Pesan Aldo masuk keesokan paginya. Ia bertanya apakah aku bersedia bertemu untuk berbicara tentang hal-hal yang belum sempat kami bahas. Aku membaca kalimat itu sambil duduk di tepi ranjang. Tidak ada perintah tentang jam atau tempat. Ia menanyakan kesediaanku terlebih dahulu.
Aku membalas bahwa aku bersedia, asal pertemuannya singkat dan di tempat terbuka. Aldo setuju. Kami memilih kedai kecil yang pernah kulihat di dekat jalan utama, tidak jauh dari rumahku.
Sebelum berangkat, Ibu bertanya apakah aku ingin ditemani. Aku memilih pergi sendiri, tetapi berjanji akan memberi kabar setelah selesai. Ibu mengingatkanku agar tidak merasa berutang jawaban hanya karena Aldo sudah datang.
Kedai itu cukup tenang ketika aku tiba. Aldo sudah menunggu di meja dekat jendela. Ia berdiri saat melihatku.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Aku datang untuk bicara, bukan untuk menjawab lamaran.'
'Saya mengerti.'
Aku duduk dan memesan teh. Aldo tidak memilihkan minuman untukku, dan hal kecil itu terasa berbeda dari kebiasaannya mengambil keputusan sendiri.
'Kamu bilang ada hal yang belum kita bahas,' ujarnya.
'Ada beberapa. Pertama, Mas ingin mengenalku sebagai pasangan, tapi apa yang Mas ingin ketahui?'
Ia berpikir sebentar. 'Apa yang membuatmu nyaman. Apa yang membuatmu marah. Hal-hal yang kamu sukai.'
'Mas sudah tahu aku suka apa?'
'Belum.'
'Berarti kita mulai dari situ.'
Aldo mengangguk. 'Apa yang kamu suka?'
'Pertanyaan itu terlalu luas.'
'Baik. Hal sederhana. Apa yang kamu lakukan kalau punya waktu luang?'
Aku menceritakan bahwa aku lebih suka membaca atau menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga daripada pergi ke tempat ramai. Aku bercerita soal kebiasaanku membantu Ibu, dan bagaimana Alisha sering mengambil camilan lalu lupa mengembalikan bungkusnya ke tempat sampah.
Aldo mendengarkan tanpa menyela. Setelah aku selesai, ia berkata, 'Saya tidak tahu kamu suka membaca.'
'Mas tidak pernah bertanya.'
'Saya biasanya hanya bertanya soal pekerjaan atau keperluan.'
'Itulah yang ingin kuubah. Aku tidak mau setiap percakapan kita hanya soal Rafi atau rencana pernikahan.'
Ia mengangguk. 'Saya juga ingin tahu tentang kehidupanmu sebelum kita bertemu.'
Aku terdiam. Pertanyaan itu menyentuh bagian yang belum banyak kubicarakan. 'Mas tahu aku pernah menikah.'
'Saya tahu dari orang tua kita. Saya tidak ingin bertanya kalau kamu belum siap.'
'Terima kasih. Aku mungkin akan cerita suatu saat. Tapi jangan menganggap aku siap menikah lagi hanya karena sudah lama sendiri.'
'Saya tidak akan menganggap begitu.'
Aku menatapnya, mencoba membaca kesungguhan di balik wajahnya. 'Mas sering mengatakan sesuatu dengan yakin, lalu baru memikirkan akibatnya belakangan.'
'Saya sedang mencoba tidak melakukan itu.'
'Mas harus membuktikannya.'
'Saya tahu.'
Pelayan datang mengantar minuman. Kami berhenti berbicara beberapa saat. Aldo tidak memanfaatkan jeda itu untuk mendesakku. Ia malah bertanya tentang buku yang terakhir kubaca. Aku menjawab, lalu menanyakan apakah ia punya kegiatan selain bekerja dan mengurus Rafi.
'Tidak banyak,' katanya. 'Saya biasa menghabiskan waktu di rumah. Kalau Rafi ingin bermain, saya menemaninya.'
'Mas bisa masak?'
'Bisa membuat beberapa makanan sederhana.'
'Contohnya?'
'Telur, mi, dan roti panggang.'
'Itu kemampuan bertahan hidup, bukan memasak.'
Aldo menatapku seolah ingin membantah. 'Rafi suka telur buatan saya.'
'Karena dia anak lima tahun. Telur apa pun bisa terasa istimewa.'
Kali ini ia tertawa pendek. Tawanya tidak lama, tetapi membuat wajahnya terlihat lebih muda. Aku tidak ingin terlalu cepat menganggap sisi itu sebagai tanda bahwa hubungan kami akan berhasil. Namun, berbicara dengannya tanpa tekanan terasa lebih mudah.
'Mas,' kataku, 'kalau kita saling mengenal, aku ingin percakapan seperti ini menjadi dua arah. Bukan aku yang menjawab pertanyaan Mas terus.'
'Saya setuju. Kamu juga boleh bertanya apa pun.'
'Aku belum tentu langsung mendapat jawaban.'
'Saya akan berusaha menjawab jujur.'
Aku menyelesaikan tehku. Pertemuan itu tidak membuatku mengubah keputusan, tetapi memberiku beberapa hal baru untuk dipikirkan. Aldo ternyata bisa mendengar tanpa mengubah setiap jawaban menjadi syarat.
Saat kami berdiri, ia bertanya, 'Apakah kamu bersedia bertemu lagi?'
'Boleh. Tapi aku ingin menentukan waktunya setelah melihat jadwalku.'
'Baik. Kabari saya.'
Aku pulang tanpa janji besar. Di rumah, Ibu bertanya bagaimana pertemuan itu berlangsung. Aku menjawab bahwa kami akhirnya berbicara tentang hal-hal yang bukan Rafi dan pernikahan.
'Apakah kamu merasa lebih mengenalnya?' tanya Ibu.
'Sedikit. Tapi aku juga sadar masih banyak yang belum kuketahui.'
'Itu proses,' katanya.
Aku menyimpan tas dan membuka buku catatan. Kali ini aku menulis satu kalimat baru: aku ingin tahu siapa Aldo ketika ia tidak sedang memberi perintah.
Aku juga menulis pertanyaan yang belum berani kusampaikan: apakah ia siap membuka kehidupan rumahnya untuk orang lain tanpa mengharapkan orang itu mengambil alih semua tanggung jawab? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan satu percakapan di kedai. Aku perlu melihat bagaimana ia bertindak saat keadaan tidak sesuai keinginannya.
Di bawahnya kutulis, 'Apakah aku merasa dihargai saat berbicara dengannya?' Jawabanku belum bulat. Hari ini ia mendengarkan, tetapi aku masih ingat bagaimana ia menyampaikan lamaran seperti keputusan yang sudah selesai. Aku tidak mau satu sikap baik menutup mata terhadap sikap yang melukaiku.
Aku membuka kembali catatan itu setelah menaruhnya di meja. Membacanya terasa seperti berbicara kepada diri sendiri dengan lebih jujur. Aku tidak membenci Aldo. Aku juga tidak ingin membuatnya menderita karena kata-katanya. Namun, rasa kasihan kepadanya atau kepada Rafi tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan diriku.
Menjelang malam, Bapak pulang dan menanyakan apakah aku sudah makan. Aku mengatakan sudah, lalu menceritakan percakapan ringan kami di kedai. Bapak tidak tertarik pada apa yang kupesan; ia lebih ingin tahu apakah Aldo memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara.
'Dia mendengarkan?' tanyanya.
'Kali ini, iya.'
'Bagus. Tapi jangan menganggap satu sore sudah cukup untuk mengenal orang.'
'Aku tahu, Pak.'
Ibu menyela sambil menaruh piring di meja, 'Kamu boleh menikmati obrolan yang baik tanpa harus mengubahnya menjadi keputusan.'
Aku tersenyum. Nasihat mereka membuatku tidak merasa bersalah karena masih ingin bertemu Aldo, sekaligus mengingatkanku bahwa rasa nyaman harus tumbuh bersama rasa hormat.