Aku menoleh kepada Aldo. Ia masih berdiri dekat jendela, matanya tertuju ke halaman. Tante menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
'Aldo pernah menikah,' katanya.
Aku menoleh kepadanya. 'Tante ingin menjelaskan soal pernikahan Mas sebelumnya?'
Aldo akhirnya menoleh. 'Ibu, saya bisa menjelaskan sendiri.'
'Dari kemarin kamu hanya menunda. Alia berhak tahu sebelum kamu meminta apa pun darinya.'
Aku mengalihkan pandangan antara mereka. 'Tante, maksudnya Mas Aldo duda?'
Tante mengangguk. 'Iya, Alia. Istri Aldo sudah meninggal beberapa tahun lalu.'
Kata-kata itu terasa berat meski disampaikan pelan. Aku tahu Aldo datang dari keluarga berada, tetapi aku tidak pernah membayangkan ia pernah berumah tangga. Tidak ada satu pun dari sikapnya yang membuatku tahu bahwa ia pernah kehilangan pasangan.
'Maaf, Tante. Aku tidak tahu.'
'Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu memang belum pernah diberi tahu.'
Aldo menyela, suaranya datar. 'Saya tidak biasa menceritakan urusan pribadi kepada orang yang belum dekat dengan saya.'
'Kalau begitu, kenapa Mas menyuruhku datang?' tanyaku.
Ia tidak menjawab. Tante yang mengambil alih. 'Aldo punya seorang anak laki-laki. Namanya Rafi. Usianya lima tahun.'
Aku kembali terkejut. 'Mas Aldo punya anak?'
'Iya. Rafi sedang di kamar. Dia anak yang pendiam. Sejak ibunya tidak ada, dia lebih banyak menyimpan perasaan sendiri.'
Aku berusaha menyusun pertanyaan yang paling penting. 'Rafi tahu kalau ibunya sudah meninggal?'
Tante mengangguk pelan. 'Dia tahu ibunya sudah tidak ada. Tapi anak seusianya belum selalu bisa memahami kehilangan. Kadang ia bertanya kapan ibunya pulang.'
Aku meremas jari sendiri. 'Apa Mas Aldo menjawabnya?'
'Ia berusaha. Tapi setiap kali Rafi bertanya, Aldo juga harus menghadapi kesedihannya sendiri.'
Aldo menyela dari dekat jendela. 'Ibu tidak perlu menceritakan terlalu jauh.'
'Alia berhak tahu bahwa ada anak kecil yang mungkin akan terlibat dalam keputusan ini,' jawab Tante. 'Bukan untuk menakutinya. Supaya ia memahami kenyataan.'
Aku mengangguk. 'Aku menghargai Tante menjelaskan. Tapi aku juga perlu tahu, apakah Rafi sudah pernah diberi tahu soal rencana Mas Aldo?'
'Belum,' kata Aldo. 'Belum ada rencana yang bisa saya sampaikan kepadanya.'
'Bagus. Jangan sampai dia berharap sesuatu sebelum aku sendiri tahu apa yang diminta dariku.'
Tante menyetujui. 'Tante juga tidak ingin Rafi dibuat berharap lalu kecewa.'
Aku memandang lorong menuju kamar anak itu. 'Dia tampak sangat pendiam.'
'Dia memang begitu pada orang yang belum dikenal,' jawab Tante. 'Jangan menganggap diamnya sebagai penolakan. Dia perlu merasa aman.'
'Aku tidak akan memaksa dia bicara.'
Aldo akhirnya menjauh dari jendela dan duduk di kursi. 'Saya tidak meminta kamu langsung dekat dengannya.'
'Bagus. Kedekatan tidak bisa dipaksa.'
Tante memandangku dengan mata berkaca-kaca. 'Tante tidak bermaksud membuatmu merasa kasihan. Tapi Aldo sangat sulit membuka diri. Ia membesarkan Rafi dengan bantuan keluarga, namun ada bagian yang tidak bisa digantikan siapa pun.'
Aku menarik tanganku perlahan. 'Tante ingin aku bertemu Rafi?'
'Kalau kamu bersedia. Tapi bukan itu saja. Tante berharap ada seseorang yang bisa menjadi sosok ibu bagi Rafi.'
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. 'Tante berharap aku menjadi ibunya?'
'Menjadi ibu tidak bisa dipaksakan, Alia. Tante hanya ingin kamu mengenal dia dan memahami keadaan keluarga ini.'
Aku melirik Aldo. 'Mas, apa ini alasan Tante meminta aku datang?'
Aldo berjalan menjauh dari jendela. 'Ibu ingin menyampaikan keadaan saya. Saya akan menjelaskan maksud saya setelah kamu tahu semuanya.'
'Kenapa tidak dari awal saja? Kenapa Mas selalu menyuruhku datang tanpa mengatakan hal penting seperti ini?'
'Saya tidak ingin membahasnya lewat telepon.'
'Mas bisa bilang setidaknya bahwa ini menyangkut keluarga Mas.'
Aldo tidak membantah. Tante menepuk lenganku lembut. 'Tante minta maaf kalau cara Aldo membuatmu bingung. Dia memang keras kepala.'
'Sedikit,' gumamku.
Aldo menatapku, tetapi Tante tertawa kecil. 'Kamu boleh bertanya apa pun. Tidak ada yang harus kamu putuskan hari ini.'
Aku mencoba mengatur napas. 'Boleh aku bertemu Rafi?'
Tante berdiri. 'Tentu. Tante akan mengajaknya keluar. Tapi jangan berharap dia langsung akrab. Rafi perlu waktu.'
Kami berjalan menuju lorong. Tante mengetuk pintu kamar dengan lembut.
'Rafi, ini Oma. Boleh Oma masuk?'
Tak terdengar jawaban, tetapi pintu terbuka sedikit. Seorang anak laki-laki muncul dengan mobil-mobilan di tangannya. Ia memandang Tante, lalu menatapku dengan ragu.
'Rafi, ini Alia. Teman Oma,' kata Tante.
Aku merendahkan badan agar sejajar dengannya. 'Halo, Rafi. Aku Alia.'
Anak itu tidak menjawab. Jemarinya menggenggam mobil-mobilan lebih erat.
'Mobilnya bagus,' kataku. 'Warna biru memang kesukaanku.'
Rafi melirik mobil itu, kemudian kembali memandangku. 'Ini punya Ayah.'
'Boleh aku lihat?'
Ia menggeleng pelan. Aku tidak memaksa. 'Tidak apa-apa. Kamu boleh menyimpannya.'
Tante mengusap rambut Rafi. 'Rafi, Alia tidak akan mengambil mobilmu.'
Anak itu semakin berlindung di balik tubuh neneknya. Aku mundur setapak agar ia tidak merasa terdesak.
'Tidak apa-apa, Tante. Dia belum kenal aku.'
Tante mengangguk. 'Betul. Terima kasih sudah mengerti.'
Kami kembali ke ruang keluarga. Aku masih memikirkan wajah Rafi yang pendiam. Di balik sikap dingin Aldo, ada seorang anak yang kehilangan ibunya dan belum siap menerima orang asing.
Aku masih memikirkan pertemuan singkat itu ketika kami kembali ke ruang keluarga. Rafi tidak banyak bicara dan aku tidak menyalahkannya. Kalau ada orang asing datang ke rumahku, aku pun belum tentu langsung ramah. Aku bertanya kepada Tante apakah ia memang selalu pendiam.
'Kalau sudah nyaman, dia banyak cerita,' jawab Tante. 'Hari ini mungkin ia hanya sedang mengamati.'
'Dia mirip Mas Aldo kalau sedang tidak mau bicara,' celetukku, lalu segera merasa salah tingkah.
Tante tertawa kecil. 'Aldo memang begitu sejak dulu. Bedanya, Rafi masih bisa dibujuk dengan cerita atau mainan.'
Aku tersenyum tipis. 'Saya tidak ingin buru-buru membuatnya nyaman. Saya juga baru mengenal keluarga ini.'
'Itu sikap yang baik. Kedekatan tidak bisa dipaksa.'
Kalimat Tante terasa sederhana, tetapi aku berharap Aldo juga memahami hal yang sama. Seorang anak tidak bisa diminta menerima orang baru hanya karena orang dewasa telah membuat rencana. Aku sendiri pun belum tahu apakah ingin berada dalam rencana itu.
'Alia,' kata Tante pelan, 'Tante ingin kamu mendengar maksud Aldo langsung darinya. Setelah itu, kamu bebas menentukan sikap.'
Aku menatap Aldo. 'Baik. Aku akan mendengar. Tapi aku ingin Mas bicara terus terang.'
'Saya akan bicara terus terang,' jawabnya.