Pagi itu aku bangun setelah beberapa kali terjaga sepanjang malam. Pesan Aldo masih tersimpan di ponsel, tetapi tidak kubuka lagi. Aku sudah berjanji kepada Ibu akan bercerita hari ini. Meski perutku terasa mengikat, aku tidak ingin mengingkari janji hanya karena takut ditanya lebih jauh.
Di meja makan, Bapak sedang membaca berita dari ponselnya. Ibu menyiapkan sarapan, sementara Alisha sibuk mencari sendok yang katanya selalu menghilang saat ia butuhkan.
'Sendoknya ada di samping piringmu,' kataku.
Alisha melihat meja. 'Oh. Ternyata dari tadi ada.'
'Kalau kamu menatap meja dengan benar, barang-barangnya tidak perlu dicari keliling rumah.'
'Ade sedang menguji kewaspadaan Kakak.'
'Alasanmu makin lama makin kreatif.'
Ibu tersenyum kecil. 'Sudah, sarapan dulu. Alia, setelah makan kamu bisa cerita kalau sudah siap.'
Aku menatap Ibu. 'Alia sudah janji semalam.'
Bapak meletakkan ponselnya. 'Kalau begitu, kami dengarkan. Kamu tidak harus menyampaikan semuanya sekaligus.'
Aku menarik kursi dan duduk. Aku bercerita bahwa Tante Aldo mengundangku, lalu menjelaskan bahwa Aldo pernah menikah dan kini membesarkan Rafi. Aku juga menceritakan bagaimana Aldo meminta aku menikah dengannya terutama untuk mendampingi anaknya. Aku mencoba mengulang percakapan itu sedekat mungkin dengan kata-katanya: tentang Rafi yang membutuhkan sosok ibu, tentang kamar terpisah, dan tentang perasaannya yang masih tertinggal pada almarhumah.
'Dia menyebut kamar terpisah sejak awal?' tanya Ibu.
'Iya. Katanya itu batas supaya kami tidak salah paham.'
Bapak mengernyit. 'Batas bisa dibicarakan. Tapi kalau sejak awal ia menyusun rumah tangga seperti daftar aturan, kamu perlu bertanya apakah dia siap benar-benar menjadi suami.'
'Aku juga bertanya begitu. Dia bilang aku tidak akan kekurangan apa pun.'
Ibu menggeleng pelan. 'Kebutuhan materi bukan jawaban untuk kebutuhan hati.'
Aku mengangguk. 'Itu yang membuatku merasa dia tidak mendengar pertanyaanku.'
'Lalu Tante bagaimana?' tanya Bapak.
'Tante tidak memaksaku. Beliau bilang aku bebas menentukan sikap. Dia bahkan menegur Mas Aldo karena cara bicaranya seperti menawarkan pekerjaan.'
Ibu tampak sedikit lega. 'Bagus kalau Tante mengerti kamu juga punya hak memilih.'
Aku tidak menceritakan setiap detail kecil, tetapi setidaknya mereka tahu alasan sebenarnya aku pulang dengan hati berat. Semakin banyak yang kuucapkan, semakin jelas bahwa masalahnya bukan sekadar aku takut menikah lagi. Aku takut masuk ke pernikahan yang sejak awal tidak menyediakan tempat untuk diriku.
Ibu berhenti menuang teh. 'Dia mengatakan langsung bahwa dia membutuhkanmu untuk menjadi ibu Rafi?'
'Kurang lebih begitu, Bu. Dia bilang dia butuh istri sekaligus seseorang yang bisa mengurus Rafi.'
'Dan soal perasaannya?' tanya Bapak.
Aku menatap piring. 'Dia bilang tidak akan menuntut Alia mencintainya. Dia juga bilang almarhumah istrinya tetap satu-satunya perempuan yang dia cintai.'
Alisha yang sejak tadi mendengarkan dengan mata membesar akhirnya bertanya, 'Berarti Kakak disuruh menikah tapi tidak boleh berharap disayang?'
Aku terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi itulah yang membuat dadaku berat.
'Mas Aldo tidak bilang begitu persis,' jawabku. 'Tapi aku juga menangkap maksud yang hampir sama.'
Ibu menarik kursi di sebelahku. 'Bagaimana perasaanmu waktu mendengarnya?'
'Kesal. Sedih. Kasihan juga sama Rafi. Semuanya campur aduk.'
'Kalau kamu menjawab iya hanya karena kasihan kepada Rafi, apa yang akan terjadi kalau nanti kamu merasa tidak bahagia?' Bapak bertanya dengan suara tenang.
Aku meremas ujung serbet. 'Aku tidak tahu, Pak. Itu yang membuatku takut.'
'Takut menolak, atau takut menerima?' tanya Ibu.
'Dua-duanya.' Aku menatap mereka bergantian. 'Kalau menolak, aku takut Rafi kehilangan kesempatan punya keluarga yang utuh. Kalau menerima, aku takut dianggap cuma pengganti dan akhirnya menyesal.'
Bapak menghela napas. 'Keluarga yang utuh bukan berarti harus dibangun dengan memaksa seseorang masuk ke dalam peran yang belum ia pilih.'
Ibu mengangguk. 'Rafi membutuhkan kasih sayang. Tapi kamu juga berhak mendapatkan hubungan yang menghargaimu.'
'Kalau begitu, apa Alia harus langsung menolak?' tanyaku.
'Keputusan itu milikmu,' kata Ibu. 'Kami bisa membantu kamu berpikir, bukan menggantikan kamu memilih.'
Aku merasa sedikit lega karena mereka tidak langsung mengatakan Aldo jahat atau menyuruhku menerima. 'Aku ingin mengenal Rafi lebih dulu. Tapi Mas Aldo seperti sudah menentukan semuanya sebelum bertanya apa yang kuinginkan.'
'Kalau begitu, katakan itu kepadanya,' ujar Bapak. 'Jangan hanya menilai dari satu pertemuan. Tapi jangan juga mengabaikan kata-katanya.'
'Bagaimana kalau dia tersinggung?'
'Dia boleh merasa tersinggung,' kata Ibu. 'Namun, perasaan tersinggung tidak membuat pertanyaanmu menjadi salah.'
Alisha mengangkat tangan seperti sedang berada di kelas. 'Ade juga mau kasih pendapat.'
'Silakan, Bu Guru,' kataku.
'Kalau Kakak tidak mau, jangan mau. Kalau Kakak mau, juga jangan mau dulu sebelum tahu semuanya.'
Bapak tertawa kecil. 'Saran yang panjang sekali untuk jawaban yang sederhana.'
'Kan Ade belum tahu semuanya,' balas Alisha.
Aku tertawa, dan untuk beberapa detik ketegangan di meja makan mengendur. Setelah Alisha beranjak membereskan piringnya, Ibu menggenggam tanganku.
'Kamu tidak perlu membuktikan bahwa kamu perempuan baik dengan menerima semua beban orang lain,' katanya.
Aku mengangguk. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang perlu kusimpan baik-baik. Selama ini aku sering takut mengecewakan orang, lalu menganggap mengalah sebagai cara paling mudah menjaga hubungan.
'Tapi aku ingin memberi Mas Aldo kesempatan menjelaskan,' ujarku. 'Bukan langsung menerima. Aku ingin tahu apakah dia melihatku sebagai orang yang bisa diajak membangun rumah tangga, bukan hanya sebagai ibu untuk Rafi.'
'Itu batas yang wajar,' kata Bapak.
Ibu bertanya, 'Kamu mau bicara dengannya kapan?'
Aku mengeluarkan ponsel dari saku. 'Hari ini. Tapi aku ingin menyiapkan kata-kataku dulu.'
'Jangan menyusun kata yang terlalu manis sampai maksudmu hilang,' kata Bapak. 'Bicara jelas dan tetap sopan.'
Aku mengangguk. Setelah sarapan, kubawa piringku ke dapur. Aku tahu percakapan dengan Aldo tidak akan mudah. Namun, untuk pertama kalinya sejak lamaran itu disampaikan, aku mulai memahami pertanyaan yang harus kujawab: bukan apakah aku sanggup menyelamatkan Rafi, melainkan apakah Aldo bersedia melihatku sebagai pasangan.
Selesai bicara, aku mencuci cangkirku sendiri, lalu menyimpan buku catatan di laci agar tidak menjadi bahan bacaan Alisha.