Makan malam disajikan di ruang yang menghadap taman. Para karyawan duduk berkelompok, saling bercerita tentang pekerjaan dan perjalanan. Aku memilih kursi di samping Ridwan. Pak Willy duduk di ujung meja, sementara Bu Rani berada tidak jauh darinya.
'Alia, makan yang banyak. Dari tadi kamu cuma mengaduk nasi,' kata Ridwan.
'Aku sedang memilih lauk yang paling aman.'
'Memangnya ada lauk berbahaya?'
'Belum tahu. Kalau terlalu pedas, perut saya bisa protes lagi.'
Ridwan tertawa. 'Jangan-jangan trauma gara-gara bakso.'
'Jangan diingatkan. Sampai sekarang saya masih malu kalau ingat kejadian itu.'
Percakapan ringan itu membuatku lebih santai. Namun, suasana di ujung meja terasa berbeda. Bu Rani beberapa kali bertanya kepada Pak Willy tentang acara esok hari. Setiap kali Pak Willy menjawab, Bu Rani menatapnya lekat-lekat.
'Pak, besok sesi permainan dimulai pukul delapan. Bapak akan membuka acara atau saya saja?' tanya Bu Rani.
'Kamu saja yang membuka. Saya akan menyusul setelah memastikan perlengkapan.'
'Baik. Nanti saya tunggu di aula.'
Pak Willy mengangguk. Bu Rani lalu menoleh kepadaku. 'Alia, kamu bisa membantu saya menyiapkan hadiah permainan sebelum sarapan?'
'Tentu, Bu. Saya bisa bantu.'
'Bagus. Datang tepat waktu, ya.'
'Iya, Bu.'
Setelah makan malam, beberapa karyawan kembali ke kamar. Aku membawa gelas kosong ke meja pengembalian dan melihat Pak Willy berdiri sendirian di dekat pintu kaca. Ia memandang taman gelap tanpa benar-benar melihat sekeliling.
'Pak, belum istirahat?' tanyaku.
Ia menoleh. 'Sebentar lagi. Kamu sendiri?'
'Saya mau kembali ke kamar. Tapi Bapak kelihatan sedang memikirkan sesuatu.'
'Kelihatan sekali, ya?'
'Lumayan. Biasanya Bapak banyak bercanda. Malam ini dari tadi cuma diam.'
Pak Willy menarik napas pelan. 'Mungkin saya memang sedang tidak ingin bercanda.'
Aku berdiri dengan jarak yang sopan. 'Kalau Bapak ingin cerita, saya bisa mendengarkan. Tapi kalau tidak, saya juga tidak akan memaksa.'
'Saya tidak tahu harus mulai dari mana.'
'Mulai dari bagian yang paling mudah saja.'
Ia tertawa hambar. 'Kamu selalu punya jawaban sederhana.'
'Karena kalau dibuat rumit, kepala saya cepat pusing.'
Pak Willy memandang halaman lagi. 'Tentang Anin yang sudah saya ceritakan di mobil tadi, Al. Setelah bertemu lagi, ternyata saya masih sulit menata perasaan. Saya belum siap membicarakan semuanya dengannya.'
'Saya ingat Bapak menceritakannya di mobil. Dan saya sudah menjelaskan bahwa saya tidak cemburu. Kalau sekarang Bapak ingin membicarakan perasaan Bapak sendiri, saya bisa mendengarkan.'
'Lalu kenapa kamu tidak bertanya lebih banyak?'
'Bapak sempat bilang tidak mau membahasnya. Saya tidak ingin memaksa.'
Ia diam beberapa saat. Aku menunggu tanpa mendesaknya. Di luar, angin menggerakkan dedaunan. Suara percakapan dari ruang makan semakin pelan setelah karyawan lain kembali ke kamar.
'Anin memang bagian dari masa lalu saya,' katanya akhirnya. 'Kami sudah lama berpisah. Saya tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, apalagi dalam keadaan seperti tadi.'
'Bapak terlihat sangat terkejut.'
'Saya juga tidak ingin membuat kamu ikut terbebani.'
'Saya tidak terbebani, Pak. Saya hanya khawatir Bapak menyimpan semuanya sendirian lalu besok pura-pura baik-baik saja.'
Pak Willy tersenyum kecil. 'Kamu tahu, Al, saya kadang iri pada caramu menghadapi orang. Kamu bisa bercanda meski sedang kesal.'
'Bukan berarti saya selalu baik-baik saja. Kadang saya bercanda supaya tidak menangis.'
Senyumnya hilang. 'Saya tahu kamu pernah kehilangan Mas Afnan. Saya tidak akan menyamakan pengalaman kita. Saya cuma ingin bilang, mungkin bertemu orang lama membuat banyak hal yang sudah kita simpan muncul lagi.'
Aku menunduk, teringat Afnan. 'Saya juga masih sering teringat Mas Afnan. Tapi saya belajar bahwa mengenang bukan berarti harus berhenti menjalani hidup.'
'Benar. Saya hanya belum tahu apakah saya sudah bisa melakukan itu.'
'Tidak perlu memutuskan malam ini, Pak. Bapak boleh memikirkan semuanya pelan-pelan.'
Pak Willy memandangku lebih tenang. 'Terima kasih sudah mendengarkan.'
'Sama-sama. Tapi kalau besok Bapak kembali murung, saya akan menyuruh Bapak ikut permainan. Siapa tahu bisa mengusir pikiran berat.'
'Ancaman macam apa itu?'
'Ancaman demi kesehatan mental bos saya.'
Pak Willy tertawa kecil, kali ini lebih tulus. 'Baiklah. Saya akan mencoba ikut bersenang-senang besok.'
Aku pamit kembali ke kamar. Setelah masuk, aku duduk di tepi ranjang dan mengirim pesan kepada Ibu bahwa aku sudah tiba dengan selamat.
'Sudah makan malam?' tanya Ibu melalui pesan suara singkat.
'Sudah, Bu. Alia makan bersama teman-teman. Ibu jangan menunggu Alia menelepon lama-lama, ya. Istirahat saja.'
Ibu membalas bahwa ia akan tidur setelah memastikan aku sudah kembali ke kamar. Aku mengirim foto pemandangan dari jendela, lalu berjanji akan menelepon lagi esok hari. Saat ponsel kusimpan, aku mendengar suara langkah orang melewati lorong. Beberapa karyawan masih mengobrol di ruang bersama, tetapi aku memilih tidak ikut. Aku perlu tidur agar besok tidak terlambat.
Aku mengetik bahwa semuanya baik-baik saja, lalu sempat membuka percakapan Aldo. Tidak ada pesan baru. Aku bertanya-tanya apakah ia masih berniat datang menjemputku setelah acara selesai. Namun aku tidak ingin mengirim pesan lebih dulu. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, dan aku memilih menunggu.
Sebelum tidur, aku menatap langit-langit kamar. Lembang terasa damai, tetapi pikiranku tetap ramai. Wajah Aldo yang dingin, sikap Bu Rani yang sinis, dan mata Pak Willy yang murung seakan bergantian muncul di benakku.
'Besok saja dipikirkan,' gumamku. 'Sekarang tidur dulu, Alia.'
Aku merapikan bantal sambil mencoba menenangkan pikiran. Kunjungan Aldo ke rumah kemarin masih terasa janggal. Ia datang membawa banyak pertanyaan di kepalaku, tetapi pergi tanpa menjawab satu pun. Jika besok ia kembali, aku ingin bertanya langsung dan tidak membiarkannya pergi begitu saja. Namun, aku juga tidak tahu apakah ia akan datang atau kembali membatalkan niatnya.
Aku mematikan lampu. Malam pertama di Lembang berakhir tanpa jawaban baru, tetapi setidaknya Pak Willy tidak lagi sepenuhnya memendam kesedihannya.
Tak lama kemudian, mataku terasa berat. Suara angin dari luar jendela perlahan menghilang dari perhatianku. Aku akhirnya tertidur dengan pikiran yang sedikit lebih tenang, setelah semua percakapan selesai dan ponsel diletakkan di meja, jauh dari bantal.