Setelah sarapan, aku duduk bersama Ibu di ruang tengah. Bapak sudah bersiap pergi mengurus beberapa keperluan, sementara Alisha membereskan buku sekolahnya. Aku ingin menelepon Aldo, tetapi masih belum tahu kalimat pertama yang harus kuucapkan.
Ibu meletakkan dua cangkir teh di meja. 'Kamu bilang ingin mengenal Rafi. Apa itu karena kamu menyukai anak-anak, atau karena merasa kasihan?'
Pertanyaan itu membuatku diam. 'Mungkin awalnya kasihan. Tapi waktu melihat dia, aku juga merasa ingin tahu seperti apa dia kalau sudah nyaman.'
'Itu perasaan yang wajar. Tapi jangan mengubah rasa kasihan menjadi janji yang belum bisa kamu tepati.'
'Aku mengerti.'
Ibu duduk di hadapanku. 'Dan soal Aldo, apa kamu punya perasaan kepadanya?'
Aku mengembuskan napas. 'Aku tidak tahu. Dia menyebalkan. Sikapnya seperti semua orang harus mengikuti caranya.'
'Namun, kamu masih memikirkan dia.'
'Itu belum berarti suka, Bu.'
'Benar. Bisa jadi karena kamu tersinggung. Bisa juga karena penasaran. Kamu yang paling tahu.'
Aku memeluk bantal sofa. 'Aku tidak ingin menikah hanya karena semua orang merasa ini solusi terbaik untuk Rafi.'
'Bagus. Kamu tidak harus menjadi solusi bagi siapa pun,' jawab Ibu. 'Kalau kelak kamu menyayangi Rafi, itu harus tumbuh dari hubungan kalian, bukan dari tuntutan.'
Aku menatap jendela. Di halaman, Bapak sedang berbicara lewat telepon sambil memasukkan kunci ke saku. Hidup di rumah ini terasa biasa saja, tetapi percakapan kami membuat pikiranku bergerak ke tempat yang lebih jernih.
'Aku pernah kehilangan suami sebelum sempat benar-benar menjalani rumah tangga,' kataku. 'Kadang aku bertanya-tanya apakah aku terlalu takut membuka hati lagi.'
Ibu tidak langsung menjawab. Ia memegang tanganku, memberi waktu agar aku menyelesaikan pikiranku sendiri.
'Rasa takut itu tidak salah,' katanya. 'Kamu kehilangan Afnan dalam keadaan yang berat. Tapi jangan jadikan kehilangan itu alasan untuk menerima sesuatu yang kamu tahu akan melukaimu.'
'Aku tidak ingin membandingkan Aldo dengan Afnan.'
'Kamu tidak perlu membandingkan siapa pun. Yang kamu perlukan adalah hubungan yang baik untuk dirimu sekarang.'
Aku menarik napas panjang. 'Aku juga tidak tahu apakah aku benar-benar ingin menikah lagi. Selama ini aku cuma mengatakan belum ingin, setiap kali ada yang bertanya.'
'Tidak apa-apa kalau jawabannya belum jelas,' kata Ibu. 'Yang penting, jangan biarkan orang lain menjawab untukmu.'
Kalimat itu membuat mataku panas. Aku menunduk, mengusap ujung hidung agar tidak menangis. Ibu tidak memelukku atau memaksaku bicara. Ia hanya duduk di dekatku sampai napasku kembali tenang.
'Bu, kalau aku menolak, Tante mungkin kecewa.'
'Tante bisa kecewa dan tetap menghormati keputusanmu. Kalau tidak, itu bukan tanggung jawabmu untuk diperbaiki dengan mengorbankan dirimu.'
Aku mengusap permukaan cangkir. 'Aku cuma tidak mau kelihatan egois.'
'Menjaga batas bukan egois. Kamu tetap bisa peduli kepada Rafi tanpa menikahi ayahnya.'
Kalimat itu membuatku sadar bahwa sejak kemarin aku memandang pilihan ini hanya sebagai dua jalan: menjadi ibu Rafi atau meninggalkannya. Padahal Rafi punya keluarga yang menyayanginya.
'Kalau aku nanti bertemu dia lagi, bagaimana sebaiknya bersikap?' tanyaku.
'Jangan berusaha membuatnya langsung suka padamu,' jawab Ibu. 'Sapa dia, dengarkan ceritanya, dan beri dia ruang.'
'Kalau dia menolak?'
'Jangan tersinggung. Dia anak kecil yang sedang menyesuaikan diri.'
Aku mengangguk. Aku ingin Rafi merasa aman, tetapi aku juga tidak ingin menjadikan setiap tindakannya sebagai ukuran apakah aku akan diterima keluarga Aldo. Hubungan anak itu dengan ayahnya sudah ada jauh sebelum aku datang.
Ibu menambahkan, 'Dan ingat, kamu tidak harus mengurus semuanya sendirian. Kalau suatu hari kamu menjadi bagian dari keluarga itu, Aldo tetap ayahnya. Tanggung jawab itu tidak boleh dialihkan seluruhnya kepadamu.'
'Mas Aldo belum pernah membicarakan pembagian tanggung jawab.'
'Berarti itu salah satu hal yang perlu kamu tanyakan.'
Aku menyimpan kalimat itu dalam hati. Menjadi pasangan seseorang tidak berarti mengambil alih semua pekerjaannya, dan menjadi ibu sambung bukan berarti menghapus peran ayah. Aku mulai menuliskan hal-hal yang perlu dibicarakan, bukan sebagai daftar tuntutan, melainkan agar rasa takutku tidak berubah menjadi jawaban yang tidak kupahami sendiri. Aku tidak harus mengambil peran besar agar rasa peduliku dianggap tulus.
Alisha muncul dari lorong dengan tas sekolah di punggung. 'Kak, nanti kalau Mas Aldo datang, bilang aku juga mau tanya sesuatu.'
'Kamu mau tanya apa?'
'Kenapa dia ngomongnya seperti bos terus.'
Ibu tertawa. 'Kamu tidak perlu ikut menginterogasi.'
'Bukan interogasi, Bu. Pertanyaan biasa.'
Aku tersenyum. 'Nanti Kakak sampaikan kalau waktunya tepat.'
Setelah Alisha pergi bersama Bapak, aku kembali ke kamar. Kubuka pesan Aldo dan mengetik, 'Saya ingin bicara lagi tentang tawaran kemarin.' Aku menghapus kata 'saya' dan menggantinya dengan 'aku', lalu merasa kalimat itu terlalu akrab. Akhirnya kuketik, 'Mas, aku perlu membicarakan tawaran kemarin. Aku belum bisa menjawab, tapi ada hal yang harus Mas dengar. Bisa bertemu hari ini?'
Aku membaca pesan itu beberapa kali. Terdengar jelas, tidak menuduh, dan tidak menjanjikan apa pun. Kukirim sebelum sempat berubah pikiran.
Balasan Aldo datang beberapa menit kemudian. 'Bisa. Saya datang pukul lima.'
Aku merasa jantungku kembali berdebar. 'Mas datang ke rumah?'
'Kalau kamu tidak keberatan. Ibu juga ingin memastikan kamu baik-baik saja.'
Aku menoleh ke ruang tengah. Ibu sedang membereskan cangkir. 'Boleh. Tapi aku ingin bicara dengan Mas tanpa Tante.'
Aldo menjawab, 'Baik. Ibu saya tidak akan ikut campur.'
Aku menunjukkan pesan itu kepada Ibu. 'Dia datang jam lima.'
Ibu mengangguk. 'Kamu mau bicara di ruang tamu?'
'Iya. Aku ingin semuanya terbuka. Bapak dan Ibu bisa tetap di rumah, tapi tidak perlu duduk menemani kecuali aku minta.'
'Baik. Kalau kamu merasa tidak nyaman, panggil kami.'
Aku mengucapkan terima kasih. Lalu aku mencoba menyusun tiga hal yang ingin kutanyakan: apa sebenarnya yang ia inginkan dariku, apakah ia bersedia mengenalku sebagai pasangan, dan bagaimana ia akan memperlakukan Rafi jika anak itu belum langsung menerimaku.
Saat menuliskannya, aku sadar aku juga harus menjawab pertanyaan untuk diriku sendiri. Aku bersedia mengenal Aldo lebih jauh, tetapi tidak bersedia menerima status yang membuatku terasa seperti pekerja rumah tangga. Itu bukan jawaban untuk lamaran, melainkan batas awal agar percakapan kami jujur.
Menjelang sore, aku mengganti pakaian dan duduk di ruang tamu. Ibu menaruh segelas air di meja, lalu bertanya apakah aku gugup.
'Sedikit.'
'Kalau begitu, tarik napas. Kamu tidak sedang ujian.'
'Rasanya lebih sulit daripada ujian, Bu.'
Ibu tersenyum. 'Karena kali ini kamu harus menjawab untuk dirimu sendiri.'
Suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aku berdiri, telapak tanganku terasa dingin. Ketika bel berbunyi, Ibu melihatku seolah memastikan aku siap.
Aku mengangguk. 'Aku yang buka, Bu.'