Kami tiba di depan restoran ketika langit sudah gelap. Beberapa karyawan segera mengambil barang masing-masing. Aku berdiri di sisi kendaraan sambil memastikan tas dan ponselku lengkap.
'Terima kasih, Pak. Acara dua hari ini menyenangkan,' kataku kepada Pak Willy.
'Saya senang kamu menikmatinya. Kamu lelah?'
'Lumayan, tapi masih sanggup pulang.'
'Jangan lupa kabari orang tuamu saat sudah sampai.'
'Iya, Pak.'
Bu Rani menghampiri kami dengan daftar barang. 'Semua sudah lengkap. Besok kita masuk kerja seperti biasa.'
Ridwan menghela napas. 'Rasanya baru sebentar liburnya.'
'Namanya juga acara karyawan, bukan liburan pribadi,' jawab Bu Rani.
'Saya bercanda, Bu.'
'Bagus. Jangan terlambat besok.'
Aku menahan senyum melihat Ridwan langsung mengangguk. Setelah berpamitan, aku memesan ojek dan menunggu di dekat area parkir restoran. Kitty masih di rumah sejak kehabisan bensin sebelum perjalanan ini. Pak Willy memperhatikanku dari dekat pintu.
'Alia, kamu yakin tidak perlu diantar?'
'Tidak usah, Pak. Saya sudah memesan ojek. Rumah saya juga tidak terlalu jauh.'
'Baik. Berkendaralah pelan-pelan. Kamu masih lelah.'
'Saya janji tidak ngebut.'
'Bagus. Saya tunggu kabar kalau sudah sampai.'
Ketika pengemudi ojek datang, aku memeriksa nomor kendaraannya dan mengenakan helm yang disodorkan. 'Sampai besok, Pak.'
'Hati-hati.'
Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang kubayangkan. Aku melewati jalan yang sudah akrab, lalu memasuki kompleks tempat tinggal. Tidak jauh dari rumah, beberapa ibu-ibu sedang duduk di dekat warung. Bu Leha juga ada di sana. Ia melirik ke arah ojek yang kutumpangi, tetapi tidak memanggil. Aku mengangguk sopan ketika kami melintas.
Sesampainya di rumah, aku membayar ongkos ojek, mengembalikan helm, lalu mengucap salam. Ibu muncul dari dalam dengan wajah lega.
'Alia sudah pulang. Bagaimana acaranya?'
'Seru, Bu. Tapi Alia capek sekali.'
Ibu mengambil tasku. 'Masuk dulu. Bapak sedang mengantar Alisha membeli sesuatu.'
'Adik belum pulang?'
'Sebentar lagi. Dari tadi dia menunggu kamu, tapi katanya tidak mau menjemput karena takut oleh-olehnya tertinggal.'
Aku tertawa. 'Benar-benar adik yang perhatian.'
Ibu tersenyum sambil membawaku ke ruang tengah. 'Kamu sudah makan?'
'Sudah. Kami berhenti di jalan tadi.'
'Kalau begitu, istirahatlah. Nanti baru cerita.'
Aku duduk di sofa dan membuka ponsel. Ada pesan lagi dari Aldo. 'Besok pukul empat saya datang. Siapkan diri.'
Aku menghela napas. 'Bu, besok Mas Aldo mau datang menjemput Alia. Katanya ibunya ingin bertemu.'
Ibu berhenti merapikan tas. 'Kamu sudah tahu untuk apa?'
'Belum. Dia tidak menjelaskan. Cuma menyuruh Alia siap.'
Ibu duduk di sebelahku. 'Apa kamu nyaman pergi menemuinya?'
'Alia belum tahu, Bu. Tapi Tante pernah menelepon waktu kami di jalan ke Lembang. Beliau bilang ingin bicara langsung. Alia sudah terlanjur bilang akan datang.'
'Kalau begitu, dengarkan dulu maksudnya. Kamu tidak harus langsung menyetujui apa pun.'
'Iya, Bu. Alia juga ingin tahu kenapa Tante begitu ingin bertemu.'
Ibu meraih tanganku. 'Yang penting kamu jangan merasa terpaksa. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, pulanglah. Bapak dan Ibu akan mendukungmu.'
Aku mengangguk. 'Terima kasih, Bu.'
Tak lama kemudian, Alisha pulang bersama Bapak. Ia langsung berlari ke ruang tengah.
'Kak Alia! Oleh-olehnya mana?'
'Baru juga sampai, sudah ditagih.'
'Kan Kakak janji.'
Aku mengambil kantong kecil dari tasku dan menyerahkannya. Isinya camilan sederhana yang kubeli selama perjalanan wisata. Alisha menerimanya dengan wajah berbinar.
'Ini buat Ade?'
'Iya. Tapi jangan dimakan sekaligus.'
'Siap, Kak.'
Bapak tersenyum melihat kami. 'Acaranya berjalan lancar?'
'Lancar, Pak. Besok Alia mau bertemu ibunya Aldo. Mas Aldo yang menjemput.'
Bapak menatapku dengan serius. 'Kamu sudah mempertimbangkan baik-baik?'
'Belum tahu apa yang akan dibicarakan, Pak. Alia hanya ingin mendengarkan dulu.'
'Bagus. Jangan biarkan siapa pun mendesakmu mengambil keputusan.'
'Iya, Pak. Alia akan ingat.'
Malam itu kami makan bersama. Aku menceritakan permainan karyawan dan udara sejuk Lembang. Aku tidak banyak membahas kemurungan Pak Willy atau pesanku dengan Aldo. Ada beberapa hal yang belum siap kuceritakan.
'Bu Rani juga ikut acara?' tanya Ibu sambil mengambilkan sayur untuk Bapak.
'Iya. Dia sampai lebih dulu dan mengurus banyak hal. Cuma sikapnya ke Alia agak dingin.'
'Di tempat kerja, kamu harus tetap profesional. Jangan buru-buru menganggap orang memusuhimu,' kata Bapak.
'Iya, Pak. Alia juga tidak mau salah paham. Mungkin Ibu memang sedang lelah.'
'Kalau ada masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, bicarakan baik-baik. Jangan dipendam sampai mengganggu pekerjaanmu,' lanjut Bapak.
Aku mengangguk. 'Alia akan ingat.'
Aku menoleh kepada Ibu. 'Kalau Tante belum menjelaskan semuanya, Alia boleh minta waktu untuk pulang dulu?'
'Tentu. Kamu tidak harus menyetujui sesuatu hanya karena mereka sudah menyiapkan pembicaraan.'
Bapak meletakkan sendoknya. 'Dengarkan dengan tenang. Setelah itu baru pikirkan baik-baik.'
Aku mengangguk. Nasihat mereka membuatku merasa punya tempat untuk kembali, apa pun isi pertemuan nanti. Untuk sekarang, aku menyimpan rasa penasaran itu dan menyelesaikan makan malam bersama keluargaku.
Ibu mengalihkan pembicaraan kepada acara di Lembang. Ia bertanya apakah aku sempat menikmati pemandangan dan apakah perjalanan pulang melelahkan. Aku menjawab seperlunya, lalu tertawa saat Alisha menyela untuk menceritakan camilan yang ia buka terlalu cepat. Kehadiran keluarga membuat tubuhku yang lelah terasa lebih ringan. Aku ingin menyimpan suasana hangat itu sebelum menghadapi percakapan yang belum kuketahui isinya dengan Tante dan Aldo.
Setelah makan, aku membantu Ibu membereskan meja. Bapak kembali mengingatkanku agar memberi kabar jika besok pergi. Aku mengangguk dan berjanji akan melakukannya.
Setelah mandi, aku menerima pesan dari Pak Willy. 'Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya di Lembang. Saya akan bicara dengan Kanina saat kami sama-sama siap. Kamu tidak perlu ikut memikirkan masalah itu.'
Aku membalas, 'Semoga pembicaraan kalian berjalan baik, Pak. Besok kita kembali fokus pada pekerjaan.'
'Betul. Istirahatlah, kamu juga masih lelah.'
Pesan singkat itu membuatku merasa bahwa urusan Pak Willy bukan sesuatu yang harus kuselesaikan. Ia akan menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan terhadap masa lalunya. Aku pun bisa kembali memikirkan pertemuanku dengan Aldo dan ibunya.
Di kamar, aku meletakkan ponsel di samping bantal. Pesan Aldo masih terbuka: besok pukul empat ia akan menjemputku. Aku menyetel alarm dan menyiapkan pakaian yang pantas untuk bertemu ibunya. Aku belum tahu maksud pertemuan itu, tetapi sudah berjanji akan mendengarkan tanpa terburu-buru mengambil keputusan.
Ibu sempat mengetuk pintu untuk memastikan aku baik-baik saja. 'Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh bilang tidak,' pesannya.
'Iya, Bu. Alia akan mengingatnya.'
Sebelum Ibu keluar, aku sempat memanggilnya lagi. 'Bu, kalau besok Alia pulang dengan pikiran masih bingung, jangan marah, ya.' Ibu tersenyum lembut. 'Ibu tidak akan marah. Yang penting kamu jujur pada dirimu sendiri.' Setelah Ibu keluar, aku menarik selimut dan memejamkan mata. Besok aku akan bertanya langsung kepada Aldo tentang hal yang selama ini ia tahan.