Tante meminta kami duduk kembali. Rafi sudah dibawa ke ruang lain agar tidak perlu mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Aku duduk di sofa tunggal, sementara Aldo memilih kursi di seberang. Tante tetap tinggal, tetapi ia tidak ikut menyela.
'Mas, sekarang jelaskan,' kataku. 'Apa yang sebenarnya ingin Mas bicarakan sejak datang ke rumahku?'
Aldo menyilangkan tangan. 'Saya ingin menawarkan sesuatu.'
'Menawarkan apa?'
'Pernikahan.'
Aku berkedip beberapa kali. 'Pernikahan?'
Tante tampak ingin bicara, tetapi ia menahan diri. Aldo melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.
'Saya membutuhkan seorang istri untuk mendampingi Rafi.'
'Mas membutuhkan istri atau pengasuh?'
'Dua-duanya.'
Jawaban itu terasa seperti tamparan. Aku menegakkan punggung. 'Kalau begitu, kenapa Mas tidak menyebutnya begitu dari awal?'
'Saya sedang menjelaskannya sekarang.'
'Setelah aku datang ke sini dan Tante harus menceritakan bahwa Mas duda serta punya anak.'
Aldo mengembuskan napas. 'Saya akui saya seharusnya lebih jelas.'
'Seharusnya? Mas mengirim pesan seperti sedang menyuruh pegawai. Lalu saat aku bertanya, Mas bilang nanti dijelaskan. Aku datang tanpa tahu apa yang menungguku.'
'Alia, saya tidak berniat mempermainkan kamu.'
'Lalu apa niat Mas?'
Aldo menatapku lurus. 'Saya ingin kamu menjadi ibu bagi Rafi. Saya ingin menikahimu agar dia memiliki sosok ibu di rumah.'
Aku merasa bingung sekaligus tersinggung. 'Mas bahkan belum pernah melihat aku bersama Rafi lebih dari beberapa menit. Bagaimana Mas tahu aku bisa menjadi ibu yang baik untuknya?'
'Saya mengenal keluargamu. Saya tahu kamu bekerja keras dan menyayangi adikmu.'
'Itu tidak otomatis membuatku cocok menjadi istri Mas.'
'Saya tidak mencari kecocokan yang rumit. Saya mencari seseorang yang bisa membuat rumah lebih stabil.'
Tante menyela lembut, 'Aldo, jangan bicara seolah-olah Alia sedang melamar pekerjaan.'
Aldo mengencangkan rahang. 'Saya tidak bermaksud begitu, Bu.'
'Cara bicaramu membuatnya terdengar demikian.'
Aku mengangguk. 'Aku juga merasa begitu, Tante.'
Aldo mengusap wajah. 'Baik. Saya akan mencoba menyampaikan dengan cara lain.'
'Silakan.'
'Saya duda. Saya memiliki anak yang membutuhkan perhatian. Saya ingin menikah lagi, tetapi saya tidak bisa menjanjikan perasaan seperti yang kamu harapkan dari suami.'
'Aku belum pernah bilang mengharapkan apa pun.'
'Karena itu saya memilih bicara terus terang.'
'Terus terang bukan berarti boleh merendahkan orang.'
Tante memandang putranya dengan teguran. Aldo diam beberapa detik.
'Maaf,' katanya akhirnya. 'Saya tidak bermaksud merendahkanmu.'
Aku tidak langsung menerima permintaan maafnya. 'Aku datang untuk mendengar penjelasan. Sekarang aku tahu Mas punya anak dan ingin menikah. Tapi aku belum tahu kenapa harus aku.'
'Ibu saya yang meminta saya mempertimbangkanmu. Ayahmu sahabat keluarga kami. Ibu juga mengenalmu dari beberapa kali bertemu.'
'Jadi Mas hanya mengikuti pilihan Tante?'
'Tidak. Saya sudah memikirkannya.'
'Sejak kapan?'
Aldo tidak segera menjawab. 'Beberapa waktu.'
'Dan selama itu Mas tidak pernah merasa perlu memberitahuku bahwa Mas punya anak?'
'Saya belum siap membicarakannya.'
'Kalau begitu, mungkin Mas juga belum siap menikah.'
Tante menunduk, menahan napas. Aldo berdiri, lalu berjalan beberapa langkah sebelum kembali menghadapku.
Tante mengusap pelan sisi cangkirnya. 'Alia, Tante juga perlu menjelaskan alasan Tante menghubungimu. Tante melihat kamu beberapa kali di rumah orang tuamu. Kamu sopan, dekat dengan Ibu dan Bapak, juga menyayangi adikmu. Tapi itu tidak berarti Tante berhak menentukan hidupmu.'
'Terima kasih, Tante. Aku cuma ingin tahu apakah ini keputusan Mas Aldo sendiri.'
Aldo menatapku. 'Saya setuju untuk berbicara denganmu. Ibu tidak memaksaku.'
'Namun ide ini datang dari Tante?'
'Ibu menyampaikan harapannya. Saya mempertimbangkan, lalu memutuskan untuk bertanya kepadamu.'
'Jadi Mas sudah membuat keputusan sebelum bertanya apakah aku bersedia?'
'Saya tahu saya ingin menikah lagi.'
'Mas ingin menikah. Tapi belum tentu ingin menikah denganku sebagai pasangan.'
Ia tidak langsung menjawab. Tante pun tidak menyela. Keheningan itu terasa seperti jawaban tersendiri.
Aku melipat kedua tangan di pangkuan. 'Aku tidak menganggap diriku istimewa. Tapi aku ingin tahu apakah Mas memilihku karena mengenal aku, atau karena butuh seseorang mengisi posisi yang kosong.'
Aldo berdiri dan berjalan ke meja. 'Saya mengenalmu secukupnya.'
'Cukup untuk mempercayakan anak Mas kepadaku, tetapi tidak cukup untuk menjadikanku istri?'
Wajahnya mengeras. 'Jangan mengubah kata-kata saya.'
'Aku tidak mengubahnya. Aku mencoba memahami.'
Tante mengangkat suara dengan lembut. 'Aldo, jawablah pertanyaannya tanpa tersinggung.'
Aldo kembali duduk. 'Saya memilih kamu karena saya menilai kamu bisa menjaga Rafi dan menghormati keluarga.'
'Itu alasan untuk memilih pengasuh,' kataku. 'Aku ingin tahu alasan memilih istri.'
'Saya tidak akan memaksamu menjawab hari ini. Tapi saya ingin kamu mempertimbangkan tawaran saya.'
'Tawaran yang belum jelas itu?'
'Nanti saya jelaskan semua syaratnya.'
Aku terkejut. 'Mas bahkan punya syarat?'
'Pernikahan ini harus punya batas yang jelas.'
'Batas apa?'
Aldo menatapku tanpa senyum. 'Saya akan menjelaskannya setelah kamu mempertimbangkan apakah kamu bersedia menikah dengan saya.'
Aku berdiri. 'Jadi aku diminta menerima dulu sebelum tahu seluruh syaratnya?'
'Bukan begitu. Saya hanya ingin tahu apakah kamu bersedia membuka kemungkinan.'
'Mas, aku bukan formulir persetujuan.'
Tante berdiri juga. 'Alia benar. Kamu harus menjelaskan semuanya sekarang, bukan meminta jawaban tanpa informasi lengkap.'
Aldo terdiam. Untuk pertama kalinya sejak aku datang, ia terlihat tidak yakin harus berkata apa.
Aku mencoba menyusun kembali penjelasan Aldo dalam pikiranku. Ia menginginkan pernikahan, tetapi sejak awal menegaskan bahwa hatinya tetap milik almarhumah. Ia berharap aku dekat dengan Rafi, sementara ia sendiri belum bisa menjanjikan kedekatan sebagai suami istri. Semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa keputusan ini tidak sederhana.
'Mas pernah membayangkan bagaimana Rafi akan memandang saya?' tanyaku.
'Saya akan menjelaskan kepadanya setelah semuanya pasti.'
'Jadi, Mas sudah berpikir tentang hasil akhirnya, tetapi belum tentang prosesnya.'
Aldo menghela napas. 'Saya tidak ingin membuatnya bingung sebelum ada keputusan.'
'Kalau begitu, jangan membuat saya ikut mengambil keputusan tanpa tahu bagaimana Mas akan menghadapinya.'
Tante menatap Aldo, tetapi tidak menyela. Aku tahu ia menyayangi putranya dan cucunya, namun aku bersyukur beliau membiarkanku bicara sendiri. Aku tidak sedang mencari alasan untuk mempermalukan Aldo. Aku hanya perlu memastikan bahwa suara dan keberatanku ikut dihitung.
'Mas, saya perlu waktu,' kataku. 'Saya ingin pulang dan memikirkan semua ini.'
Tante mengangguk. 'Tentu. Tante akan mengantarmu.'
'Tidak perlu, Bu,' kata Aldo. 'Saya yang mengantar.'
Aku mengambil tas dari kursi. 'Baik. Tapi dalam perjalanan aku tidak mau ada tekanan untuk menjawab.'
'Saya tidak akan memaksamu.'
Aku melangkah ke arah pintu. Di belakangku, Tante memanggil dengan suara lembut.
'Alia, apa pun keputusanmu, Tante menghargai.'
Aku mengangguk tanpa menoleh. Penjelasan Aldo belum selesai, tetapi yang sudah kudengar cukup membuat pikiranku berantakan. Ia tidak sekadar ingin menikah. Ia ingin aku mengisi ruang kosong dalam hidup anaknya, tanpa menjanjikan tempat yang sama di hatinya.
Aku keluar ke teras untuk menenangkan diri. Udara sore terasa lebih sejuk daripada ruang keluarga, tetapi pikiranku masih sesak. Tante menyusul beberapa saat kemudian.
'Tante tidak akan meminta kamu menerima,' katanya.
'Saya tahu, Tante. Tapi saya juga tidak ingin membuat Rafi berharap kalau saya sendiri belum yakin.'
'Itu pertimbangan yang baik. Pikirkan dirimu dan anak itu dengan jujur.'
Aku mengangguk. Dari dalam rumah, terdengar Aldo berbicara pelan kepada Rafi. Aku tidak menangkap kata-katanya, hanya nada suaranya yang lebih lembut daripada saat bicara denganku. Pemandangan itu membuatku semakin paham bahwa ada sisi Aldo yang belum kukenal. Namun, aku tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan satu momen singkat.