Aira tidak keluar pagar hari itu. Tapi dia menjelajahi rumah.
Sebuah rumah seukuran ini, dia baru sadar, punya banyak ruangan tertutup. Perpustakaan di lantai satu — lengkap dengan ribuan buku, dari sastra Indonesia sampai filsafat Jerman terjemahan. Ruang musik dengan piano grand hitam yang terlihat tidak pernah dimainkan. Ruang olahraga dengan treadmill dan barbel.
Dan di ujung lorong sayap barat — sayap di mana Razka tinggal — sebuah pintu kayu tua. Berbeda dari pintu-pintu lain yang modern. Pintu ini lebih kecil, lebih kuno, dan terkunci.
Aira berhenti di depannya. Dia tahu dia tidak boleh masuk. Tapi rasa penasaran ada di dalamnya, mengisik seperti kucing yang lapar.
Dia memutar gagang pintu. Terkunci. Tentu saja.
Dia akan berbalik — sungguh, dia akan berbalik — kalau saja bukan karena mata tajam Bu Marta yang muncul di ujung lorong.
"Oh, Bu Aira. Lagi mau apa di sini?"
Aira tertangkap basah. Dia berusaha tersenyum. "Eksplorasi rumah. Pintu ini mengarah ke mana?"
Bu Marta diam sejenak. Wajahnya yang biasanya hangat tampak berhati-hati.
"Itu kamar lama Mama Razka, Bu. Tuan tidak pernah membukanya sejak Mama beliau meninggal."
"Oh." Aira menelan ludah. "Maaf."
"Tidak apa, Bu. Cuma — kalau Bu Aira bisa, jangan tanya Tuan tentang itu. Itu... topik yang berat."
Aira mengangguk. Mereka berjalan bersama kembali ke tangga, dalam diam.
Tapi malam itu, ketika Razka pulang sekitar jam sepuluh, Aira tidak bisa menahan diri. Mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya — Bu Marta yang mengusulkan, dan Aira yang setuju karena entah kenapa dia ingin tahu lebih banyak.
Mereka makan ikan bakar dan sayur asem, di meja makan yang cukup untuk dua belas orang tapi hanya untuk dua. Aira di satu sisi, Razka di sisi yang lain, seperti dua orang asing di kapal mewah.
"Bagaimana hari ini?" Razka bertanya basa-basi, menyendok nasi.
"Eksplorasi rumah."
"Ah."
"Saya menemukan pintu di sayap Anda."
Tangan Razka berhenti di udara, sendok di tengah jalan ke piring. Dia tidak menatap Aira.
"Pintu yang mana?"
"Yang kayu kecil. Bu Marta bilang itu kamar mama Anda."
Razka meletakkan sendoknya pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Aira dengan ekspresi yang mendingin.
"Bu Marta seharusnya tidak bercerita."
"Dia tidak bercerita banyak. Hanya mengatakan saya tidak boleh bertanya."
"Lalu kenapa kau bertanya?"
Aira meletakkan sendoknya juga. "Karena saya istri Anda — di kertas, atau di mana saja. Karena saya tinggal di rumah ini sekarang. Karena saya mulai... mungkin... mulai melihat Anda sebagai orang yang lebih dari pembunuh berdarah dingin yang menculik saya. Dan kalau itu salah, tolong katakan, Razka — supaya saya bisa berhenti."
Hening panjang.
Razka menatapnya. Wajahnya sulit dibaca. Tapi matanya — mata gelap yang biasanya seperti sumur tanpa dasar itu — sekarang terlihat seperti seseorang yang sedang berperang dengan diri sendiri.
Akhirnya, dia bangkit dari kursi.
"Ikut aku."
"Apa?"
"Kalau kau mau tahu, ikut aku. Sekarang. Sebelum aku berubah pikiran."
Aira berdiri dengan ragu. Bu Marta yang sedang di dapur menatap mereka dari kejauhan dengan mata khawatir.
Razka berjalan ke sayap barat. Aira mengikuti. Mereka berhenti di depan pintu kayu kecil itu.
Razka mengeluarkan kunci dari saku celananya — kunci kuno, lebih kecil dari kunci modern. Dia membukanya pelan. Engselnya berderit.
Kamar di balik pintu itu kecil — tidak lebih besar dari kamar Aira. Tapi penuh dengan barang-barang. Tempat tidur kecil dengan seprai yang masih dipasang, sudah pudar dari waktu. Meja rias dengan cermin retak di salah satu ujung. Foto-foto di dinding. Lukisan cat air yang dibuat oleh tangan amatir tapi dengan cinta.
Dan di tengah meja rias, sebuah foto besar dalam bingkai — seorang wanita cantik dengan mata gelap yang sama persis dengan mata Razka. Di pangkuannya, seorang anak perempuan kecil dengan kepang dua, tertawa lepas.
Mata Aira terbuka lebar. Dia mengenali mata anak itu.
Mata anak itu seperti matanya sendiri.
"Asha," kata Razka pelan, suaranya tenang tapi pecah di pinggir. "Adikku."
Aira menelan ludah. "Razka, mata saya... mata saya tidak benar-benar mirip. Anda hanya..."
"Aku tahu kau pikir aku berhalusinasi. Mungkin iya. Mungkin tidak." Dia mengusap ujung bingkai dengan jarinya. "Tapi hari di gang itu, ketika aku menatapmu — aku melihat dia. Untuk satu detik. Dan aku tidak bisa menarik pelatuk."
Aira merasa tenggorokannya tersumbat.
"Kenapa Anda menunjukkan ini pada saya?"
Razka menatapnya. Kali ini, tidak ada dinginnya. Tidak ada peringatan. Hanya... kelelahan dan sesuatu yang sangat lembut.
"Karena kau bilang kau mulai melihat aku sebagai orang. Aku ingin kau melihat orang yang sebenarnya — bukan versi yang dirancang oleh keluarga, atau yang dirancang oleh pekerjaan. Hanya... orang ini. Yang masih merindukan adiknya setelah sepuluh tahun. Yang menyimpan kamar kosong karena tidak bisa membuangnya."
Aira tidak bisa menahan. Air matanya jatuh.
"Razka..."
"Jangan. Jangan menangis." Suaranya parau. "Kalau kau menangis, aku tidak tahu harus bagaimana."
Aira tertawa pelan di antara tangisannya. "Anda bos mafia, kan? Anda tahu cara menangani semuanya."
"Tidak ini," bisiknya. "Tidak kau."
Mereka berdiri di kamar kecil itu, dikelilingi sisa-sisa dari kehidupan yang sudah lewat. Dan untuk pertama kalinya, Aira merasa benar-benar melihat Razka.
Bukan culprit. Bukan pelindung. Bukan suami paksa.
Hanya... pria yang patah.
(bersambung...)