang lain.'
'Saya ayahnya. Saya harus ada untuknya.'
Aku mengangguk. 'Aku menghargai itu. Aku juga tidak mau keberadaanku membuat Mas mengurangi tanggung jawab sebagai ayah.'
Aldo menatapku. 'Saya tidak mengharapkan itu.'
'Bagus. Kalau suatu hari hubungan kita berlanjut, Rafi tetap anak Mas. Kita bisa berbagi perhatian, tapi bukan berarti semuanya menjadi tugasku.'
'Saya mengerti.'
Tante memandang putranya dengan puas. 'Nah, itu baru percakapan yang seharusnya dilakukan sejak awal.'
Aldo tidak membantah. 'Saya tahu, Bu.'
Tante mengajak kami pindah ke meja makan kecil di sisi rumah untuk minum teh. Rafi membawa gambarnya dan meletakkannya di tengah meja. Ia menunjuk satu per satu orang yang ia gambar, lalu mengulang nama mereka. Ia tidak merasa perlu menjelaskan perempuan di gambar itu sebagai siapa pun selain ibunya.
'Kamu mau menggambar lagi?' tanyaku.
'Nanti. Aku mau minum dulu.'
'Kalau begitu, minum dulu. Gambarnya tidak akan lari.'
Rafi tertawa kecil. Aldo menuangkan air untuknya, lalu bertanya apakah ia ingin ditemani menggambar setelah minum. Rafi mengangguk. Aku memperhatikan bagaimana Aldo menanyakan pilihan, bukan langsung memutuskan kegiatan untuk anaknya.
'Mas selalu berusaha memberi pilihan seperti itu?' tanyaku ketika Rafi sibuk dengan gelasnya.
'Tidak selalu. Tapi kalau ada hal yang bisa dia pilih, saya ingin mendengarnya.'
'Itu baik. Anak kecil juga perlu merasa suaranya didengar.'
Tante tersenyum. 'Alia, kamu juga boleh memberi pendapat. Jangan sampai semua orang hanya membicarakan Rafi dan lupa kamu tamunya.'
Aku tertawa. 'Saya tidak keberatan. Saya senang melihat dia nyaman.'
Rafi meminta Aldo membantu membuka bungkus biskuit. Aldo melakukannya, tetapi menunggu Rafi mengulurkan piring kecilnya. Rumah itu terasa hidup oleh kebiasaan sederhana semacam itu. Aku bisa membayangkan tanggung jawab yang harus dijalani setiap hari, bukan hanya saat keluarga berkumpul.
'Kalau saya pulang terlambat, biasanya saya tetap menyempatkan duduk sebentar dengannya,' kata Aldo. 'Kalau tidak bisa, saya menjelaskan alasannya.'
'Mas tidak perlu mengatakan itu untuk meyakinkanku. Aku akan melihat sendiri bagaimana Mas menjalaninya.'
'Benar. Saya hanya menjawab pertanyaanmu.'
Aku mengangguk. Perbedaan kecil itu penting: ia tidak memintaku langsung percaya, hanya menjelaskan rutinitasnya.
Sebelum pulang, Rafi memasukkan gambar rumahnya ke dalam map bening.
'Boleh Kak Alia simpan salinannya?' tanyaku.
'Yang ini boleh.'
Aku berterima kasih. Aku tidak menganggap gambar itu sebagai tanda bahwa Rafi sudah menerima apa pun. Itu hanya gambar seorang anak yang ingin dibagikan. Namun, ketika kami meninggalkan rumah, aku merasa sedikit lebih memahami kehidupan Aldo sehari-hari.