Mereka tidak langsung pulang ke rumah Pondok Indah.
"Ada satu pertemuan terakhir," kata Razka dalam mobil. Tangannya yang tadi memegang setir kini diam. Dia menatap ke depan, ekspresinya kembali ke versi datar yang dia pakai di hadapan dunia. "Maaf. Aku tidak bisa menundanya."
"Pertemuan apa?"
"Saudaraku. Sebenarnya saudara tiri. Anak istri kedua ayahku, dari pernikahan setelah ibuku meninggal."
Aira menoleh. Ini informasi baru. "Anda punya saudara?"
"Sayangnya," Razka menjawab pelan. "Namanya Daksa. Empat tahun lebih muda. Dia juga akan datang malam ini — atau lebih tepatnya, dia tahu aku di sini, dan kalau aku tidak menemuinya, dia akan menganggap itu deklarasi perang."
"Perang antara saudara?"
Razka tertawa pelan, getir. "Antara penerus. Sejak ayahku menetapkan aku sebagai pewaris utama tahun lalu, Daksa belum pernah benar-benar menerima itu. Dia... ambisius. Dengan caranya sendiri."
Aira diam, mencerna.
Mobil berhenti di depan sebuah penthouse di Senopati. Resepsionis hotel bintang lima yang dimodifikasi jadi tempat tinggal eksklusif. Lift pribadi membawa mereka ke lantai paling atas.
Pintu lift terbuka langsung ke ruang tamu yang luas dengan dinding kaca menghadap Jakarta malam hari. Di sofa kulit putih, seorang pria muda duduk dengan kaki disilangkan, sambil menyalakan rokok tipis.
Wajahnya mirip Razka — garis rahang yang sama, mata yang sama gelap. Tapi di mana Razka memiliki ketenangan dingin yang membuat orang takut, Daksa memiliki senyum yang membuat orang waspada. Lebih muda. Lebih cantik. Lebih... berbahaya dengan cara yang berbeda.
"Akhirnya," Daksa berkata, mengembuskan asap ke arah langit-langit. "Kakak tercinta datang juga. Dan ini — ini pasti istri barumu yang sangat dirahasiakan."
Daksa berdiri, berjalan menuju mereka dengan langkah santai. Mata coklat madunya menatap Aira — bukan dengan dingin seperti Razka pertama kali, tapi dengan ketertarikan yang menyala. Seperti pemburu yang menemukan sesuatu yang baru.
"Aira, ya?" Dia mengulurkan tangan. Aira menjabatnya — tangan Daksa hangat, terlalu hangat. Dia menahan jabatannya lebih lama dari sopan. "Kau jauh lebih cantik dari foto yang kudapat."
"Daksa," suara Razka rendah, peringatan. "Lepaskan tangannya."
Daksa tersenyum, melepaskan dengan santai. "Cemburu? Manis. Bagaimana perasaannya, akhirnya merasakan emosi manusia, Kak?"
Aira merasakan Razka tegang di sebelahnya.
"Kenapa kau memanggil aku?" Razka bertanya datar.
Daksa berjalan kembali ke sofa, duduk dengan satu kaki di atas yang lain. Dia menepuk tempat di sebelahnya. "Duduk. Kalian berdua. Aku tidak menggigit."
"Aku berdiri."
"Suit yourself." Daksa menyeruput wine-nya. "Aku panggil kau karena ada masalah di pelabuhan Tanjung Priok. Pengiriman terakhir kita — dua kontainer tidak masuk hitungan. Pegawai lapangan bilang kontainer hilang. Aku bilang itu bullshit. Ada yang mengambil."
Razka berhenti tegang. Aira merasakan perubahan itu — dari diam menjadi sangat-sangat fokus.
"Berapa nilainya?"
"Cukup untuk membuat ayah pusing kalau dia tahu."
"Siapa yang kau curigai?"
Daksa tersenyum lambat. "Aku punya beberapa nama. Tapi itu pembicaraan untuk berdua. Tanpa..." Dia memberikan gelombang malas ke arah Aira. "Tanpa publik."
"Aira bukan publik. Dia istriku."
"Istri yang baru kau nikahi seminggu lalu, secara mendadak, tanpa undangan keluarga, di rumahmu sendiri. Kak, jangan main-main." Daksa menatap Aira lurus, dan untuk pertama kalinya senyumnya hilang. Matanya sangat tajam. "Aku juga punya intel, Kak. Aku tahu kapan kau menikahinya. Aku tahu di mana kau bertemu dia — atau lebih tepatnya, di mana dia menyaksikan Pak Edwin."
Aira merasa darahnya mengalir keluar dari wajahnya.
Razka tidak menjawab. Tidak memberi reaksi. Tapi Aira merasakan tangannya — yang sekarang berada di punggungnya — sedikit mengeras.
"Jadi," Daksa melanjutkan ringan, "pertanyaanku, Kak: ini pernikahan demi melindungi saksi, atau ada sesuatu yang lebih? Karena kalau cuma untuk melindungi saksi, ada cara yang lebih bersih. Lebih efisien."
"Daksa."
"Ya?"
"Diam."
Satu kata, dengan suara yang sangat pelan, tapi membawa berat seribu mayat.
Daksa diam. Dia tertawa kecil, mengangkat tangan. "Oke, oke. Aku diam. Tapi Kak, satu hal — mainan baru ini cantik. Hati-hati ya. Ada banyak orang yang akan tertarik. Termasuk aku."
Mata Razka berkilat — sesuatu yang gelap, sesuatu yang berbahaya — tapi dia tidak menjawab. Dia hanya membalik tubuh, tangannya masih di punggung Aira, dan menggiringnya menuju lift.
"Kita selesai," katanya tanpa menoleh.
"Aku akan kirim datanya besok!" Daksa berseru. "Dan Aira — kalau kau bosan dengan kakakku yang dingin, kau tahu di mana mencari aku."
Pintu lift menutup. Aira menahan napas yang dia tidak sadar dia tahan.
Di dalam lift, Razka berhenti. Tangannya turun dari punggung Aira, dan dia menatap wanita itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku minta maaf," katanya pelan. "Kau tidak seharusnya bertemu Daksa malam ini."
Aira menatapnya. Untuk pertama kalinya, dia tidak melihat pembunuh dingin di hadapannya. Dia melihat seseorang yang lelah.
"Razka," suaranya pelan, "saya sudah memutuskan pertanyaan yang ingin saya tanyakan."
"Ya?"
"Bukan tentang Selena. Bukan tentang Daksa. Tentang Anda."
Lift terus turun. Razka menunggu.
"Kenapa Anda tidak membunuh saya malam itu di gang? Anda bilang ada alasan pribadi. Saya mau tahu alasannya."
Razka menutup matanya sebentar. Lalu membukanya lagi, dan menatap Aira dengan tatapan yang membuat sesuatu di dada Aira pecah pelan.
"Karena kau menatap mataku," katanya. "Dan kau punya mata yang sama dengan adikku yang meninggal sepuluh tahun lalu."
Pintu lift terbuka. Tapi Aira tidak bisa bergerak.
(bersambung...)