Hari itu Bu Rani mengizinkanku menukar jadwal dengan Ridwan dan pulang lebih awal; jam penggantinya sudah kami catat agar tidak membebani siapa pun. Pukul empat kurang lima menit, aku sudah duduk di ruang tamu bersama Ibu. Sejak selesai mandi, aku berkali-kali memeriksa ponsel, memastikan tidak ada pesan perubahan jadwal dari Aldo. Tidak ada. Hanya pesan semalam yang masih terbuka: 'Besok pukul empat saya datang. Siapkan diri.'
'Alia, kamu dari tadi melihat layar terus,' kata Ibu.
'Takut Mas Aldo membatalkan, Bu.'
'Kalau dia membatalkan, kamu bisa bertanya lewat telepon.'
'Rasanya tidak enak. Tante sudah menunggu sejak beberapa hari lalu.'
Ibu memandangku dengan tenang. 'Kamu datang karena ingin tahu maksudnya, bukan karena berutang sesuatu kepada mereka.'
'Iya, Bu.'
Aku mencoba duduk santai, tetapi lututku malah bergerak-gerak sendiri. Ibu menepuk pelan tanganku. 'Tarik napas. Tidak perlu membayangkan yang macam-macam sebelum tahu pembicaraannya.'
Baru saja aku mengangguk, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aku menoleh ke jendela. Sebuah mobil berwarna gelap terparkir dekat pagar. Aldo turun dari kursi pengemudi, mengenakan kemeja rapi dengan wajah setenang biasanya.
'Mas Aldo datang,' kataku.
Ibu berdiri. 'Sambut dulu. Ibu ikut menemani sampai teras.'
Aldo mengetuk pintu dan mengucap salam. Ibu membukakan pintu. Ia membalas salam, lalu sedikit menundukkan kepala kepada Ibu.
'Selamat sore, Bu. Apa Alia sudah siap?'
'Sudah. Silakan masuk dulu, Nak Aldo. Mau minum?'
'Terima kasih, Bu. Tidak usah. Ibu saya sudah menunggu.'
Nada bicaranya terdengar sopan, tetapi seperti ingin segera menyelesaikan urusan. Aku mengambil tas kecil dan berdiri. Aldo menatapku sebentar.
'Kamu siap?'
'Siap, Mas. Tapi sebelum berangkat, aku mau tanya. Kita ke rumah Tante, kan?'
'Iya.'
'Dan Tante memang ingin bicara denganku?'
'Betul.'
'Kalau begitu, nanti biarkan Tante menjelaskan sendiri. Aku tidak mau hanya datang, lalu disuruh pulang tanpa tahu apa-apa.'
Aldo mengerutkan dahi. 'Saya tidak pernah bilang akan menyuruh kamu pulang.'
'Belum. Tapi kemarin Mas datang beberapa kali dan tidak pernah menyelesaikan pembicaraan.'
Ia menahan napas sejenak. 'Kali ini saya akan menjelaskan.'
Ibu melihat kami bergantian. 'Bicaralah baik-baik di jalan. Nak Aldo, tolong jaga Alia.'
'Baik, Bu. Saya antar dan pulangkan dengan selamat.'
Aku mencium tangan Ibu. 'Alia pergi dulu, Bu.'
'Jangan terburu-buru membuat keputusan. Dengarkan saja.'
'Iya.'
Aldo membukakan pintu mobil untukku. Aku duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman, lalu menunggu ia masuk. Begitu mobil bergerak, suasana hening beberapa saat.
'Mas, kenapa harus menjemputku sendiri?' tanyaku.
'Karena Ibu saya memintanya.'
'Kalau Tante yang meminta, kenapa Mas yang terlihat seperti sedang memberi perintah?'
Ia melirik sekilas. 'Saya memang kurang pandai berbasa-basi.'
'Kalau begitu, setidaknya beri tahu tujuan dan apa yang akan dibahas. Aku bukan barang yang bisa dibawa ke mana saja tanpa penjelasan.'
Aldo diam. Tangannya tetap mantap di kemudi. Jalanan mulai padat, tetapi ia mengemudi dengan tenang.
'Tujuan kita rumah Ibu saya. Beliau ingin mengenal kamu lebih baik,' katanya setelah beberapa saat.
'Kenapa Tante ingin mengenal aku?'
'Beliau akan menjelaskan.'
'Mas juga akan menjelaskan?'
'Iya.'
'Semoga kali ini benar.'
Ia kembali diam. Aku memalingkan wajah ke jendela. Rumah-rumah dan toko berganti di sepanjang jalan. Setiap kali Aldo berhenti di lampu merah, aku ingin bertanya lagi, tetapi kutahan. Ibu menyuruhku mendengarkan dulu. Aku harus memberinya kesempatan bicara.
Sebelum mobil berhenti, aku sempat melihat rumah itu dari balik jendela. Halamannya rapi, tetapi tidak terasa seperti rumah yang sengaja dipamerkan. Ada pot tanaman di teras dan sepasang sepatu kecil di dekat pintu. Detail sederhana itu membuatku membayangkan kehidupan yang berlangsung di dalamnya, jauh dari rapat dan sikap tegas Aldo di kantor.
Setelah perjalanan yang terasa cukup lama, mobil memasuki jalan perumahan yang lebih tenang. Aldo mengurangi kecepatan dan berhenti di depan rumah besar dengan halaman tertata rapi. Ia turun, lalu membukakan pintu untukku.
'Sudah sampai,' katanya.
Aku berdiri di samping mobil dan merapikan tas. 'Aku berharap Tante benar-benar menjelaskan semuanya.'
'Ibu saya akan melakukannya.'
Aldo berjalan menuju pintu depan. Sebelum mengetuk, ia menoleh kepadaku. 'Jangan salah paham dengan apa pun yang kamu dengar nanti.'
'Mas belum menjelaskan apa-apa, tapi sudah menyuruhku jangan salah paham.'
'Alia, tolong jangan mulai berdebat.'
'Aku belum berdebat. Aku cuma mengingatkan Mas supaya bicara jelas.'
Pintu terbuka sebelum ia menjawab. Tante berdiri di ambang dengan senyum hangat.
'Alia, akhirnya kamu datang juga. Tante senang sekali.'
Aku membalas senyumnya dan mencium tangannya. 'Maaf baru bisa datang, Tante.'
'Tidak apa-apa. Ayo masuk. Aldo, kamu juga.'
Kami melangkah masuk. Rumah itu terasa rapi dan tenang. Tante mengajakku duduk di ruang keluarga, lalu menawarkan minum. Aldo memilih berdiri dekat jendela, seolah masih belum memutuskan apakah ia akan ikut dalam pembicaraan.
Aldo tetap berdiri dekat jendela. Ia tidak ikut menawarkan minuman atau menanyakan perjalananku. Sementara itu, Tante menyuruh salah seorang anggota keluarga meletakkan teh di meja. Aku menerima cangkir, tetapi hanya memegangnya. Belum ada yang benar-benar menjawab pertanyaanku.
'Rumah Tante nyaman sekali,' kataku untuk mengisi jeda.
'Terima kasih. Dulu Rafi sering bermain di halaman. Sekarang ia lebih suka di dalam rumah.'
'Dia tinggal di sini?'
'Sebagian waktu. Kalau Aldo bekerja, Rafi biasanya bersama Oma. Kadang dia di rumah ayahnya.'
Aku melirik Aldo. 'Mas tinggal sendiri bersama Rafi?'
'Iya,' jawabnya singkat.
'Dan selama ini siapa yang mengurusnya?'
'Ibu saya membantu. Ada orang yang sesekali datang membersihkan rumah, tapi untuk Rafi, saya lebih suka mengurus sendiri.'
Tante membetulkan, 'Aldo memang berusaha menangani semuanya, tetapi tidak selalu mudah. Ia juga bekerja.'
Aku mengangguk. Dari cara Aldo menjawab, jelas ia tidak nyaman membicarakan rumah tangganya di hadapanku. Namun, ia sendiri yang membawaku ke sana. Aku berharap ia mengerti bahwa aku membutuhkan penjelasan, bukan hanya potongan informasi.
Tante menyambutku dengan ramah. Beliau tidak langsung bertanya macam-macam, malah menawarkan minum dan menanyakan perjalanan. Sikapnya membuatku sedikit lebih tenang. Aku menjawab seperlunya, sambil sesekali melirik Aldo yang lebih banyak diam. Kalau bukan karena ia sendiri yang mengajakku, mungkin aku akan mengira pertemuan ini hanya kunjungan keluarga biasa.
'Rumah Tante nyaman,' kataku.
'Terima kasih. Rumah jadi terasa ramai kalau Rafi sedang di sini.'
Aku menoleh ke arah lorong. 'Dia sedang tidur?'
'Sebentar lagi mungkin keluar. Ia biasanya perlu waktu kalau bertemu orang baru.'
Aku mengangguk. Aku tidak ingin memaksa seorang anak menyapaku hanya demi membuat suasana terasa akrab. Sebelum sempat bertanya lagi, Tante duduk di hadapanku. Senyumnya perlahan berubah serius.
'Alia, ada sesuatu tentang Aldo yang harus Tante ceritakan sebelum kamu mendengar langsung darinya.'
Aku menelan ludah. 'Tentang apa, Tante?'
Tante menggenggam tanganku sebentar. 'Tentang keluarganya.'