Pagi berikutnya aku bangun sebelum alarm berbunyi. Udara dingin membuatku ingin kembali menarik selimut, tetapi janji membantu Bu Rani menyiapkan hadiah membuatku harus beranjak. Setelah mencuci muka dan merapikan pakaian, aku menuju aula kecil.
Bu Rani sudah berada di sana bersama beberapa kotak berisi hadiah. 'Kamu datang tepat waktu,' katanya.
'Seperti yang Ibu minta.'
'Bagus. Tolong kelompokkan sesuai warna pita. Jangan sampai tertukar.'
Aku duduk di lantai dan mulai memilah kotak. 'Yang ini untuk pemenang pertama?'
'Betul. Yang pita biru untuk kedua, merah untuk ketiga.'
'Berarti yang tanpa pita buat yang kalah?'
Bu Rani menatapku. 'Kita tidak menyiapkan hadiah untuk yang kalah.'
'Kasihan sekali. Padahal saya biasanya perlu hadiah hiburan.'
Ia menghela napas pendek. 'Fokus saja, Alia.'
Aku segera menutup mulut, menahan senyum. Tak lama kemudian Pak Willy masuk. 'Pagi. Semuanya sudah siap?'
'Sebentar lagi, Pak,' jawab Bu Rani. 'Alia sedang membantu saya.'
'Terima kasih, Al. Kamu selalu bisa diandalkan.'
Aku tersenyum. 'Sama-sama, Pak.'
Bu Rani meletakkan pita terakhir dengan sedikit keras. 'Kita harus segera ke aula. Peserta sudah menunggu.'
Aku tidak ingin menafsirkan sikapnya terlalu jauh. Kami membawa hadiah ke aula dan memulai kegiatan sesuai jadwal. Bu Rani membuka acara dengan rapi. Pak Willy menyampaikan sambutan singkat, lalu permainan dimulai. Aku bergabung dengan kelompok Ridwan. Kami harus menyelesaikan tantangan sederhana dengan bekerja sama.
'Alia, bagianmu pegang kartu petunjuk,' kata Ridwan.
'Kenapa saya yang pegang? Nanti kalau kelompok kita kalah, saya yang disalahkan.'
'Kalau menang, kamu juga yang dapat pujian.'
'Kalau begitu saya terima.'
Kami tertawa dan melanjutkan permainan. Suasananya menjadi meriah. Bahkan Bu Rani beberapa kali tersenyum melihat tingkah karyawan.
Setiap kelompok harus menyusun petunjuk yang tersebar di beberapa meja. Aku dan Ridwan berselisih sebentar soal urutannya, tetapi akhirnya kami menyadari bahwa kami membaca kartu yang sama dari sisi berbeda.
'Coba dibalik, Al,' kata Ridwan.
'Kalau ternyata tetap salah?'
'Ya, kita salah bersama-sama.'
'Wah, kompak sekali.'
Kami membalik kartu itu dan menemukan urutan yang benar. Kelompok kami bersorak kecil. Aku ikut tertawa, merasa beban pikiran yang sejak kemarin menumpuk sedikit berkurang. Kegiatan seperti ini membuatku melihat rekan kerja dari sisi yang berbeda. Di restoran kami sering sibuk dengan tugas masing-masing, sedangkan di sini kami punya waktu untuk saling membantu tanpa memikirkan antrean pelanggan. Aku sempat melihat Pak Willy ikut tertawa, tetapi ketika permainan selesai, ia tampak kembali melamun.
Setelah makan siang, acara berlanjut dengan sesi bebas. Sebagian karyawan berjalan-jalan di sekitar penginapan. Aku memilih duduk di bangku taman sambil mengirim pesan suara kepada Ibu.
'Bu, Alia baik-baik saja. Tempatnya sejuk sekali. Nanti kalau pulang, Alia cerita lebih banyak. Ibu jangan khawatir, ya.'
Ibu membalas dengan pesan suara. Ia bilang Alisha sempat bertanya apakah aku membawa oleh-oleh. Aku tertawa sendiri membayangkan adikku.
'Alia, sedang apa?' suara Pak Willy terdengar dari belakang.
'Sedang mengabari Ibu, Pak. Alisha sudah mulai menagih oleh-oleh.'
'Anak kecil memang pintar mencari kesempatan.'
'Betul. Kalau tidak dibawakan, nanti dia bilang saya kakak yang tidak bertanggung jawab.'
Pak Willy duduk di ujung bangku. 'Kamu sudah bicara dengan Aldo?'
'Belum, Pak. Memangnya kenapa?'
'Tidak apa-apa. Saya cuma ingat dia pernah datang ke rumahmu.'
Aku memandangnya curiga. 'Bapak bertanya begitu karena penasaran atau karena khawatir?'
'Keduanya mungkin.'
'Tidak perlu khawatir. Saya juga belum tahu apa yang ingin dia bicarakan.'
Pak Willy mengangguk. 'Kalau begitu, semoga setelah pulang nanti semuanya jelas.'
Aku ingin bertanya soal Kanina, tetapi takut ia menganggapku terlalu ikut campur. Pak Willy rupanya menyadari keraguan itu.
'Kamu ingin bertanya sesuatu?'
'Bapak sudah tidak keberatan membahas Kanina?'
'Tidak. Tapi saya juga belum siap menceritakan semuanya.'
'Baik. Saya tidak akan bertanya.'
Ia tersenyum tipis. 'Terima kasih.'
Menjelang sore, kegiatan hari kedua hampir selesai. Para karyawan bersiap untuk acara penutupan yang sederhana. Bu Rani menyampaikan beberapa pengumuman, termasuk jadwal pulang. Aku membantu membereskan kursi setelah acara berakhir. Pak Willy terlihat bekerja bersama karyawan lain, berusaha menjaga suasana tetap ringan.
Menjelang sore, aku kembali bertemu dengannya di teras penginapan. Ia tampak lebih tenang daripada malam sebelumnya.
'Pak, hari ini Bapak ikut bermain. Ancaman saya berhasil.'
'Sepertinya begitu. Tapi jangan merasa terlalu berjasa.'
'Tidak apa-apa. Saya akan tetap mengaku berjasa.'
Pak Willy tersenyum. 'Alia, saya ingin melanjutkan sedikit cerita tentang Anin. Bukan semuanya, hanya yang bisa saya ceritakan sekarang.'
Aku duduk di kursi seberangnya. 'Saya dengarkan.'
'Dulu kami saling menyayangi. Tapi ada keadaan yang membuat kami berpisah. Saya belum ingin menjelaskan rinciannya sebelum saya bicara langsung dengannya. Saya tidak mau kamu mendengar setengah cerita lalu salah paham.'
'Bapak benar. Kalau begitu, saya tidak akan menyimpulkan apa-apa.'
'Yang jelas, saya tidak sedang menjalin hubungan dengannya sekarang. Pertemuan tadi membuat saya teringat banyak hal, tetapi saya belum tahu harus berbuat apa.'
'Bapak tidak harus menentukan semuanya sekarang. Kalau memang ada yang perlu dibicarakan dengan Kanina, bicarakan baik-baik saat waktunya tepat.'
Pak Willy mengangguk pelan. 'Kamu selalu menyuruh saya bersikap dewasa.'
'Karena Bapak bos saya. Kalau Bapak bertingkah, nanti siapa yang mengatur restoran?'
Ia tertawa. 'Alasanmu masuk akal juga.'
Kami mengobrol cukup lama tentang hal ringan. Aku berusaha membuatnya tertawa tanpa menjadikan masa lalunya bahan lelucon. Sebelum kembali ke kamar, aku menelepon Ibu sebentar untuk memastikan tidak ada kabar penting dari rumah.
'Alia, acara di sana bagaimana?' tanya Ibu.
'Baik, Bu. Sebentar lagi kami pulang. Nanti Alia kabari kalau sudah sampai.'
'Bagus. Ada yang mau menjemputmu?'
'Sepertinya belum tahu, Bu. Nanti Alia kabari lagi.'
'Jangan pulang sendirian kalau malam.'
'Iya, Bu. Alia hati-hati.'
Panggilan berakhir. Aku menaruh ponsel di meja kecil. Dua hari di Lembang hampir usai, tetapi urusanku dengan Aldo belum juga menemukan ujung. Aku kembali ke lobi untuk bergabung dengan karyawan lain. Acara penutupan sudah selesai; sekarang kami tinggal mengambil tas dan menunggu pemeriksaan barang sebelum berangkat pulang.