Pertemuan singkat dengan Aldo membuatku berpikir tentang masa lalu yang selama ini jarang kubicarakan. Aku tahu kisah kehilangan adalah bagian dari hidupku, tetapi bukan sesuatu yang harus kuceritakan kepada siapa pun hanya karena mereka bertanya.
Sore itu, Ibu duduk menemaniku di teras. Aku akhirnya mengatakan bahwa Aldo ingin tahu tentang masa sebelum kami bertemu.
'Kamu ingin cerita kepadanya?' tanya Ibu.
'Belum tahu. Tapi aku tidak mau selalu menghindar.'
'Cerita kalau kamu siap, bukan karena merasa harus membalas keterbukaannya.'
Aku mengangguk. 'Afnan meninggal seminggu setelah kami menikah. Kadang aku merasa hidupku seperti berhenti sebelum sempat dimulai.'
Ibu menggenggam tanganku. 'Kamu sudah melewati banyak hal sejak itu.'
'Aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar siap mencintai orang lain.'
'Kesiapan bukan berarti kamu harus melupakan Afnan. Kamu boleh tetap menyimpan kenangan dan tetap membuka masa depan, kalau itu yang kamu inginkan.'
Aku menatap halaman. Selama ini aku sering menjawab singkat ketika orang bertanya tentang statusku. Aku tidak ingin dikasihani, dan tidak ingin kehilangan Afnan dijadikan alasan orang lain mengatur hidupku.
Malamnya, Aldo mengirim pesan. Ia tidak langsung menanyakan pertemuan berikutnya. Ia hanya berkata bahwa ia berharap aku tidak merasa wajib membicarakan hal pribadi sebelum siap.
Aku membalas, 'Terima kasih. Ada hal tentang masa laluku yang mungkin akan kuceritakan, tapi aku ingin melakukannya dengan caraku sendiri.'
Ia menjawab, 'Saya akan menunggu sampai kamu siap.'
Beberapa hari kemudian—tidak sampai seminggu—kami bertemu lagi di halaman rumah orang tuaku. Ibu ada di dalam bersama Alisha. Aldo datang setelah bertanya apakah aku bersedia berbicara sebentar. Aku memutuskan akan menjelaskan sebagian kisahku, bukan untuk membandingkan, tetapi agar ia tahu bahwa aku juga memiliki kehilangan.
'Aku pernah menikah,' kataku. 'Suamiku bernama Afnan. Kami baru seminggu menikah ketika dia meninggal.'
Aldo menunduk. 'Saya turut berduka.'
'Terima kasih. Aku tidak menceritakan ini supaya Mas merasa harus mengasihaniku.'
'Saya mengerti.'
'Aku juga tidak ingin pengalaman kami disamakan. Kehilangan Mas berbeda dari kehilangan yang kualami. Tapi aku tahu rasanya ketika orang lain mengira kita sudah baik-baik saja hanya karena waktu terus berjalan.'
Aldo diam beberapa saat. 'Saya tidak pernah menganggap kamu sudah baik-baik saja.'
'Mas bahkan belum tahu apa-apa tentang aku.'
'Itu benar.'
Aku menatap wajahnya. 'Aku tidak mau menjadi pengganti siapa pun. Sama seperti aku tidak akan meminta Mas melupakan istrimu.'
'Saya tidak ingin kamu menjadi pengganti.'
'Kalau begitu, jangan menilai hubungan baru berdasarkan kewajiban kepada masa lalu.'
Aldo menarik napas panjang. 'Saya masih menyimpan banyak kenangan. Saya tidak tahu kapan saya akan siap membuka hati sepenuhnya.'
'Aku tidak meminta Mas menjanjikan sesuatu yang belum bisa diberikan.'
'Lalu apa yang kamu minta?'
'Kejujuran. Dan usaha untuk melihatku sebagai diriku sendiri.'
'Saya bisa mencoba.'
'Mas selalu bilang akan mencoba.'
'Kali ini saya tahu mencoba saja belum cukup. Saya harus menunjukkan lewat tindakan.'
Aku mengangguk. Perkataannya belum menjadi bukti, tetapi setidaknya ia tidak membuat janji besar. Aku memilih tidak menuntut lebih dari yang bisa ia berikan saat itu.
Aldo kemudian bertanya pelan, 'Apa yang kamu ingat dari Afnan?'
Aku berpikir sebentar. 'Hal-hal kecil. Cara dia menunggu sampai aku selesai bicara, meski sedang sibuk. Dan kebiasaannya memastikan aku sudah makan.'
Aldo tersenyum samar. 'Kebiasaan yang baik.'
'Ya. Tapi aku tidak sedang mencari orang yang sama dengannya.'
'Saya juga tidak meminta kamu menjadi orang yang sama dengan istri saya.'
'Kalau begitu, kita punya satu hal yang perlu sama-sama ingat.'
'Bahwa kita adalah orang yang berbeda.'
Aku mengusap tepi cangkir. 'Aku tidak tahu apakah aku akan siap menikah lagi. Setelah Afnan meninggal, ada banyak ucapan orang yang membuatku merasa harus segera bangkit. Seolah kalau aku masih sedih, berarti aku tidak berusaha.'
'Saya tidak akan memberi batas waktu untuk kesedihanmu,' kata Aldo.
'Jangan juga menganggap aku harus memahami semua kesedihan Mas hanya karena aku pernah kehilangan.'
'Saya tidak akan begitu.'
'Kita boleh saling bercerita, tapi tidak harus selalu punya jawaban untuk satu sama lain.'
Aldo memandang halaman. 'Saya sering mengira diam adalah cara terbaik supaya tidak mengatakan sesuatu yang salah.'
'Kadang diam hanya membuat orang lain menebak-nebak.'
'Saya mulai menyadarinya.'
'Kalau begitu, mungkin kita bisa belajar bicara sebelum sama-sama membuat kesimpulan.'
Ia mengangguk. Tidak ada pelukan atau janji besar setelah percakapan itu. Hanya ada kesepakatan kecil bahwa kami tidak akan memaksa masa lalu menjadi ukuran hubungan yang baru.
Sebelum pulang, Aldo berkata, 'Saya tidak tahu apakah saya akan mudah bercerita. Tapi kalau saya mulai menghindar, kamu boleh mengingatkan saya.'
'Aku bisa mengingatkan. Tapi Mas juga harus bertanggung jawab atas caramu bicara.'
'Saya tahu.'
'Dan aku pun akan berusaha mengatakan kalau ada hal yang membuatku tidak nyaman, bukan menunggu sampai kesal sendiri.'
'Itu adil.'
Kami berdiri. Aldo tidak mencoba menahan tanganku atau membuat suasana menjadi romantis. Ia hanya mengucapkan terima kasih karena aku bersedia mendengarkan. Aku menghargai sikap itu. Bagiku, rasa hormat pada batas kecil seperti ini lebih berarti daripada kata-kata manis yang belum terbukti.
Aku tersenyum tipis. Percakapan itu tidak menghapus kekhawatiran, tetapi membuat jarak di antara kami terasa sedikit lebih jujur. Ketika Aldo pamit, aku tidak merasa perlu memberi jawaban baru. Aku hanya berterima kasih karena ia mendengarkan.
Setelah Aldo pulang, aku tidak merasa perlu meneleponnya untuk memastikan ia tidak tersinggung. Ia sudah mendengarkan dan aku sudah mengatakan batas yang kubutuhkan. Jika ia mempunyai pertanyaan, ia boleh bertanya saat kami bertemu lagi. Aku juga boleh mengatakan belum siap menjawab. Untuk pertama kalinya, kenangan tentang Afnan terasa seperti bagian hidup yang bisa kubagikan tanpa menyerahkan kendali atas ceritaku. Aku tidak harus memilih antara mengenang dan membuka masa depan.
Aku bisa mengenang Afnan sekaligus mengenal Aldo.
Aku menyimpan kembali foto Afnan setelah membersihkan debu pada bingkainya. Benda itu tetap ada di kamar, tidak kusingkirkan untuk menyenangkan siapa pun.