Aldo mengirim pesan malam itu. Ia tidak menanyakan jawabanku lagi. Ia hanya menulis bahwa ia menghargai kesediaanku untuk saling mengenal dan akan membiarkan aku menentukan waktu pertemuan berikutnya.
Aku membaca pesan itu sebelum tidur, lalu meletakkan ponsel di meja. Tidak ada kata romantis atau janji besar. Anehnya, justru itu membuatku lebih percaya daripada kalimat manis yang mungkin tidak bisa ia tepati.
Pagi berikutnya, Ibu bertanya apakah aku sudah memikirkan semuanya.
'Sudah. Aku belum menerima lamaran, tapi aku bersedia mengenal Mas Aldo.'
'Apakah kamu merasa itu keputusanmu sendiri?'
'Iya, Bu. Aku tidak mau menikah karena kasihan kepada Rafi atau karena takut mengecewakan Tante.'
Ibu mengangguk. 'Kalau nanti kamu berubah pikiran, kamu tetap boleh berhenti.'
'Aku tahu.'
Bapak ikut bergabung di meja makan. 'Yang penting jangan abaikan sikapnya. Orang bisa bicara baik ketika menginginkan sesuatu. Lihat juga apakah ia konsisten.'
'Aku akan ingat, Pak.'
Alisha menyela sambil mengoleskan selai ke roti. 'Berarti Kakak belum jadi istri Mas Aldo?'
'Belum.'
'Berarti aku belum perlu memanggilnya apa-apa?'
Aku tertawa. 'Kamu memang sudah memikirkan panggilan?'
'Kalau nanti dia jadi keluarga kita, aku harus tahu panggilannya.'
'Jangan buru-buru membangun silsilah,' kata Bapak.
Kami tertawa kecil. Suasana itu membuat keputusan yang kubuat terasa lebih ringan. Aku tidak sedang menjanjikan masa depan, hanya membuka ruang untuk mengetahui apakah Aldo bisa hadir sebagai dirinya sendiri.
Menjelang siang, Aldo mengirim pesan bahwa ia ingin bertemu di taman kecil dekat rumahnya bersama Rafi. Ia bertanya apakah aku bersedia. Aku membaca pesannya dua kali. Bertemu Rafi lagi terasa lebih menegangkan daripada bicara dengan Aldo.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Ibu.
'Kalau kamu belum siap, kamu boleh menolak,' katanya.
'Aku ingin bertemu. Tapi aku tidak mau membuat Rafi mengira aku akan langsung tinggal bersama mereka.'
'Bilang saja kepada Aldo agar dia menjelaskan dengan sederhana.'
Aku mengetik balasan: 'Aku bersedia bertemu Rafi sebentar. Tapi tolong jangan membuatnya mengira aku akan menjadi ibunya atau langsung tinggal di rumah kalian.'
Aldo membalas, 'Saya akan jelaskan. Terima kasih sudah mau.'
Sore hari aku tiba di taman bersama Bapak mengantarku sampai gerbang, lalu menunggu di warung seberang. Aldo berdiri dekat bangku dengan Rafi di sampingnya. Anak itu memegang mobil mainan yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu.
'Alia,' sapa Aldo. 'Terima kasih sudah datang.'
'Aku tidak lama. Aku hanya ingin menyapa Rafi.'
Rafi melihatku lalu bersembunyi setengah badan di belakang Aldo. Aku tidak mendekat. 'Hai, Rafi. Mobilnya masih kamu bawa?'
Ia mengangguk kecil.
'Mobil itu cepat?'
'Cepat,' jawabnya lirih.
'Kalau begitu, jangan sampai menabrak kaki orang.'
Rafi tersenyum sedikit. Aldo memperhatikan kami tanpa menyela.
'Ayah bilang kamu mau jadi temanku,' kata Rafi tiba-tiba.
Aldo tampak hendak bicara, tetapi aku mengangkat tangan kecil, meminta waktu menjawab sendiri.
'Aku ingin mengenal kamu,' kataku. 'Kita bisa berteman pelan-pelan. Kamu tidak harus memanggilku apa-apa selain Kak Alia.'
Rafi menatap ayahnya. 'Bukan ibu?'
'Bukan sekarang,' jawabku lembut. 'Aku tidak akan menggantikan ibumu. Ibumu tetap ibumu.'
Rafi melihat mobil mainannya. 'Ayah bilang Ibu sudah di surga.'
Aldo menunduk di sampingnya. 'Iya, Nak. Ibu selalu menjadi ibumu.'
'Aku boleh cerita tentang Ibu ke Kak Alia?'
'Tentu boleh,' kataku. 'Kalau kamu ingin cerita, aku akan mendengarkan. Kalau belum ingin, juga tidak apa-apa.'
Rafi mengangguk pelan. 'Ibu suka warna kuning.'
'Warna yang bagus,' jawabku. 'Mobilmu juga ada warna kuningnya.'
Ia memeriksa mobil kecil itu. 'Ini biru.'
'Oh, benar. Berarti aku harus belajar melihat lebih teliti.'
Rafi terkikik. Aldo ikut tersenyum, tetapi ia tidak mencoba menjadikan momen itu sebagai janji bahwa aku akan menjadi ibu baru. Aku menghargai sikapnya. Anak itu boleh membawa kenangan tentang ibunya tanpa merasa harus menyembunyikannya demi menyenangkan orang dewasa.
Aku melirik Aldo. 'Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku ingin Rafi tahu bahwa aku tidak akan meminta dia melupakan siapa pun.'
'Saya setuju,' katanya. 'Dia berhak mengingat ibunya.'
Jawaban itu membuatku sedikit lebih tenang. Tidak menghapus semua keraguanku, tetapi menunjukkan bahwa Aldo mungkin bisa belajar mendengarkan.
Aldo menunduk, sementara Rafi menggenggam mobilnya lebih erat.
'Kalau aku sudah kenal Kak Alia, boleh cerita soal mobil?' tanyanya.
'Tentu. Aku juga mau dengar.'
Ia mulai bercerita bahwa mobil itu hadiah ulang tahun dan roda kirinya pernah lepas. Suaranya semakin jelas setelah beberapa menit. Aku duduk di ujung bangku, memberi ruang agar ia tetap dekat dengan ayahnya.
Aldo berdiri agak jauh. Ketika Rafi asyik menjelaskan mobilnya, Aldo berkata pelan, 'Terima kasih. Saya tahu ini tidak mudah.'
'Aku datang untuk mengenalnya, bukan untuk membuktikan sesuatu.'
'Saya mengerti.'
'Mas harus terus mengingat bahwa dia anak kecil. Jangan jadikan dia alasan untuk meminta aku menjawab lebih cepat.'
'Saya tidak akan.'
Aku menatap Rafi yang sedang memutar roda mobil mainannya. 'Kalau kita melanjutkan, aku ingin semuanya tumbuh wajar. Hubungan Mas denganku, juga hubunganku dengan Rafi.'
Aldo mengangguk. 'Saya akan berusaha.'
Rafi mengangkat mobilnya. 'Kak Alia mau lihat?'
Aku tersenyum. 'Mau.'
Ia mendekat satu langkah dan menunjukkan bagian bawah mobil itu. Langkah kecil, tetapi aku tidak ingin mengartikannya sebagai tanda bahwa semuanya sudah selesai. Kami baru mulai saling mengenal.
Setelah beberapa saat, aku pamit. Aldo tidak menahan atau meminta keputusan. Ia hanya mengantarku sampai gerbang taman.
'Apakah kamu masih bersedia bertemu lagi?' tanyanya.
'Ya. Tapi bukan berarti aku sudah menerima lamaran.'
'Saya tahu.'
'Bagus. Aku tidak mau kita salah paham lagi.'
'Kali ini saya akan bertanya sebelum menyimpulkan.'
Aku tersenyum tipis. 'Kita lihat apakah Mas bisa melakukannya.'
Dari seberang jalan, Bapak melambaikan tangan. Aku pamit kepada Aldo dan berjalan menghampiri Bapak. Saat menoleh sekali lagi, kulihat Aldo berjongkok di dekat Rafi, mendengarkan anak itu bercerita. Untuk pertama kalinya, aku membayangkan hubungan kami bukan sebagai keputusan yang harus segera dibuat, melainkan sebagai kemungkinan yang perlu dibuktikan lewat sikap.
Aku belum menjadi istri Aldo, dan belum tahu apakah suatu hari akan bersedia. Namun, aku sudah memberi jawaban yang jujur: aku bersedia mengenal mereka, tanpa kehilangan hak untuk memilih.