Perjalanan pulang dari taman terasa lebih hening daripada saat berangkat. Bapak tidak langsung bertanya. Ia baru membuka percakapan setelah kami melewati dua persimpangan.
'Bagaimana pertemuanmu dengan Rafi?' tanyanya.
'Dia masih malu-malu, Pak. Tapi dia mulai bercerita tentang mobil mainannya.'
'Dan Aldo?'
'Dia tidak mendesak. Itu sudah lebih baik daripada kemarin.'
Bapak mengangguk. 'Kamu sendiri merasa bagaimana?'
Aku memandang jalan di depan. 'Aku senang bisa bicara dengan Rafi. Tapi aku tidak mau mengartikan itu sebagai tanda bahwa aku harus menikah dengan ayahnya.'
'Bagus. Satu langkah tidak perlu langsung berarti seluruh perjalanan.'
Ucapan Bapak membuatku lega. Aku ingin mengenal Rafi sebagai anak kecil yang punya kesukaan dan kenangan sendiri, bukan sebagai alasan untuk memutuskan masa depanku. Saat tiba di rumah, Ibu sudah menunggu di ruang tengah.
'Bagaimana?' tanyanya.
'Baik, Bu. Rafi sempat bercerita soal mobilnya.'
Ibu tersenyum. 'Kamu senang?'
'Sedikit. Tapi aku masih belum menerima lamaran.'
'Ibu tahu. Pertemuan yang menyenangkan tidak menghapus hal-hal yang perlu dibicarakan.'
Aku duduk di sofa dan membuka sepatu. 'Aku bilang kepadanya aku tidak akan menggantikan ibunya. Rafi bertanya apakah boleh cerita soal ibunya. Aku bilang boleh.'
'Itu jawaban yang baik,' kata Ibu. 'Anak itu tidak perlu merasa kenangannya harus disembunyikan.'
Aku terdiam. Aku membayangkan Rafi memegang mobil kecilnya dan bertanya dengan suara lirih. Ada kehangatan yang tumbuh saat ia mulai bercerita, tetapi aku tidak mau membiarkan perasaan itu berubah menjadi janji yang belum siap kubuat.
'Mas Aldo juga tidak berusaha menjadikan pertemuan itu sebagai bukti bahwa aku cocok,' kataku.
'Dia mulai belajar mendengarkan?'
'Belum tentu. Tapi setidaknya dia tidak menekan.'
Ibu mengambil cangkir yang sudah kosong. 'Perhatikan sikapnya dari waktu ke waktu. Kamu tidak perlu mencari jawaban hanya dari satu sore.'
'Kalau dia mengajak bertemu lagi, Kakak mau?' tanya Alisha dari ambang ruang tengah.
'Mau bicara, mungkin. Tapi bukan berarti Kakak sudah memutuskan menikah.'
'Ade tahu. Kakak selalu bilang itu.'
Aku tertawa kecil. 'Karena orang-orang mudah sekali menyimpulkan.'
Alisha duduk di karpet dan menyandarkan dagu ke sofa. 'Rafi kelihatannya baik. Kalau Kakak jadi temannya, kalian bisa main mobil-mobilan.'
'Dia yang punya mobilnya. Kakak cuma boleh melihat.'
'Kalau dia mengizinkan, Kakak boleh pinjam.'
'Kamu ini sudah membuat aturan sendiri.'
Ibu tertawa pelan, lalu berkata, 'Alisha hanya ingin kamu merasa lebih ringan. Tapi keputusan tetap kamu yang pegang.'
Aku tahu. Aku juga tahu pertemuan hari ini bukan bukti bahwa Rafi sudah menganggapku keluarga. Ia hanya mulai nyaman bercerita. Aku ingin menghormati langkah kecil itu tanpa membebani anak tersebut dengan harapan orang dewasa.
'Kalau nanti Rafi semakin dekat, aku tidak ingin membuatnya bingung,' kataku.
'Maka kamu dan Aldo perlu bicara jujur kepadanya, sesuai usianya,' jawab Ibu. 'Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti.'
'Aku juga tidak mau dia merasa aku datang untuk mengisi tempat ibunya.'
Ibu meraih tanganku. 'Kamu tidak bisa mengatur semua perasaan Rafi. Yang bisa kamu lakukan adalah bersikap tulus dan tidak berpura-pura menjadi orang lain.'
'Bagaimana kalau suatu hari dia bertanya apakah aku akan menikah dengan ayahnya?'
'Kamu bisa menjawab bahwa kalian masih saling mengenal. Anak kecil bisa menerima jawaban sederhana, selama orang dewasa tidak berbohong.'
Nasihat Ibu membuatku merasa lebih siap menghadapi pertanyaan itu. Aku tidak harus punya jawaban untuk seluruh masa depan sebelum bertemu Rafi. Aku hanya perlu jujur tentang apa yang bisa dan belum bisa kuberikan hari ini.
Ponselku bergetar. Pesan Aldo masuk.
'Terima kasih sudah datang. Rafi masih membicarakan mobilnya dan menanyakan apakah kamu akan datang lagi.'
Aku membaca kalimat itu dua kali. Ada rasa senang kecil yang muncul, lalu segera kuingatkan diri untuk tidak menyimpulkan lebih jauh.
Aku membalas, 'Aku senang bisa berbicara dengannya. Tapi tolong jangan membuat Rafi menganggap aku pasti akan menjadi bagian dari keluarga kalian. Kita masih saling mengenal.'
Balasan Aldo datang tidak lama kemudian. 'Saya paham. Saya akan menjelaskannya dengan cara yang sederhana.'
Aku menunjukkan layar kepada Ibu. 'Dia tidak tersinggung.'
'Bagus. Orang yang ingin membangun hubungan perlu bisa menerima batas.'
Aku duduk di samping Ibu. 'Kadang aku takut membuatnya menjauh.'
'Kalau batas yang wajar membuatnya menjauh, berarti kamu perlu tahu itu sebelum membuat keputusan yang lebih besar.'
Aku menarik napas. Kalimat itu terdengar tegas, tetapi tidak membuatku takut. Aku ingin berani memeriksa apakah Aldo bersedia berubah, bukan mengubah diriku agar ia tetap dekat.
Malamnya, aku membantu Ibu menyiapkan makan. Alisha bertanya lagi tentang Rafi, dan kali ini aku menjawab lebih banyak.
'Dia punya mobil biru, ya?' katanya.
'Iya. Rodanya pernah lepas.'
'Mas Aldo bisa memperbaikinya?'
'Mungkin. Tapi Rafi kelihatannya suka mengutak-atik sendiri.'
Alisha tersenyum. 'Kalau Kakak datang lagi, tanya apakah dia punya mobil merah.'
'Akan Kakak tanyakan kalau ada kesempatan.'
Bapak bergabung dengan kami dan berkata ia senang aku pulang dengan pikiran lebih ringan. Aku tidak langsung menjawab. Aku masih punya banyak pertanyaan tentang Aldo dan tentang diriku sendiri.
'Belum ringan sepenuhnya, Pak,' kataku. 'Tapi setidaknya aku tidak merasa harus menjawab hari ini.'
'Memang tidak harus,' ujar Bapak.
Selesai makan, aku kembali ke kamar. Aldo belum mengirim pesan lain. Aku tidak merasa perlu menunggu. Aku mengambil buku catatan dan menulis satu kalimat: mengenal seseorang bukan berarti menyetujui semua yang ia minta.
Setelah menutup buku, aku meletakkannya di meja. Besok mungkin akan ada percakapan baru. Aku ingin menjalaninya tanpa membiarkan satu pesan atau satu senyum menentukan pilihanku.
Aku memutuskan tidak akan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang belum diajukan. Jika Rafi bertanya lagi, aku akan menjawab sesuai keadaan saat itu dan berbicara lebih dulu dengan Aldo. Dengan begitu, kejujuranku tidak berubah menjadi janji yang belum dapat kupenuhi.
Aku ingin menjaga kesempatan itu tanpa menjadikannya janji tentang masa depan.
Aku memasukkan gambar itu ke map agar tidak terlipat, lalu menaruh map di rak. Gambar Rafi tidak kubuang atau kujadikan janji.