Beberapa bulan setelah pohon generasi ketujuh ditanam, Mims pergi.
Ia meninggal dalam tidurnya, di usia sembilan puluh empat tahun, dengan wajah setenang air kolam di pagi hari. Tidak ada rasa sakit, tidak ada perjuangan. Hanya tidur yang perlahan menjadi keabadian. Cucu yang menemukannya pagi itu bercerita bahwa di wajah Mims tersirat senyum samar, seolah ia bermimpi indah.
Berita itu mengguncang dunia teater Indonesia. Mims — sutradara legendaris, perempuan yang selama tujuh dekade menghidupkan panggung-panggung di seluruh negeri — telah tutup usia. Surat kabar memuat halaman penuh. Para aktor, penulis, dan sutradara muda berdatangan ke Pondok Indah untuk memberi penghormatan terakhir. Banyak yang menangis di depan foto Mims, mengaku karier mereka lahir dari bimbingannya.
Tapi di antara keluarga, ada kesadaran lain yang lebih sunyi dan menggetarkan.
Razi menyadarinya saat berdiri di pemakaman, memandang wajah-wajah di sekelilingnya. Mims adalah yang terakhir. Yang terakhir dari generasi keenam. Yang terakhir yang sempat duduk di pangkuan generasi yang masih mengenal langsung kisah-kisah lama, yang ingatannya membentang ke masa-masa awal rumah ini.
Sekarang, generasi tertua yang masih aktif... adalah generasi Razi sendiri.
Pulang dari pemakaman, Razi duduk lama di beranda Pondok Indah, di kursi yang dulu sering diduduki Mims. Teh yang dibuatnya mendingin tak tersentuh.
Selama ini selalu ada yang lebih tua. Selalu ada Mims untuk dimintai nasihat, untuk berkata "Nenek pernah mengalaminya, Sayang." Selalu ada tangan yang lebih berpengalaman untuk dipegang ketika ia ragu.
Sekarang tangan-tangan itu telah pergi. Dan tangan yang harus dipegang oleh generasi setelahnya... adalah tangannya sendiri.
Seorang sepupu seusianya duduk di sampingnya, sama termenungnya. "Aneh, ya," gumam sepupu itu. "Rasanya baru kemarin kita anak kecil yang lari-lari di pekarangan ini, dimarahi karena memetik mangga sebelum matang."
"Iya," jawab Razi pelan. "Dan sekarang kita yang harus menjaga pohonnya."
Mereka diam. Di pekarangan, bibit mangga generasi ketujuh bergoyang di angin sore, masih kecil, masih rapuh.
Razi menatapnya lama. Pohon yang baru ditanam itu kini terasa seperti cermin: keduanya, pohon dan dirinya, harus tumbuh ke ketinggian yang belum pernah mereka capai, tanpa naungan dari yang lebih tua di atas mereka.
Warisan kini sepenuhnya di tangan mereka. Dan untuk pertama kalinya, Razi benar-benar memahami berat dari kata "warisan" itu.