Aku tersentak mendengar pertanyaan Pak Willy. 'Enggak, Pak. Saya cuma sedang memikirkan banyak hal. Tadi Bapak bilang sudah sampai?'
'Iya. Kita sudah di lokasi acara. Ayo turun. Kalau kamu terus melamun, nanti saya tinggal di mobil.'
'Jangan, Pak. Saya bisa tersesat di tempat sebagus ini.'
'Kalau begitu, jangan jauh-jauh dari rombongan.'
Pak Willy turun lebih dulu. Aku membuka pintu di sisi penumpang dan segera menghirup udara sejuk Lembang. Perjalanan panjang membuat pinggangku kaku. Aku berdiri sambil meregangkan badan, lalu memandang bangunan penginapan dan halaman luas di sekelilingnya.
'Bagaimana, Al? Lumayan untuk melepas penat, kan?' tanya Pak Willy.
'Lumayan, Pak. Asal setelah ini tidak disuruh lari keliling halaman.'
'Belum ada rencana begitu. Tapi kalau kamu terus mengeluh, saya bisa usulkan.'
Aku tertawa kecil. 'Saya baru saja turun, Pak. Jangan langsung mengancam.'
Sebelum Pak Willy sempat membalas, Bu Rani muncul dari dekat pintu masuk. Ia berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Pandangannya berpindah dari Pak Willy kepadaku, lalu berhenti cukup lama di antara kami.
'Baru datang?' katanya datar.
'Iya, Bu. Jalanan cukup padat,' jawab Pak Willy. 'Kamu sudah mengurus daftar kamar?'
'Sudah. Dari tadi saya menunggu. Saya kira kalian berangkat bersama saya, ternyata saya malah sampai duluan.'
Bu Rani tersenyum tipis, tetapi nada suaranya terasa menyindir. Aku menundukkan kepala sebentar, berpura-pura sibuk merapikan tas.
'Maaf, Bu. Tadi saya harus menjemput Alia dulu,' kata Pak Willy.
'Ya, saya tahu. Saya juga melihat sendiri siapa yang dijemput.'
Aku menahan diri agar tidak langsung menanggapi. Bu Rani memang manajerku, jadi aku berusaha menjaga sopan santun. Namun, sikapnya membuat suasana kedatangan yang seharusnya menyenangkan jadi sedikit canggung.
Pak Willy mengangkat alis. 'Maksud kamu apa, Rani?'
'Tidak ada. Saya hanya menjelaskan kenapa saya sudah menunggu cukup lama.'
'Kalau begitu, terima kasih sudah mengurus semuanya. Alia baru sampai dan pasti lelah. Kita taruh barang dulu.'
Bu Rani berbalik tanpa menjawab. Aku mengikuti Pak Willy ke meja penerimaan tamu. Beberapa karyawan sudah berkumpul di lobi. Ridwan melambaikan tangan dari dekat sofa.
'Alia! Akhirnya datang juga. Perjalanan dari rumah lama, ya?'
'Lumayan. Kalau lebih lama lagi, mungkin saya sudah hafal semua lubang di jalan.'
Ridwan terkekeh. 'Yang penting sekarang sudah sampai. Bu Rani sudah membagikan kunci kamar. Kamar kamu di lantai dua.'
Aku mengambil kunci yang disodorkan Ridwan. 'Terima kasih. Pak Willy, saya taruh barang dulu, ya.'
'Silakan. Setelah itu kita berkumpul di aula kecil. Acara pembukaan sebentar lagi dimulai.'
Aku berjalan ke kamar yang sudah ditentukan. Setelah meletakkan tas dan mencuci muka, rasa lelahku sedikit berkurang. Dari jendela, terlihat bukit hijau yang diselimuti kabut tipis. Pemandangannya menenangkan. Aku sempat ingin memotret lalu mengirimkannya kepada Ibu, tetapi kuurungkan karena acara akan segera dimulai.
Saat aku kembali ke lobi, Bu Rani sedang membagikan jadwal kepada karyawan. Ia menyerahkan selembar kertas kepadaku tanpa senyum.
'Ini jadwalnya. Tolong baca baik-baik, jangan sampai terlambat.'
'Baik, Bu.'
'Kalau ada yang tidak jelas, tanya saya. Jangan terus menunggu Pak Willy.'
Aku menatapnya, agak terkejut. 'Saya hanya mengambil jadwal, Bu.'
'Bagus. Berarti kita sama-sama paham.'
Pak Willy datang dari lorong samping dan menangkap akhir percakapan itu. 'Ada masalah?'
'Tidak ada, Pak,' jawab Bu Rani cepat. 'Semuanya sudah siap.'
Aku tidak ingin membuat keributan di hari pertama. 'Benar, Pak. Jadwalnya sudah saya terima. Sebentar lagi saya ke aula.'
Pak Willy menatapku seakan ingin memastikan aku baik-baik saja. Aku mengangguk kecil, lalu berjalan bersama Ridwan menuju aula. Acara karyawan akhirnya dimulai dengan sambutan singkat dan permainan kelompok. Aku berusaha menikmati suasana, meski sesekali pikiranku kembali kepada Aldo dan alasan ia ingin berbicara denganku.
Di tengah permainan, Ridwan menyenggol lenganku. 'Kamu kok serius banget? Ini permainan, bukan ujian kasir.'
'Saya sedang berusaha menang.'
'Kalau menang dapat apa?'
'Kalau tidak ada hadiahnya, setidaknya saya bisa menang dari kamu.'
'Wah, menantang sekali.'
Tawa kami membuat beberapa orang ikut tersenyum. Dari sisi aula, aku melihat Pak Willy memperhatikan kami. Ia ikut tertawa sebentar, tetapi wajahnya kembali murung saat pandangannya jatuh pada ponsel. Mungkin ia teringat Kanina.
Menjelang sore, kegiatan hari pertama ditutup. Kami diberi waktu untuk beristirahat sebelum makan malam bersama. Aku berniat mengirim pesan kepada Ibu setelah mandi, tetapi suara Pak Willy memanggil dari lorong.
'Alia, kamu sudah mau ke kamar?'
'Iya, Pak. Ada apa?'
'Tidak apa-apa. Saya cuma mau memastikan kamu tidak tersesat.'
'Pak, penginapan ini tidak sebesar mal. Saya masih bisa menemukan kamar sendiri.'
'Bagus. Kalau begitu, istirahatlah. Nanti makan malam jangan terlambat.'
Aku naik ke kamar dan menutup pintu pelan-pelan. Baru kali ini aku menginap bersama teman-teman kerja di luar kota. Biasanya setelah pulang kerja, aku langsung kembali ke rumah Ibu dan Bapak, lalu membantu mereka atau bermain sebentar dengan Alisha. Sekarang aku harus menyesuaikan diri dengan suasana baru, berbagi kegiatan dengan banyak orang, dan menjaga sikap di depan manajerku. Aku mengeluarkan pakaian ganti dari tas, menaruhnya rapi di lemari kecil, lalu duduk sebentar di tepi ranjang. Aku mengabari Ibu bahwa perjalanan kami lancar. Ibu membalas dengan pesan singkat agar aku tidak lupa makan. Aku tersenyum membaca pesannya. Hal-hal sederhana seperti itu selalu membuatku merasa dekat dengan rumah, meskipun sedang berada jauh dari keluarga.
Aku tersenyum dan menarik selimut yang terlipat di ujung ranjang. Udara Lembang mulai terasa dingin. Malam itu baru saja dimulai, dan aku belum tahu bahwa percakapan singkat dengan Pak Willy nanti akan menunjukkan betapa pertemuan dengan Anin masih mengganggu pikirannya. Aku sempat memeriksa kembali jadwal kegiatan di pesan grup, lalu memastikan kartu kamar tersimpan di saku jaket. Suasana hotel ramai oleh suara peserta yang baru tiba, tetapi aku tetap merasa asing di tengah keramaian itu. Aku juga harus mengingat jadwal kegiatan besok agar tidak terlambat. Aku menyimpan kunci kamar di tempat yang mudah ditemukan dan memasang alarm lebih awal supaya tidak terburu-buru.