Memimpin ternyata jauh lebih berat daripada yang Razi bayangkan.
Bulan-bulan pertama dipenuhi keputusan tak berkesudahan. Anggaran yayasan, sengketa tanah dengan pengembang yang ingin membeli kawasan sekitar, konflik antar-cabang keluarga tentang arah masa depan, permintaan wawancara, undangan acara. Razi, yang terbiasa dengan kesunyian ruang arsip, kini tenggelam dalam keramaian.
Tapi yang paling menggerogotinya bukan kesibukan. Melainkan keraguan.
Suatu malam, setelah rapat yang melelahkan, ia duduk sendiri di kantornya. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali, lebih tajam dari sebelumnya.
Apakah aku cukup bijaksana untuk ini?
Para pendahulunya begitu besar. Razka mengubah dunia di sekitarnya dengan kehadiran. Aira menyembuhkan orang dengan kelembutan. Mereka punya sesuatu yang Razi takut tak ia miliki — sentuhan manusiawi yang alami, kehangatan yang tak dipelajari dari buku.
Apakah penelitianku justru membuatku kehilangan itu? pikirnya. Aku tahu segalanya tentang keluarga ini dari dokumen. Tapi apakah aku tahu cara mencintai seperti mereka? Apakah aku terlalu sibuk menganalisis cerita sampai lupa cara merasakannya?
Keraguan itu tumbuh menjadi krisis. Razi merasa seperti penipu — peneliti yang berpura-pura menjadi pemimpin, kepala yang mencoba menggantikan hati.
Ia memutuskan untuk pergi.
Tanpa banyak berkata, ia meninggalkan Jakarta dan menyepi ke Yogyakarta. Kota tua dengan ritme yang lebih pelan, tempat sebagian leluhurnya pernah tinggal. Ia mengunjungi makam Reza dan Indira — leluhur generasi keduanya — di pemakaman keluarga yang teduh oleh pepohonan.
Ia berdiri lama di sana, membaca nama-nama di batu nisan yang sudah mulai lumutan. "Aku tidak tahu apa yang kulakukan," bisiknya pada batu itu. "Aku takut mengecewakan kalian semua."
Angin Yogyakarta yang lembut bertiup, membawa aroma melati dari sesajen di makam sebelah.
Saat hendak meninggalkan pemakaman, seorang penjaga makam tua menyapanya. "Cari siapa, Mas?"
"Keluarga," jawab Razi. "Leluhur saya."
Wajah penjaga itu berubah cerah. "Oh! Keluarga Pondok Indah? Kalau begitu Mas harus ketemu Eyang. Beliau masih hidup, lho. Sudah sembilan puluh dua tahun, tapi masih cerdas, masih hangat. Beliau saudara dari almarhumah Bu Mims. Rumahnya tidak jauh dari sini."
Razi terpaku. Ia mengira generasi keenam sudah habis ketika Mims pergi. Tapi ternyata masih ada satu — seorang nenek, saudara Mims, survivor yang luput dari perhitungannya.
Jantungnya berdebar. Tanpa pikir panjang, ia meminta penjaga itu menunjukkan jalan.