Sore itu acara penutupan selesai lebih cepat dari perkiraan. Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas yang sudah kurapikan sejak pagi. Dari jendela, kabut tipis menggantung di antara pepohonan dan udara mulai terasa dingin.
Saat aku turun membawa tas, Ridwan sudah menunggu di lobi. 'Sudah siap pulang?'
'Sudah. Kamu sendiri?'
'Sudah dari tadi. Saya takut ketinggalan mobil.'
'Kalau begitu, duduk saja dulu. Kita masih menunggu yang lain.'
Bu Rani keluar dari ruang administrasi sambil membawa daftar nama. 'Pastikan semua barang sudah masuk kendaraan sebelum kita berangkat.'
'Baik, Bu,' jawab Ridwan.
Aku menaruh tas di dekat barang kelompok. Pak Willy datang beberapa menit kemudian dan memastikan semua karyawan sudah berkumpul.
'Terima kasih sudah mengikuti acara ini. Semoga kalian pulang dengan semangat baru,' katanya.
Salah satu karyawan menyahut, 'Kalau semangat baru disertai libur tambahan, kami lebih senang, Pak.'
'Usulnya saya catat. Belum tentu disetujui.'
Tawa terdengar di antara kami. Bahkan Bu Rani tersenyum kecil. Aku merasa suasana tim lebih cair daripada saat kami tiba.
Bu Rani memastikan tidak ada barang yang tertinggal di kamar. Aku mengecek ulang tas, sementara Ridwan membantu membawa kotak perlengkapan ke kendaraan.
'Sudah lengkap?' tanya Bu Rani.
'Sepertinya sudah, Bu. Saya hanya membawa tas ini dan satu kantong kecil.'
'Pastikan lagi sebelum kita berangkat. Saya tidak ingin harus kembali ke penginapan.'
Aku memeriksa bawah kursi dan lemari, lalu mengangguk. 'Sudah lengkap.'
Pak Willy menyampaikan terima kasih kepada pengelola penginapan, kemudian mengajak kami naik kendaraan. Beberapa karyawan sempat berfoto bersama di halaman sebelum berangkat. Aku ikut berdiri di barisan belakang. Ridwan membuat wajah konyol tepat saat foto diambil sehingga semua orang tertawa.
'Foto itu jangan dikirim ke grup kantor,' katanya.
'Kenapa? Wajah kamu paling bersemangat.'
'Justru itu masalahnya.'
Aku menyimpan ponsel dan kembali ke kendaraan. Dua hari ini melelahkan, tetapi terasa menyenangkan. Aku juga merasa lebih lega setelah mendengar Pak Willy bercerita sedikit tentang Kanina. Setidaknya kini aku tahu ia sedang mencoba menghadapi kenangan lama, bukan sekadar tiba-tiba berubah murung tanpa alasan.
Sebelum berangkat, aku mengecek ponsel. Ada pesan dari Ibu yang menanyakan perkiraan waktu sampai. Aku membalas bahwa perjalanan akan dimulai sebentar lagi. Tak ada pesan dari Aldo.
Dalam perjalanan, aku duduk di dekat jendela. Pemandangan Lembang berganti menjadi jalanan yang ramai. Pak Willy mengemudi dengan tenang, sedangkan Bu Rani duduk di barisan depan. Aku dan Ridwan berada di belakang.
'Alia, jangan melamun lagi. Nanti kamu mabuk perjalanan,' kata Ridwan.
'Saya tidak melamun. Saya sedang memperhatikan jalan.'
'Dari tadi jalan yang sama?'
'Pemandangannya berubah, Wan.'
Ridwan terkekeh. 'Baiklah, saya tidak ganggu.'
Bu Rani menoleh sebentar. 'Kalau kalian sudah selesai bercanda, lebih baik istirahat. Perjalanan masih panjang.'
'Baik, Bu,' jawabku.
Aku mencoba tidur, tetapi pikiranku tetap tertuju pada pesan yang belum datang. Aku tidak tahu apakah Aldo masih mengingat janjinya untuk berbicara denganku. Seharusnya aku tidak terlalu berharap. Kami bahkan belum dekat.
Setelah beberapa waktu, kami berhenti di tempat istirahat untuk meregangkan kaki dan membeli minuman. Karyawan berpencar sebentar. Aku memilih duduk di meja dekat jendela sambil menelepon Ibu.
'Bu, kami sudah di perjalanan pulang. Mungkin beberapa jam lagi sampai.'
'Syukurlah. Kamu sehat?'
'Sehat, Bu. Cuma agak lelah.'
'Kalau sudah sampai, kabari Ibu. Jangan memaksakan diri kalau mengantuk.'
'Iya, Bu. Alia juga ingin ketemu Alisha. Jangan-jangan dia cuma menunggu oleh-oleh.'
'Bisa jadi. Dari tadi dia bertanya terus.'
Aku tertawa. 'Titip bilang kakaknya akan pulang.'
'Sudah. Hati-hati, Nak.'
Setelah menutup telepon, aku kembali ke meja. Pak Willy duduk di hadapanku membawa kopi.
'Ibu khawatir?' tanyanya.
'Sedikit. Tapi saya sudah bilang akan segera sampai.'
'Bagus. Kalau ada yang menjemputmu nanti, beri tahu saya.'
Aku mengernyit. 'Kenapa Bapak bertanya begitu?'
'Karena saya ingin memastikan kamu tidak pulang sendirian.'
'Saya bisa minta dijemput Bapak atau naik kendaraan umum.'
'Baik. Saya hanya memastikan.'
Bu Rani datang membawa minuman. 'Kita berangkat lima belas menit lagi. Jangan sampai ada yang tertinggal.'
Kami segera menyelesaikan makan. Perjalanan dilanjutkan hingga memasuki ibu kota menjelang malam. Aku merasa lega ketika mengenali jalan-jalan yang biasa kulewati. Tidak lama lagi aku akan bertemu keluarga.
Ponselku bergetar saat kendaraan berhenti karena kemacetan. Nama Aldo muncul di layar. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku membuka pesannya.
'Besok sore saya akan menjemput kamu. Ibu saya ingin bertemu. Pastikan kamu ada di rumah.'
Aku membaca pesan itu dua kali. Nadanya tetap seperti perintah, bukan permintaan. Aku mengetik balasan, menghapusnya, lalu mencoba lagi.
'Baik, Mas. Saya baru dalam perjalanan pulang. Nanti saya kabari Ibu dan Bapak.'
Balasan Aldo datang beberapa menit kemudian. 'Saya akan menjemputmu sendiri. Jangan pergi ke mana-mana.'
Aku menghela napas. Tidak ada salam, tidak ada penjelasan, hanya perintah. Namun setidaknya ia telah menjawab keraguanku.
Pak Willy melirik dari kaca spion. 'Ada kabar?'
'Aldo mengirim pesan. Katanya besok dia akan menjemput saya untuk bertemu ibunya.'
Pak Willy terdiam sebentar. 'Jadi akhirnya dia menghubungimu.'
'Iya. Dia masih terdengar seperti biasanya.'
'Seperti apa?'
'Seperti sedang memberi perintah.'
Ridwan tertawa kecil. 'Mungkin memang gaya bicaranya begitu.'
Aku menyimpan ponsel. 'Saya juga belum tahu apa yang akan dibicarakan. Dia sudah beberapa kali bilang ingin menyampaikan sesuatu, tapi selalu batal.'
'Semoga kali ini kamu mendapat jawaban,' ujar Pak Willy.
Aku menatap keluar jendela lagi. Mobil terus bergerak pelan di tengah kemacetan. Pesan Aldo membuat pikiranku kembali dipenuhi pertanyaan, tetapi kali ini aku tahu kapan ia akan menjemputku. Besok sore, tepat seperti yang ia janjikan. Aku menyimpan ponselku rapat-rapat ke dalam tas kecil di pangkuanku sebelum kembali memperhatikan jalan. Setidaknya sekarang aku punya waktu untuk memikirkan pertanyaan yang ingin kusampaikan kepadanya.
Aku menyiapkan pertanyaan itu untuk pertemuan besok, tanpa menebak jawaban Aldo lebih dulu.