Ibu membukakan pintu begitu aku mengucap salam. Senyumnya yang semula lega segera berubah cemas saat melihat wajahku.
'Alia, kamu sudah pulang. Kenapa mukamu pucat?'
Aku mencoba tersenyum, tetapi bibirku terasa kaku. 'Alia capek, Bu.'
'Mas Aldo mengantarmu? Dia sudah pulang?'
'Sudah. Mas Aldo langsung pergi.'
Ibu mengamati mataku. 'Apa ada yang terjadi?'
Aku ingin bercerita, tetapi kata-kata Aldo masih bergema di kepalaku. Ia ingin menikahiku, tetapi alasannya terutama karena Rafi membutuhkan sosok ibu. Ia mengatakan tidak akan menuntutku mencintainya, seolah pernikahan bisa disusun seperti daftar tugas. Dan yang paling menyakitkan, ia berkata almarhumah istrinya akan tetap menjadi satu-satunya perempuan yang ia cintai.
'Alia?' Ibu menyentuh bahuku. 'Kamu mau masuk kamar dulu?'
Aku mengangguk. 'Alia mau istirahat sebentar, Bu.'
'Ibu bawakan air hangat.'
Aku berjalan ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Tas kuletakkan di lantai. Rasanya aneh. Selama ini Bu Leha terus mendesakku supaya menikah lagi. Aku pernah mengarang cerita punya pacar berpajero hanya untuk membungkamnya. Namun, aku tidak pernah membayangkan lamaran datang dengan cara seperti ini.
Ketukan pelan terdengar. 'Al, Ibu boleh masuk?'
'Boleh, Bu.'
Ibu masuk membawa segelas air hangat, meletakkannya di meja, lalu duduk di sampingku.
'Kamu tidak perlu menceritakan semuanya sekarang,' katanya. 'Ibu cuma ingin tahu apakah kamu merasa aman.'
'Aman. Mas Aldo mengantarkan Alia sampai rumah.'
'Dia bicara kasar?'
Aku menatap gelas. 'Dia bicara terus terang, Bu. Tapi Alia belum tahu harus merasa apa.'
Ibu mengusap punggungku. 'Kalau begitu, jangan paksa dirimu langsung menentukan.'
Aku menunduk. 'Alia juga belum cerita apa-apa ke Ibu.'
'Ibu tahu. Nanti kalau kamu siap, Ibu dengarkan.'
Aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi tenggorokanku terasa sempit. Ibu tidak mendesak. Ia duduk menemaniku sampai napasku kembali teratur, lalu berdiri.
'Ibu akan menyiapkan makan malam. Kalau kamu sudah lebih tenang, keluar saja.'
'Iya, Bu.'
Setelah Ibu keluar, aku mengambil ponsel. Ada pesan dari Aldo.
'Saya harap kamu mempertimbangkan dengan tenang. Saya akan menunggu.'
Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Tidak ada permintaan maaf atau penjelasan baru. Hanya permintaan agar aku mempertimbangkan tawarannya. Aku meletakkan ponsel telungkup di kasur. Bayangan Rafi muncul lagi. Anak itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya kehilangan ibunya, sementara orang-orang dewasa di sekelilingnya membicarakan masa depannya.
Aku tidak ingin menganggap Rafi sebagai beban. Namun, aku juga tidak bisa menerima tanggung jawab besar hanya karena merasa kasihan. Kalau aku masuk ke rumah Aldo, aku ingin menjadi seseorang yang dihargai, bukan sekadar pengganti yang mengisi bagian kosong.
Beberapa saat kemudian, Alisha mengetuk pintu dan mengintip.
'Kak, Kakak sakit?'
'Enggak, Dek. Kakak cuma lelah.'
'Kalau lelah, jangan cemberut. Nanti cepat tua.'
Aku hampir tertawa. 'Kamu belajar dari siapa bicara begitu?'
'Dari Kakak sendiri.'
Alisha duduk di ujung ranjang dan menawarkan camilan yang dibawanya. Aku menerima sepotong kecil meski tidak lapar.
'Mas Aldo tadi datang, ya?' tanyanya.
'Iya.'
'Dia baik?'
Aku terdiam. 'Kakak belum tahu.'
'Kalau belum tahu, berarti Kakak harus kenal dulu.'
Aku memandang adikku. 'Kamu gampang sekali menyimpulkan.'
'Bukan menyimpulkan. Ade cuma bilang Kakak jangan sedih sendirian.'
Aku tersenyum tipis. 'Terima kasih, Dek.'
Alisha tidak bertanya lagi. Ia bercerita tentang camilan oleh-oleh yang hampir habis, lalu berpamitan ketika Ibu memanggil dari ruang makan. Aku menyusul beberapa menit kemudian.
Bapak sudah duduk di meja. Ia melihatku, tetapi tidak langsung bertanya. Ibu juga sengaja mengalihkan pembicaraan kepada kegiatan Alisha. Aku menghargai usaha mereka, meski semakin lama diamku terasa berat.
'Sayurnya kurang asin?' tanya Ibu.
'Enggak, Bu. Enak.'
'Kamu dari tadi hampir tidak menyentuh lauk.'
Aku berusaha tersenyum. 'Tadi sudah makan di rumah Tante.'
Bapak meletakkan sendok. 'Kalau pertemuan tadi membuatmu tidak nyaman, kamu boleh bilang.'
Aku mengaduk nasi. 'Alia belum siap cerita, Pak.'
'Baik,' jawabnya. 'Bapak tidak akan memaksa. Tapi jangan merasa harus menyelesaikan semuanya malam ini.'
Ibu menambahkan, 'Apa pun yang mereka tawarkan, kamu berhak meminta waktu.'
Aku mengangguk. 'Iya, Bu.'
Kami melanjutkan makan dengan percakapan ringan. Alisha bercerita tentang rencananya besok dan Bapak menasihatinya agar tidak lupa menyiapkan buku. Aku ikut tersenyum ketika mereka berdebat kecil soal siapa yang menghabiskan camilan terakhir. Kehangatan rumah membuat dadaku sedikit longgar, tetapi pikiranku tetap kembali pada tawaran Aldo.
Setelah makan, aku membantu Ibu mengangkat piring. Ia tidak bertanya lagi, hanya meletakkan teh hangat di meja kamarku.
'Ibu ada di ruang tengah kalau kamu butuh ditemani,' katanya.
'Makasih, Bu.'
Aku duduk di tepi ranjang dan menatap layar ponsel. Pesan Aldo masih sama. Aku belum tahu apakah lamaran itu akan kuterima atau kutolak. Yang kutahu, aku tidak ingin menjadi ibu bagi Rafi karena terpaksa, dan tidak ingin menikah dengan seseorang yang sejak awal menutup pintu untukku.
Aku mengambil buku catatan kecil dari laci meja. Biasanya aku memakainya untuk menulis daftar belanja atau hal-hal yang harus kukerjakan. Malam itu, kutulis dua kalimat: apa yang Aldo minta dariku, dan apa yang sebenarnya kuinginkan. Jawabannya belum muncul. Aku hanya menambahkan satu hal di bawahnya: jangan mengambil keputusan karena takut mengecewakan orang lain.
Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Aldo masih belum berubah. Aku hampir membalas bahwa aku perlu waktu, tetapi ia sudah tahu itu. Aku tidak ingin percakapan kami malam ini hanya berisi kalimat pendek yang membuatku semakin kesal.
Ketukan terdengar lagi. 'Alia, tehnya masih hangat?' tanya Ibu dari luar.
'Masih, Bu.'
'Kalau kamu mau, Ibu bisa duduk sebentar.'
Aku memandang pintu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tetapi belum tahu harus memulai dari mana. 'Besok saja, Bu. Alia janji akan cerita.'
'Baik. Ibu tunggu.'
Aku menarik napas panjang. Janji itu terasa kecil, tetapi untuk pertama kalinya sejak pulang, aku tidak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Dari luar kamar terdengar Ibu berbicara pelan kepada Bapak. Mereka mungkin bertanya-tanya tentang pertemuan tadi, tetapi aku belum siap menjawab. Malam ini aku memilih diam. Besok, aku akan mencoba memahami apa yang sebenarnya kuinginkan.