Undangan itu datang dalam bentuk surat resmi, tapi yang menyerahkannya adalah seorang nenek tua dengan tangan gemetar.
Dewan yayasan Pondok Indah meminta Razi menjadi ketua. Posisi yang dulu dipegang Razka sendiri di masa hidupnya, lalu Reza, lalu Sara, lalu Cara, lalu Lira, lalu Mims. Sebuah garis kepemimpinan yang membentang lebih dari setengah abad.
Razi membaca surat itu di beranda, dan tangannya ikut gemetar.
"Kenapa aku?" tanyanya kepada nenek yang menyerahkannya. "Aku peneliti. Aku terbiasa dengan dokumen, bukan dengan orang. Aku pernah membuat skandal yang hampir mempermalukan keluarga."
Nenek itu tersenyum. "Justru karena itu, Sayang. Kau pernah jatuh, lalu bangun dengan cara yang benar. Kau tahu rasanya salah. Itu membuatmu rendah hati. Dan rendah hati adalah syarat pertama seorang pemimpin yang baik."
Razi terdiam.
"Setiap generasi membawa kekuatannya sendiri," lanjut nenek itu. "Razka membawa kekuatan untuk berubah. Aira membawa kekuatan untuk mencintai. Sara membawa kata-kata. Cara membawa bangunan. Mims membawa panggung. Dan kamu, Razi — kamu membawa kemampuan untuk memahami, untuk meneliti, untuk merawat cerita dengan teliti. Itu yang Pondok Indah butuhkan di era ini."
Malam itu Razi tak bisa tidur. Ia berjalan menyusuri rumah, menyentuh dinding-dinding tua, berhenti di setiap foto leluhur. Wajah Razka yang tegas namun teduh. Wajah Aira yang lembut namun kuat. Mereka seakan menatapnya dari bingkai.
"Apakah aku layak?" bisiknya.
Tidak ada jawaban, tentu saja. Tapi saat ia berdiri di depan jendela menghadap pekarangan, ia melihat pohon mangga generasi ketujuh — pohon yang ia tanam dengan tangannya sendiri — berdiri tegak di bawah cahaya bulan. Kecil, tapi kokoh. Muda, tapi tumbuh.
Pohon itu juga tidak bertanya apakah ia layak menggantikan pendahulunya. Ia hanya tumbuh, sebaik yang ia bisa, di tanah yang sama.
Pagi harinya, Razi menerima undangan itu.
Saat ia menandatangani dokumen penerimaan di hadapan dewan, ada keheningan khidmat di ruangan. Lalu seorang anggota tertua berdiri dan berkata, "Untuk pertama kalinya, Pondok Indah dipimpin oleh seorang peneliti. Generasi yang mendokumentasikan, kini memimpin. Mungkin inilah yang dibutuhkan dunia yang kebanjiran informasi tapi kelaparan makna."
Razi merasakan beban tanggung jawab itu turun ke bahunya, berat seperti karung pasir yang dulu mereka tumpuk melawan banjir. Tapi di samping beban itu, ada juga sesuatu yang lain.
Harapan. Optimisme yang tenang. Keyakinan bahwa, dengan kejujuran dan usaha, ia bisa membawa rumah ini ke era baru.