Rumah itu kecil dan teduh, dengan pekarangan penuh tanaman dalam pot dan seekor kucing tua yang tidur di kursi rotan.
Nenek menyambut Razi seakan sudah menunggunya bertahun-tahun. Tubuhnya ringkih, rambutnya seputih kapas, tapi matanya — mata itu tajam dan hangat, sama persis seperti mata Mims.
"Razka XII," katanya, menyebut nama lengkap Razi dengan senyum. "Akhirnya kau datang juga. Mims pernah cerita tentangmu. Katanya, ada anak muda di keluarga kita yang terlalu keras pada dirinya sendiri."
Razi tertegun. Lalu, entah bagaimana, segalanya tumpah. Ia bercerita tentang beban kepemimpinan, tentang keraguannya, tentang ketakutannya bahwa ia tak cukup bijaksana, tak cukup hangat, tak cukup seperti para pendahulunya. Nenek mendengarkan dengan sabar, menuangkan teh, tidak menyela.
Ketika Razi selesai, nenek itu diam sejenak. Lalu ia menggenggam tangan Razi dengan jemarinya yang keriput.
"Sayang, dengarkan Eyang baik-baik," katanya pelan. "Kau pikir leluhur kita itu sempurna? Razka itu dulu penjahat. Aira itu dulu perempuan yang ketakutan dan marah. Mims, kakakku itu, dulu keras kepala minta ampun, sering salah, sering jatuh."
Razi mengangkat wajah.
"Mereka jadi besar bukan karena sempurna. Mereka jadi besar karena terus berusaha, jujur pada diri sendiri, dan tidak menyerah waktu salah. Itu saja rahasianya. Tidak ada yang lain."
Nenek mengusap punggung tangan Razi.
"Kau tidak perlu sepintar Razka. Kau tidak perlu setulus Aira. Itu dunia mereka, dan dunia mereka sudah selesai. Kau hanya perlu jujur dan berusaha. Itu saja, Sayang. Generasi kami sudah melakukan yang terbaik dengan zaman kami. Sekarang giliran kalian — bukan untuk menyamai kami, tapi untuk melanjutkan dengan integritas kalian sendiri."
Sesuatu pecah di dalam dada Razi. Air mata yang sudah lama ia tahan — sejak Mims meninggal, sejak ia menerima jabatan, sejak ia mulai meragukan dirinya — akhirnya tumpah. Ia menangis seperti anak kecil di hadapan nenek tua itu, dan nenek itu membiarkannya, mengusap kepalanya dengan lembut.
"Menangis itu bagus," kata nenek. "Itu artinya hatimu masih hidup. Lihat? Kau bilang takut kehilangan sentuhan manusiawi. Tapi orang yang sudah kehilangan hati tidak akan menangis seperti ini."
Razi tertawa di sela tangisnya.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, beban di dadanya terangkat. Ekspektasi untuk menjadi sempurna — ekspektasi yang ia bebankan sendiri pada dirinya — lepas. Ia tidak perlu menjadi Razka. Tidak perlu menjadi Aira. Ia hanya perlu menjadi Razi, sebaik yang ia bisa.
Dan itu, ternyata, sudah lebih dari cukup.