Setelah malam di kamar Asha, sesuatu berubah di antara mereka. Tidak besar — tidak dramatis — tapi nyata.
Razka mulai pulang lebih awal. Jam delapan, kadang jam tujuh. Mereka makan malam bersama lebih sering. Kadang berbicara — tentang buku yang Aira baca, tentang film yang Razka pernah tonton ketika masih kuliah, tentang ibu Aira di Pekalongan. Tidak pernah tentang pekerjaan Razka. Tidak pernah tentang Pak Edwin yang mati di gang.
Aira tidak tahu apa yang mereka lakukan ini namanya. Pacaran? Tidak. Mereka sudah menikah. Mengenal? Mungkin. Sesuatu yang lebih lembut dari kenyataan brutal yang membawa mereka ke sini.
Pada hari ke-sepuluh, hujan turun lagi.
Aira sedang membaca di perpustakaan, di kursi malas dekat jendela. Razka pulang lebih cepat dari biasanya — jam enam — dengan kemeja putih yang basah karena hujan lupa bawa payung. Dia masuk perpustakaan tanpa mengetuk, mungkin tidak menyangka ada orang di sana.
Mereka saling menatap. Aira menutup bukunya pelan.
"Anda basah."
Razka tertawa pelan, menyeka rambutnya yang menempel di dahi. "Tukang valet hilang. Aku jalan dari mobil ke pintu. Hujan tidak ramah."
"Mau handuk?"
"Tidak perlu. Aku akan ganti baju."
Tapi dia tidak bergerak. Dia berdiri di ambang pintu, menatap Aira yang duduk di kursi malas dengan buku di pangkuan dan rambut tergerai. Cahaya petir di luar menerangi wajah Razka sedikit — mata gelapnya terlihat seperti sumur lagi, tapi kali ini bukan sumur tanpa dasar. Sumur yang penuh sesuatu.
"Apa yang Anda baca?" tanyanya pelan.
"'Cantik Itu Luka' — Eka Kurniawan. Anda pernah baca?"
"Dua kali. Yang kedua waktu di luar negeri, kerinduan rumah."
"Anda kuliah di luar negeri?"
"Beberapa tahun. London. Lalu balik."
Aira meletakkan bukunya di meja samping. "Anda tahu, Razka — kalau saya hanya bertemu Anda di kafe, di hari biasa — saya mungkin akan menyukai Anda."
Kata-kata itu keluar sebelum dia sempat menyaringnya. Dia langsung menundukkan wajah, malu pada dirinya sendiri.
Tapi Razka tidak tertawa. Tidak menggoda. Tidak mendekat juga.
Dia hanya berdiri di sana, menatap Aira dengan ekspresi yang terlalu intens untuk dilukiskan. Hujan menghantam jendela. Petir kedua menerangi ruangan.
Dalam cahaya petir itu, Razka melangkah masuk. Pelan. Setiap langkah seperti pertanyaan — boleh? boleh? boleh? — yang dijawab oleh diam Aira yang tidak menolak.
Dia berhenti di depan kursi Aira. Berlutut, sehingga wajah mereka sejajar. Tangannya — basah, dingin — terangkat, melayang di udara dekat pipi Aira tanpa menyentuh.
"Aira," bisiknya, "aku ingin menciummu. Boleh?"
Aira menatapnya. Otaknya berteriak banyak hal. Tapi hatinya — hatinya yang aneh dan baru ini — hanya berdetak satu kata. Iya.
Dia tidak menjawab dengan suara. Dia menutup matanya pelan, menerima sentuhan tangan Razka di pipinya. Tangannya benar-benar dingin. Hangat dengan cara yang berbeda.
Dan Razka mencium dia.
Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang takut merusak sesuatu yang rapuh. Bibirnya hangat dan pelan dan tidak terburu-buru. Dia tidak menyentuh Aira di tempat lain — hanya tangan di pipi, hanya bibir di bibir.
Aira merasakan air matanya jatuh, dan dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena ini terlalu lembut untuk seseorang yang hidupnya brutal. Mungkin karena dia sadar — dengan kepastian dingin yang sama yang dia rasakan di gang malam itu — bahwa dia sudah jatuh, sedikit, ke dalam pria ini. Pria yang seharusnya dia takuti. Pria yang tetap akan dia takuti, tetapi juga, secara terpisah, pria yang dia sayangi.
Razka menarik diri pelan. Dahinya menempel di dahi Aira. Napasnya tidak teratur.
"Aira," bisiknya, "katakan padaku untuk berhenti."
Aira membuka matanya. Mata gelap Razka sangat dekat. Dia melihat dirinya sendiri di dalamnya.
"Jangan berhenti," bisiknya balik. "Belum."
Razka menutup matanya. Menelan. Lalu menarik napas dalam — kontrol, kontrol — dan menjauhkan wajahnya beberapa senti.
"Kalau aku tidak berhenti sekarang, aku tidak akan berhenti sampai pagi. Dan aku tidak ingin kau menyesal, Aira. Bukan sekarang. Bukan denganku."
Air mata Aira jatuh lebih banyak. Dia tertawa pelan di antara tangisnya. "Anda bos mafia paling menyebalkan yang pernah saya temui."
"Aku tahu."
Dia berdiri, mengulurkan tangannya. Aira menerimanya, berdiri juga.
"Tidur, Aira. Di kamarmu. Sendiri. Karena besok pagi kau masih harus bisa menatap dirimu di cermin tanpa benci."
Aira mengangguk pelan. Tapi sebelum dia berbalik, dia berdiri jinjit dan mencium pipinya — sangat ringan, hanya satu detik.
"Selamat malam, Razka."
"Selamat malam, Aira."
Dia keluar perpustakaan, naik ke kamarnya, tidur sendirian di tempat tidur queen size yang tidak lagi terasa terlalu besar.
Tapi di luar, di taman, Razka berdiri dalam hujan yang masih turun, dengan satu tangan di mulut, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun — sejak Asha tenggelam — bahunya bergetar pelan dengan sesuatu yang mirip tangis tapi bukan tangis.
Dan jauh, di sudut tergelap halaman, di balik pohon mangga tua, sepasang mata mengintip mereka.
Mata yang dia tidak akan kenali sampai sudah terlambat.
(bersambung...)