Surel itu datang dari seorang sutradara internasional ternama. Ia ingin membuat film tentang Razka dan Aira.
Keluarga berkumpul untuk membahasnya — kali ini tanpa pertengkaran seperti dulu, melainkan dengan diskusi yang matang. Mereka sudah belajar dari pengalaman.
"Film akan mengubah cerita," kata Razi membuka pembicaraan. "Itu harus kita terima sejak awal. Film bukan dokumen. Film menambah drama, memadatkan tahun-tahun menjadi dua jam, menciptakan adegan yang mungkin tak pernah terjadi persis seperti itu."
"Lalu kenapa kita harus setuju?" tanya seorang sepupu.
"Karena film menjangkau orang yang tak akan pernah membaca arsip kita," jawab Razi. "Seorang remaja di desa terpencil mungkin tak akan membuka situs museum kita. Tapi dia mungkin menonton film. Dan dari film itu, dia bisa terinspirasi, bisa mencari tahu lebih dalam."
Diskusi berlangsung panjang. Ada yang khawatir Razka akan digambarkan terlalu romantis, kekerasannya dipoles. Ada yang takut Aira ditampilkan sebagai korban lemah, bukan perempuan tangguh yang sebenarnya. Ada yang cemas Pondok Indah akan jadi sekadar latar eksotis tanpa jiwa.
Razi mendengarkan semua kekhawatiran. Lalu ia merumuskan sebuah syarat.
"Kita setuju," katanya, "tapi dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar. Sebelum menulis skenario, produser dan sutradara harus datang ke Pondok Indah. Bukan sehari. Mereka harus tinggal. Berjalan di pekarangan ini. Menyentuh pohon mangga. Membaca arsip. Mendengar kami bercerita langsung. Mereka harus memahami jiwa tempat ini sebelum mengarang adegan tentangnya."
Keluarga setuju bulat.
Beberapa minggu kemudian, sang sutradara datang. Seorang perempuan paruh baya dengan mata yang tajam tapi hangat. Ia tinggal seminggu penuh di Pondok Indah. Razi mendampinginya, menunjukkan setiap sudut, menceritakan setiap kisah.
Mereka duduk berjam-jam di bawah pohon mangga generasi ketujuh. Razi menceritakan tentang Razka yang meninggal dengan damai di ayunan pohon mangga, tentang Aira dan kafe-nya, tentang boneka beruang dan surat yang dibawanya melintasi generasi.
Di hari terakhir, sang sutradara berkata pelan, "Aku datang ke sini berpikir akan membuat film tentang mafia dan pernikahan paksa. Sebuah kisah cinta yang dramatis."
"Dan sekarang?" tanya Razi.
Perempuan itu menatap pohon mangga yang muda. "Sekarang aku sadar ini bukan tentang mereka berdua saja. Ini tentang sebuah pohon yang terus ditanam ulang. Tentang pintu yang terus dibuka. Aku akan mencoba menangkap itu — meski aku tahu kamera tak akan pernah sepenuhnya bisa."
Razi tersenyum. "Itu sudah cukup. Berusaha dengan jujur — itu sudah cukup."