Lima tahun berlalu.
Pohon mangga generasi ketujuh kini setinggi empat meter. Daun-daunnya rimbun, dan musim ini — untuk pertama kalinya — ia berbuah. Buah-buah hijau kecil bergelantungan di antara dedaunan, janji manis yang sebentar lagi matang.
Razi datang ke Pondok Indah di akhir pekan itu membawa anak-anaknya — generasi kedelapan dari garis Razka dan Aira. Tiga anak, yang bungsu baru berusia enam tahun.
Mereka menginap di rumah warisan, seperti yang selalu dilakukan keluarga ini turun-temurun. Razi sengaja menidurkan anak-anaknya di kamar yang sama tempat Razka dan Aira pernah tidur, tujuh puluh lima tahun lalu — kamar tempat dua orang asing yang dipaksa menikah perlahan belajar saling mencintai.
Malam itu, sebelum tidur, si bungsu menarik lengan baju Razi.
"Ayah," bisiknya, menunjuk ke jendela tempat siluet pohon mangga tampak di bawah bulan, "pohon ini akan jadi pohon tua?"
Razi duduk di tepi ranjang, kalimat itu menggema dari masa lalunya sendiri, dari kalimat yang dulu ia ucapkan kepada kakeknya, dan kakeknya kepada kakeknya, jauh ke belakang melewati generasi.
"Ya, Sayang," jawab Razi lembut. "Seperti leluhur kita. Pohon ini akan tumbuh tinggi, lalu menua, lalu suatu hari akan jatuh."
Mata si bungsu meredup sedih.
"Tapi dengarkan Ayah," lanjut Razi cepat, mengusap rambut anaknya. "Dulu, sebelum pohon yang lama mati, pohon baru sudah tumbuh. Ayah menanam pohon ini sebelum kamu lahir. Dan suatu hari, kamu akan menanam pohon baru lagi, sebelum pohon ini jatuh. Begitu terus. Tidak pernah benar-benar berakhir."
Anak itu memikirkannya sejenak, dahi kecilnya berkerut. Lalu ia tersenyum, puas.
"Jadi selalu ada pohon," katanya.
"Iya, Sayang. Selalu ada pohon."
Esok paginya, mereka turun ke pekarangan bersama-sama. Embun masih menempel di rumput. Burung-burung berkicau di dahan-dahan. Mereka duduk melingkar di bawah pohon mangga generasi ketujuh, di tanah yang sama tempat tujuh pohon telah tumbuh dan enam telah jatuh, tempat delapan generasi telah lahir, sebagian pergi dan sebagian masih tumbuh.
Anak-anak menatap Razi, menunggu.
Dan Razi mulai bercerita.
"Dulu sekali," katanya, suaranya hangat seperti matahari pagi, "ada seorang lelaki bernama Razka, dan seorang perempuan bernama Aira. Mereka tidak saling kenal. Mereka dipaksa menikah. Awalnya mereka saling takut, bahkan saling benci. Tapi pelan-pelan..."
Anak-anak mendekat, mata mereka berbinar — sama seperti mata Razi dulu, sama seperti mata generasi-generasi sebelumnya yang pernah duduk di tempat ini dan mendengar kisah yang sama.
Di atas mereka, daun-daun pohon mangga muda bergoyang lembut. Buah-buah hijau bergelantungan, hampir matang. Dan kisah itu mengalir, dari mulut ke telinga, dari satu generasi ke generasi berikutnya, persis seperti yang pernah diucapkan kepada Razi bertahun-tahun lalu.
Cerita berlanjut. Pohon berkembang. Aksara ditulis.
Setiap aksara sebuah dunia.
— TAMAT —