Aku membuka pintu. Aldo berdiri di teras dengan kemeja sederhana dan wajah yang tetap sulit dibaca. Ia tidak membawa Tante, sesuai permintaanku. Tangannya memegang sebuah kantong kecil.
'Selamat sore,' katanya.
'Sore. Mas datang sendiri?'
'Ibu ingin ikut, tapi saya bilang kamu meminta bicara berdua.'
Aku melirik kantong di tangannya. 'Itu apa?'
'Rafi memilihnya. Katanya untuk kamu.'
Aku ragu sebelum menerimanya. 'Dia tahu Mas mau ke sini?'
'Saya bilang akan menemui kamu. Dia memilih camilan yang pernah kamu makan di rumah Ibu.'
Aku membuka kantong itu sedikit. Isinya beberapa bungkus biskuit. 'Sampaikan terima kasihku.'
Aldo mengangguk. 'Boleh saya masuk?'
'Silakan.'
Ibu menyapa Aldo dari ruang tengah. Ia menawari minum, lalu pamit ke dapur agar kami bisa bicara. Aku tetap duduk di ruang tamu, sementara Aldo memilih kursi di seberang. Jarak di antara kami terasa lebih lebar daripada biasanya.
Sebelum kami mulai bicara, Ibu sempat bertanya apakah Aldo ingin menunggu Bapak pulang. Aldo menjawab ia tidak keberatan, tetapi aku berkata percakapan ini tidak perlu menunggu siapa pun. Aku ingin menjelaskan sendiri apa yang kurasakan. Ibu menatapku sejenak, lalu mengangguk dan membiarkan kami berbicara.
Aku sengaja memilih kursi yang tidak terlalu dekat. Bukan karena takut kepadanya, melainkan karena ingin menjaga percakapan ini tetap jelas. Aku tidak datang untuk menghukum Aldo. Aku hanya ingin ia mendengar bahwa keputusan tentang hidupku tidak bisa dibuat hanya dengan menghitung kebutuhan rumahnya.
'Mas masih ingin bicara denganku?' tanyaku.
'Ya. Kalau kamu masih bersedia mendengar.'
'Silakan. Tapi aku akan bertanya kalau ada yang tidak jelas.'
'Memang seharusnya begitu,' jawabnya.
Jawaban pendek itu membuatku sedikit terkejut. Kemarin mungkin ia akan menganggap pertanyaanku sebagai bantahan. Hari ini ia terdengar lebih siap menghadapi percakapan yang tidak sepenuhnya berjalan sesuai kehendaknya.
'Kamu bilang ada hal yang harus saya dengar,' katanya.
'Benar. Tapi sebelum itu, aku mau tanya. Kenapa Mas memilih aku?'
'Saya sudah menjelaskan kemarin.'
'Mas menjelaskan bahwa Tante percaya aku bisa menjaga Rafi dan Mas menginginkan istri. Itu belum menjawab kenapa aku sebagai Alia.'
Ia memandangku dengan kening berkerut. 'Apa bedanya?'
'Bedanya besar. Kalau Mas hanya mencari orang yang sopan, menyayangi anak kecil, dan bisa tinggal di rumah, banyak orang memenuhi itu. Aku ingin tahu apa yang Mas ketahui tentang aku sebagai pribadi.'
Aldo meletakkan kedua tangannya di lutut. 'Saya tahu kamu pekerja keras. Kamu bertanggung jawab kepada keluarga. Kamu berani bicara meski sedang takut.'
Aku terkejut mendengar jawaban itu. 'Mas memperhatikan hal-hal itu?'
'Saya tidak buta.'
'Cara Mas bicara kemarin membuatku merasa Mas hanya memikirkan kebutuhan Rafi.'
'Saya sudah bilang saya menyesal kalau terdengar seperti itu.'
'Mas belum meminta maaf.'
Ia diam sesaat. 'Kalau begitu, saya minta maaf. Saya menyampaikan tawaran itu dengan cara yang buruk.'
Aku mengangguk, tetapi belum merasa semua selesai. 'Aku juga ingin tanya soal Rafi. Mas bilang dia butuh ibu. Apa Mas sudah bicara dengannya tentang kemungkinan ini?'
'Belum. Saya tidak ingin membuatnya berharap sebelum kamu menjawab.'
'Itu masuk akal. Tapi kalau aku menerima, aku tidak ingin dia merasa aku datang untuk menggantikan ibunya.'
'Saya juga tidak ingin itu.'
'Kalau begitu, kenapa Mas memakai kata 'ibu' seolah aku harus langsung mengambil peran itu?'
Aldo menunduk sebentar. 'Karena saya berpikir tentang apa yang dibutuhkan Rafi. Saya tidak cukup memikirkan bagaimana kata-kata itu terdengar bagimu.'
Aku merasakan kekesalanku sedikit melunak, tetapi masih ada banyak hal yang perlu dibicarakan. 'Aku belum menjawab lamaranmu. Aku tidak bisa berjanji akan menjadi ibu Rafi. Aku bisa berjanji akan bersikap baik dan mengenalnya jika memang hubungan ini berjalan. Tapi kedekatan harus tumbuh.'
'Saya mengerti.'
'Dan tentang pernikahan, aku tidak mau masuk ke dalam rumah Mas dengan status istri tetapi diperlakukan seperti orang yang hanya mengurus anak.'
'Saya tidak berniat memperlakukanmu begitu.'
'Mas perlu membuktikannya lewat sikap, bukan hanya bilang.'
Dari dapur terdengar suara Ibu meletakkan gelas. Aldo menoleh sejenak, lalu kembali menatapku. Ia tampak lebih tenang daripada kemarin, tetapi sikap dinginnya belum benar-benar hilang.
'Mas, kalau almarhumah tetap menjadi perempuan yang paling Mas cintai, apakah Mas siap memberi ruang untuk hubungan baru?' tanyaku.
Aldo tidak segera menjawab. 'Saya tidak ingin menghapus masa lalu.'
'Aku juga tidak meminta Mas melupakannya. Aku hanya tidak mau selalu dibandingkan dengan seseorang yang sudah tidak ada.'
'Saya tidak berniat membandingkan.'
'Mungkin Mas tidak berniat. Tapi kalau setiap keputusan dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan Rafi, aku tidak tahu di mana tempatku.'
Ia mengusap rahangnya. 'Saya belum pernah memikirkan kalimat itu dengan cara seperti ini.'
'Justru itu yang perlu Mas pikirkan. Aku tidak mau datang ke rumah Mas lalu harus menebak apakah aku boleh punya pendapat.'
Aldo menunduk. 'Saya ingin rumah saya tenang.'
'Rumah yang tenang bukan rumah yang satu orangnya selalu diam.'
Ia memandangku lama. 'Kamu benar.'
Aku tidak tahu apakah ia mengatakan itu karena sungguh memahami atau hanya ingin mengakhiri percakapan. Namun, aku menghargai bahwa ia tidak langsung membantah. Untuk pertama kalinya, kami berbicara bukan soal lamarannya saja, melainkan tentang cara kami memperlakukan satu sama lain bila hubungan ini berlanjut.
'Apa yang kamu harapkan dari saya?' tanyanya.
Aku mengambil napas. 'Aku ingin Mas mengenalku lebih dulu. Jangan minta jawaban pernikahan sebelum kita tahu apakah bisa berbicara sebagai dua orang yang setara.'
'Berapa lama?'
'Aku tidak tahu. Bukan soal jumlah hari. Aku ingin melihat apakah Mas sungguh mau mengenalku, atau hanya sedang mencari jalan paling cepat untuk memberi Rafi sosok ibu.'
Aldo berdiri dan berjalan ke jendela. Ia melihat ke halaman, sama seperti kemarin di rumah ibunya. Aku menunggu tanpa menyela. Setelah beberapa saat, ia berbalik.
'Saya perlu waktu untuk memikirkan itu.'
'Silakan. Aku juga.'
'Apakah kamu sudah memutuskan menolak?'
'Belum. Tapi aku juga belum menerima.'
Ia mengangguk, seakan berusaha menerima jawaban yang tidak pasti itu. 'Saya akan pulang dulu.'
Aku berdiri mengantarnya ke pintu. Ia membawa kantong kosong, tetapi aku masih memegang bungkusan camilan Rafi.
'Mas,' panggilku sebelum ia keluar.
Ia menoleh.
'Jangan anggap aku diam sebagai tanda setuju.'
'Saya tidak akan begitu.'
Aldo melangkah turun dari teras. Aku menutup pintu perlahan. Ibu muncul dari dapur dan bertanya apakah percakapan kami berjalan baik.
'Belum selesai,' jawabku.
'Setidaknya kamu sudah mengatakan yang perlu kamu katakan.'
Aku memandang bungkusan camilan di tanganku. 'Sekarang tinggal melihat apakah Mas Aldo benar-benar mendengarkan.'