Perjalanan pulang dilewati dalam diam.
Aira menatap jendela. Lampu-lampu Jakarta lewat seperti aliran sungai cahaya. Di kepalanya, satu kalimat berulang: kau punya mata yang sama dengan adikku yang meninggal sepuluh tahun lalu.
Dia tidak tahu harus merasakan apa. Lega? Sedih untuk Razka? Marah karena disamakan dengan orang mati? Atau yang paling membingungkan — sentuhan kecil di hatinya yang seperti rasa kasihan?
Sampai di rumah, sudah hampir tengah malam. Bu Marta menyambut mereka di pintu, lalu pamit ke paviliun pegawai.
Razka melepas dasi kupu-kupunya dengan tarikan satu tangan, membuka kancing teratas kemejanya.
"Kau pasti lelah," katanya pelan. "Tidur. Besok kita bicara lagi kalau kau mau."
Aira menatapnya. Pria itu — yang malam ini melindunginya dari dunia, yang menatap Daksa dengan ancaman silent ketika saudaranya menggoda Aira, yang tadi mengaku alasan paling rapuh — sekarang berdiri di tangga dengan bahu yang sedikit turun. Lelah. Manusia.
"Razka."
Dia berhenti, menoleh.
Aira melangkah mendekatinya. Dia tidak tahu kenapa. Atau mungkin dia tahu, tapi belum mau mengakui.
"Adik Anda yang meninggal — siapa namanya?"
Razka diam lama. Lalu menjawab pelan, "Asha. Adik kandungku, dari ibu yang sama. Dia umur tujuh waktu meninggal. Tenggelam di kolam waktu liburan."
"Saya turut berduka."
"Sudah lama."
"Tapi tidak benar-benar lewat, ya?"
Razka mengangkat wajahnya. Mata gelapnya bertemu mata Aira. Untuk sesaat panjang, dia hanya menatap. Lalu suaranya pecah pelan.
"Tidak. Tidak benar-benar lewat."
Aira tidak tahu apa yang merasukinya. Dia mengangkat tangan — perlahan — dan menyentuh pipi Razka. Hanya ujung jarinya. Hanya satu detik.
Razka menahan napas seperti orang yang ditembak. Tubuhnya membeku total.
"Maaf," Aira menarik tangannya, malu. "Saya tidak bermaksud—"
"Jangan minta maaf." Suaranya serak. Sangat serak. "Aira, jangan."
Dia menatap Aira dengan intensitas yang membuat Aira ingin mundur — dan, anehnya, ingin maju.
"Aira," katanya pelan, dan suaranya terdengar seperti peringatan dan permohonan dalam waktu bersamaan, "aku berjanji aku tidak akan menyentuhmu sampai kau memintanya. Tapi kalau kau menyentuhku seperti itu lagi, aku tidak yakin aku bisa menjaga janji itu."
Aira merasakan jantungnya berdebar liar di dadanya.
Sesuatu di dalam dirinya — sesuatu yang seharusnya benci — berkata, lakukan. Tapi suara yang lebih besar, suara yang lebih waras, berkata, jangan. Dia menculikmu. Dia bukan teman.
Dia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
"Selamat malam, Razka."
Dia berbalik, naik tangga ke kamarnya, tidak menoleh lagi. Tapi dia bisa merasakan tatapan Razka di punggungnya sampai dia masuk kamar dan menutup pintu.
Di dalam kamar, Aira bersandar ke pintu, tangan di dada. Jantungnya tidak mau tenang.
"Ini gila," bisiknya pada dirinya sendiri. "Ini benar-benar gila."
Dia mandi air dingin. Dia tidur — atau mencoba — di sisi paling kanan tempat tidur queen size yang terlalu besar untuknya.
Tengah malam, dia masih terjaga. Dia mendengar suara — pelan, dari taman bawah. Dia bangkit dari tempat tidur, mendekati jendela, mengintip dari celah tirai.
Razka. Di taman bawah, masih dengan kemeja putih (dasi sudah dilepas, lengan digulung), duduk di tepi kolam ikan koi dengan rokok di jari. Asapnya naik tipis ke malam. Dia menatap air.
Bahu pria itu tampak kecil dari atas. Jauh lebih kecil dari yang dia sangka.
Aira tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana, hanya menatap. Sampai akhirnya Razka mematikan rokoknya, berdiri, dan berjalan masuk ke rumah. Mungkin tidur di kamarnya sendiri di sayap barat. Mungkin tidak tidur sama sekali.
Aira kembali ke tempat tidurnya. Kali ini, dia tidur di tengah.
Pagi harinya, dia turun untuk sarapan. Bu Marta menatapnya dengan senyum.
"Tuan Razka berangkat pagi sekali tadi, Bu. Tapi beliau meninggalkan ini."
Sebuah amplop kecil. Di dalamnya, satu kunci dan satu kartu nama.
Tulisan tangan Razka, ringkas:
Kunci pintu samping. Pakai kalau ingin pergi ke kafe atau ke kampus tanpa harus melapor lewat pegawai depan. Pengawalmu — Pak Yudha — akan menunggu di mobil di luar pagar dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam. Kau tidak harus bilang ke mana. Tapi kalau kau ingin keluar, dia ikut.
Selamat hari Selasa.
— R.
Aira menggenggam kunci itu erat di tangannya.
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di hatinya. Tapi dia tahu satu hal: Razka mempercayainya — dengan kunci, dengan kebebasan, dengan akses keluar yang mudah.
Dan untuk pertama kalinya sejak dia diculik, Aira tidak yakin lagi siapa yang sedang dijaga di dalam pagar tinggi ini.
(bersambung...)