Razi kembali ke Jakarta dengan langkah yang berbeda. Lebih ringan. Lebih pasti.
Kata-kata nenek terus mengiang: jujur dan berusaha, itu saja. Ia tidak lagi mencoba menjadi bayangan para pendahulunya. Sebaliknya, ia bertanya pada dirinya pertanyaan yang lebih jujur: apa yang bisa aku, Razi, berikan kepada Pondok Indah yang tidak bisa diberikan orang lain?
Jawabannya datang dengan jernih. Ia adalah peneliti. Ia tahu betapa sulitnya bagi anak muda dari latar belakang miskin untuk masuk ke dunia penelitian, sama seperti Aira dulu — mahasiswi miskin yang nyaris kehilangan masa depannya. Dan ia tahu misi inti keluarganya: membuka pintu bagi generasi.
Maka Razi mengumpulkan dewan dan mengajukan gagasan besar.
"Pondok Indah akan membuka program fellowship," katanya, suaranya kini mantap tanpa keraguan. "Untuk peneliti muda — dari keluarga besar kita maupun dari luar. Terutama dari komunitas yang selama ini terpinggirkan. Mereka yang tidak punya akses, tidak punya modal, tapi punya cerita dan tekad. Yayasan menanggung seluruh biayanya."
Ruangan hening. Lalu seorang anggota dewan tua bertanya, "Kenapa kita biayai orang luar keluarga, Razi?"
Razi tersenyum. "Karena itulah inti dari semua ini. Razka dan Aira tidak membangun rumah ini untuk dirinya sendiri. Mereka membukanya. Kafe Aira menampung perempuan yang tak punya tempat. Razka melindungi yang lemah. Misi kita bukan menjaga harta keluarga — tapi membuka pintu bagi yang di luar pintu."
Ia menatap satu per satu anggota dewan. "Aira dulu adalah anak muda miskin yang nyaris tak punya kesempatan. Bagaimana kalau ada Aira-Aira lain di luar sana sekarang, menunggu sebuah pintu terbuka? Bukankah itu cara terbaik menghormatinya?"
Keheningan berubah menjadi anggukan. Lalu tepuk tangan.
Program itu disetujui. Razi menamainya Fellowship Pintu Terbuka.
Berbulan-bulan kemudian, lima peneliti pertama tiba di Pondok Indah. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda: seorang anak nelayan dari pesisir yang meneliti budaya bahari, seorang perempuan dari kampung kumuh kota yang mempelajari ketahanan komunitas miskin, seorang penyandang disabilitas yang mendokumentasikan sejarah lisan, seorang anak transmigran, dan seorang keturunan keluarga sendiri yang ingin meneliti diaspora.
Razi menyambut mereka di pekarangan, di bawah pohon mangga generasi ketujuh yang kini sudah setinggi bahunya.
"Selamat datang," katanya. "Rumah ini dulu dibangun oleh dua orang yang awalnya tak punya apa-apa selain satu sama lain. Mereka percaya setiap aksara sebuah dunia — bahwa setiap orang, setiap cerita, berharga. Sekarang, dunia kalian akan menjadi bagian dari rumah ini. Tulislah. Telitilah. Dan suatu hari, bukalah pintu untuk orang setelah kalian."
Lima wajah muda itu memandangnya dengan mata berbinar. Razi merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Inilah, akhirnya, makna memimpin.